Kanya tak bisa menyembunyikan senyumnya sejak keluar dari gedung apartemen. Ia begitu tak sabar untuk bertemu dengan cucu Bu Amirah. Dengan langkah semangat ia berjalan beriringan dengan Bu Amirah yang tertawa pelan melihat tingkahnya. Benar-benar seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat dunia luar.
"Maaf, ya, kamu harus ikut jalan kaki seperti ini. Apalagi dengan cuaca yang sedang panas-panasnya."
Kepala Kanya menggeleng dengan cepat menampik ucapan Bu Amirah. "Tidak apa-apa, Bu, aku sudah terbiasa seperti ini. Lagipula, jalan kaki itu bagus untuk kesehatan."
"Syukurlah, sekolahnya juga tidak terlalu jauh. Ibu sengaja menyekolahkan cucu ibu dekat daerah sini supaya lebih mudah menjemputnya saat pulang." Bu Amirah mengarahkan pandangannya pada sebuah bangunan sekolah yang tinggal beberapa langkah dari posisi mereka. "Itu dia sekolahnya. Ayo."
Kanya mengikuti langkah kaki Bu Amirah yang semakin cepat, sambil memperhatikan gedung sekolah yang terdapat banyak anak-anak yang berhamburan keluar dari gerbang bersama orang tua mereka. Dapat ia lihat Bu Amirah sudah berbicara dengan anak perempuan yang tersenyum lebar melihat kehadiran Bu Amirah di sana. Ia berjalan mendekat dengan pelan saat cucu Bu Amirah menatap ke arahnya dengan ekspresi bertanya.
Bu Amirah menggandeng tangan cucunya dengan wajah penuh kebahagiaan. Ia menatap cucunya dengan lembut. "Ini kakak Kanya, dia ingin berteman dengan Rara."
Kanya sedikit membungkukkan tubuhnya agar lebih mudah menatap wajah Rara, cucu Bu Amirah, yang memandanginya dengan mata bulatnya yang lucu. "Hai, Rara mau, kan, berteman dengan kakak?"
Rara tidak langsung menjawab, ia menganggukkan kepalanya ragu-ragu sambil sesekali melirik pada neneknya yang memberinya tatapan meyakinkan. Walau bagaimanapun, ini pertama kalinya ia bertemu dengan Kanya dan ia termasuk anak yang pemalu dengan orang baru.
Melihat anggukan kepala Rara, Kanya kembali menegakkan tubuhnya. Ia balik menatap Bu Amirah yang memandanginya.
"Dia memang agak pemalu dengan orang baru, tapi secepatnya dia pasti akan menerimamu dengan senang hati."
Kanya tersenyum. "Tidak apa-apa, aku bisa memakluminya."
*****
Mata Kanya sibuk berkeliling memandangi rumah Bu Amirah. Sejak ia memasuki rumah itu, kesan pertama yang ia dapat adalah rumah yang hangat dan mengingatkannya dengan rumahnya yang dulu. Sambil menunggu Bu Amirah menyiapkan minuman untuknya, ia berjalan mendekati sebuah rak lemari yang di atasnya terdapat sebuah foto keluarga. Hanya Bu Amirah dan Rara yang ia kenali di sana, selebihnya ia hanya bisa menebak bahwa laki-laki dan perempuan dewasa yang juga ada di foto itu adalah ayah dan ibu Rara.
Saat masih memusatkan perhatiannya pada foto keluarga itu, Kanya bisa merasakan sepasang mata yang memperhatikannya. Ia menoleh pada pintu yang menghubungkan dapur dan ruang tamu, di sana ada Rara yang menatapnya sambil memeluk boneka Barbie-nya dengan erat. Tatapan matanya seolah ingin bermain dengan Kanya dan memperkenalkan boneka kesayangannya.
Kanya yang menangkap arti dari tatapan itu mengangkat tangannya dan menyuruh Rara untuk mendekat padanya. "Itu boneka kesayangan Rara? Siapa namanya?" tanyanya sesaat setelah Rara berdiri di depannya.
Gadis kecil itu mengangguk seraya mengangkat bonekanya tinggi-tinggi agar Kanya bisa melihatnya dengan mudah. "Ini boneka yang diberikan oleh mama dan papa di hari ulang tahun Rara. Namanya Tuan Putri."
Kanya tak bisa menyembunyikan senyumnya melihat tingkah menggemaskan Rara yang begitu antusias memamerkan boneka kesayangannya. "Namanya Tuan Putri, ya. Boleh kakak pegang sebentar?"
Rara mengangguk dan menyerahkan bonekanya. "Boleh, jadi kakak bisa berkenalan dengan Tuan Putri."
"Siapa yang memberikannya nama?"
"Papa yang memberikannya. Karena papa bilang dia cantik seperti Tuan Putri. Rara juga cantik seperti Tuan Putri."
