Ada bunga adenium, mawar, kaktus, lavender, anyelir dan beberapa jenis bunga yang Kanya tidak ketahui namanya. Setidaknya ada lebih dari sepuluh jenis bunga yang bertengger manis di hadapannya. Tangannya dengan cekatan menyirami semua bunga yang ada di sana, tak memperdulikan Bu Amirah yang sibuk membersihkan rumah. Sementara Bu Amirah hanya tersenyum melihat tingkah Kanya yang tak ubahnya seperti anak kecil yang begitu penasaran dengan mainan barunya.
Kanya meletakkan gembor di tangannya dan meraih ponselnya yang ia simpan di atas meja yang memang tersedia di balkon. Ia membuka pesan yang masuk dan seketika senyumnya melebar membaca pesan dari orang yang ia pikir tidak akan pernah mengirim pesan untuknya.
Itu pesan dari Dimas yang menanyakan apa Kanya sudah membaca pesan yang ia tinggalkan di atas meja kecil di samping ranjangnya. Kanya membalasnya segera dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Sambil mengingat apa yang Dimas tulis di atas secarik kertas yang laki-laki itu simpan sebagai pesan untuknya. Di atas kertas itu terdapat sebuah kartu unlimited, sementara isi pesannya adalah menyuruh Kanya untuk menyimpan kartu itu. Dimas memberikan kebebasan penuh pada Kanya untuk menggunakannya dengan sesuka hatinya, baik untuk berbelanja atau menggunakannya untuk mengunjungi tempat-tempat yang ia ingin kunjungi.
Kanya tentu tidak bisa menerima pemberian itu dengan mudah. Ia tidak mungkin menyusahkan laki-laki itu lebih jauh setelah apa yang ia dapatkan selama ia tinggal di rumah ini. Sejak ia tinggal di sana, Dimas begitu memanjakannya dengan barang mahal nan mewah yang sejatinya tak begitu ia butuhkan. Ia terbiasa hidup sederhana, jadi ia merasa aneh dengan pemberian Dimas yang menghabiskan begitu banyak uang. Terlebih lagi ia tetaplah orang asing bagi laki-laki itu.
Jari lentiknya dengan lincah menari di atas layar ponsel, mengetikkan sebuah pesan panjang yang menolak dengan halus pemberian Dimas tentang kartu itu. Ia sudah cukup dengan kemewahan yang Dimas berikan selama ini dan ia tidak ingin meminta lebih. Setelah beberapa menit pesannya terkirim ia tidak segera menerima balasan, membuat Kanya berpikir apakah ia mengatakan sesuatu yang menyinggung perasaan laki-laki itu atau tidak. Ia masih menatap layar ponselnya yang menghitam, menunggu pesan Dimas yang tak kunjung datang saat Bu Amirah muncul di balik punggungnya.
"Ada apa? Kenapa kamu cemas seperti itu?" Bu Amirah menatap Kanya dengan kening berkerut, merasa cemas melihat Kanya yang sejak ia perhatikan beberapa saat lalu menampilkan wajah seolah sedang menerima kabar buruk.
Kanya membalikkan tubuhnya sambil berusaha menampilkan senyum terbaiknya. "Tidak apa-apa. Aku dapat pesan dari Dimas."
Bu Amirah mengangguk dengan wajah lega. "Tuan Dimas juga tadi sempat menghubungi ibu, ia bertanya apa kamu sudah melihat pesan yang ia tinggalkan di atas meja. Tapi ibu lupa bertanya padamu. Apa kamu sudah membacanya?"
"Sudah, Bu." Kanya melihat layar ponselnya sekilas. "Dimas juga menanyakan hal yang sama. Tapi, setelah aku bilang aku tidak bisa menerima pemberiannya itu dia tidak membalas pesanku lagi. Aku takut jika tak sengaja menyinggung perasaannya."
Melihat wajah murung Kanya membuat Bu Amirah tak tahan untuk tidak mengusap kepalanya. Kanya tampak kaget dengan perlakuan tiba-tiba itu tapi kemudian wajahnya terlihat tenang. Ia memandangi wajah Bu Amirah yang sejak tadi tidak berhenti tersenyum dan ia akui ia sangat menyukai senyum yang hangat dan menyenangkan itu.
"Tidak usah khawatir, tuan Dimas bukan orang yang mudah marah karena hal kecil seperti itu. Dia memberikanmu kartu itu agar kamu bisa menggunakannya yang tentu saja untuk membuatmu senang." Bu Amirah menarik tangannya. "Tapi jika memang kamu tidak bisa menerimanya dia tidak akan memaksamu. Itu keputusanmu untuk menerimanya atau tidak."