Kekehan pelan meluncur dari bibir tipis Kanya. Ia tak bisa menahan tawanya saat mendengar ucapan penuh percaya diri yang dilontarkan anak berusia lima tahun di hadapannya, meksipun ia tahu gadis kecil itu mengatakannya tanpa berniat menyombongkan diri. Setelah Kanya perhatikan dengan seksama, Rara memanglah cantik dengan mata bulat dan pipinya yang tampak penuh. Kulit putihnya yang merona dan rambut panjangnya yang indah. Gadis kecil itu mengambil gen dari ibunya yang cantik tak ubahnya seorang artis tanah air.
"Rara memang cantik seperti Tuan Putri, begitu juga dengan Tuan Putri."
Mata bulat Rara semakin berbinar mendengar ucapan Kanya. Ia tersenyum lebar yang menampilkan giginya yang tersusun rapi. "Kakak juga cantik seperti Tuan Putri."
*****
Bu Amirah tak sadar ia menghabiskan waktu berapa lama menyediakan minuman dan cemilan di dapur. Saat ia menuju ruang tamu dengan nampan di tangannya, ia melihat Kanya dan Rara yang sedang asyik berkutat dengan kertas dan pensil warna di atas meja. Keduanya tampak asyik berbicara tanpa adanya rasa canggung di antara mereka. Padahal ia yakin Rara masih takut-takut berbicara dengan Kanya sejak ia meninggalkan mereka berdua menuju dapur. Hal itu membuatnya cukup yakin bahwa ia meninggalkan mereka cukup lama.
Ia meletakkan nampan di atas meja yang segera mungkin menarik perhatian Kanya dan Rara. Rara yang pertama kali berseru riang sambil mengambil sepotong cookies dan memakannya dengan lahap.
"Kue buatan nenek sangat enak!" seru gadis kecil itu sembari mengambil sepotong cookies lagi.
"Makannya pelan-pelan, Rara. Tuh, tersedak, kan jadinya." Bu Amirah segera mengambil gelas berisi cokelat hangat untuk Rara yang langsung meminumnya, kemudian mengelap bibir gadis kecil itu yang penuh dengan remahan cookies. Selanjutnya ia menatap Kanya yang terdiam menyakitkan interaksinya dengan cucunya itu. "Kamu juga jangan segan untuk menikmati teh dan cookies-nya. Maaf, cuma ini yang bisa ibu sajikan."
"Ini sudah lebih dari cukup, Bu." Kanya mengambil sepotong cookies dan memakannya. "Ini enak sekali. Seperti biasa, masakan ibu tidak pernah mengecewakan." Ia mengangkat jempolnya secara refleks yang kemudian diikuti oleh Rara. Setelahnya mereka berdua langsung tertawa bersamaan. Mereka benar-benar terlihat sangat akrab sekarang.
Melihat pemandangan itu membuat Bu Amirah tersenyum haru. Ia benar-benar senang melihat interaksi Kanya dan Rara yang tak ubahnya seperti keluarga. Ia bersyukur mempertemukan mereka berdua.
*****
Kanya memasuki kamarnya dengan senyum tak lepas dari wajahnya. Hari ini ia benar-benar senang bisa berkunjung ke rumah Bu Amirah dan mengenal cucunya yang lucu dan periang. Sedikitnya ia bisa melihat sosok dirinya sewaktu kecil dulu di dalam diri Rara. Gadis kecil itu benar-benar mengingatkannya dengan masa kecilnya.
Ia meletakkan tasnya di atas ranjang kemudian membaringkan tubuhnya. Pandangannya menerawang menatap langit-langit kamar sambil mengingat kembali saat ia dan Rara asyik menggambar, yang tidak satu pun dari mereka berdua yang handal dengan hal itu. Ia tak bisa menahan tawanya saat mengingat hal itu kembali. Apalagi mengingat gambarnya yang benar-benar hancur bila dibandingkan dengan gambar Rara.
Setelah mengistirahatkan tubuhnya sejenak, Kanya bangun dan berniat untuk membersihkan tubuhnya setelah seharian di luar dan beberapa kali terpapar sinar matahari dan polusi kendaraan. Sebelum benar-benar bergerak dari posisinya ia melihat ponselnya sebentar, ingin melihat apakah ada pesan dari Dimas atau tidak.
Wajahnya seketika murung saat tidak mendapatkan pesan satupun, apalagi dari Dimas yang benar-benar ia harapkan sejak ia mengirimkan pesan pada laki-laki itu bahwa ia akan ke rumah Bu Amirah. Ia tahu laki-laki itu sibuk, tapi ia berharap setidaknya laki-laki itu membalas pesannya meskipun sesingkat mungkin.
Sebelum mood-nya semakin memburuk, ia langsung meletakkan ponselnya dan memasuki kamar mandi. Daripada memikirkan hal-hal yang menyakitkan kepala seperti itu, ia lebih baik menyegarkan diri dengan berendam di bathtub yang dipenuhi aroma bunga yang menenangkan.
***