Kanya menatap ponselnya dalam diam sambil memikirkan kata-kata Bu Amirah. Sejauh yang ia kenal, Dimas bukanlah tipe orang yang mudah marah untuk hal-hal kecil. Justru laki-laki itu terlihat sangat sabar bahkan setelah ia tak sengaja memecahkan salah satu keramik koleksinya yang mahal. Bukan cuma sekali dua kali ia melakukan kesalahan, namun laki-laki itu selalu memaafkannya.
"Ibu benar. Aku saja yang terlalu berpikiran negatif." Kanya melirik ke dalam rumah. "Pekerjaan ibu sudah selesai?"
"Iya." Bu Amirah berjalan mendekati deretan bunga-bunga yang mulai bermekaran dan disusun rapi di atas rak putih yang semakin menambah keindahannya. "Kamu merawat bunga-bunganya dengan baik."
Senyum Kanya melebar, ia berjalan mendekati Bu Amirah yang masih asyik memandangi bunga. Sudah seminggu berlalu sejak ia memelihara bunga-bunga itu dan ia mulai terbiasa merawatnya. Jika ada bunga yang layu atau kurang sehat ia akan langsung mencari penyebab dan solusinya di internet. Beruntungnya sampai saat ini bunga-bunganya tumbuh dengan baik.
"Ini juga berkat ibu yang mengajariku."
"Ibu tidak membantu banyak. Justru kamu mempelajarinya sendiri."
Kanya hanya tertawa tanpa menjawab pernyataan Bu Amirah. Ia ikut memperhatikan bunga-bunga yang semakin menarik saat dipandang.
***
Kanya hanya duduk diam di sofa sambil memperhatikan Bu Amirah yang bersiap-siap untuk pulang. Tak dipungkiri bahwa ia akan merasa kesepian jika Bu Amirah sudah tidak ada di sana, padahal ia sudah terbiasa hidup sendiri setelah kematian kedua orang tuanya. Hanya saja, semenjak ia tinggal di apartemen mewah nan luas itu membuat rasa kesepiannya bertambah berkali lipat. Setidaknya saat masih di rumah lamanya dulu ia lebih sering menghabiskan waktu di tempat kerja dan hanya akan pulang di waktu malam untuk tidur. Sementara di rumah Dimas, ia berubah menjadi orang malas yang tak melakukan apa pun selain makan dan tidur. Ia juga tidak pernah keluar untuk berinteraksi dengan tetangga apartemen lainnya, ia sangat malu untuk melakukannya.
Menyadari pandangan Kanya yang tak lepas darinya, Bu Amirah tertawa kecil tanpa suara. Ia tahu betul arti tatapan yang dilayangkan gadis itu, itu tatapan kesepian yang berharap agar dirinya tinggal di sana lebih lama lagi. Ia menoleh pada Kanya yang masih memandanginya. "Kenapa? Kamu mau ibu tinggal lebih lama lagi?"
Kanya tersentak. Sambil tersenyum malu-malu ia menjawab, "kalau ibu tidak keberatan."
"Ibu mau saja tinggal lebih lama di sini, tapi ibu harus menjemput cucu ibu dari sekolah."
"Ibu punya cucu?" Alih-alih kecewa, Kanya justru antusias mendengar ucapan Bu Amirah tentang ia memiliki seorang cucu.
Bu Amirah mengangguk, ia duduk di samping Kanya yang tidak sabar mendengar ceritanya. "Iya, ibu punya satu cucu perempuan. Dia masih TK dan kedua orang tuanya sibuk bekerja, jadi ibu yang setiap hari menjemputnya pulang sekolah."
"Aku jadi penasaran ingin bertemu dengan cucu ibu. Dia pasti anak yang lucu."
Bu Amirah memperhatikan raut wajah Kanya yang seketika murung. "Daripada penasaran, bagaimana kalau kamu bertemu langsung dengannya? Dia juga pasti akan senang bertemu denganmu."
Raut wajah Kanya kembali berbinar. "Ibu serius? Aku bisa bertemu dengannya?" Bu Amirah mengangguk. "Kalau begitu aku ikut dengan ibu. Aku akan bersiap-siap dengan cepat."
"Jangan lupa mengabari tuan Dimas!" teriak Bu Amirah saat Kanya sudah masuk ke dalam kamarnya dan tak lama kemudian ia mendengar teriakan balasan dari dalam. Bu Amirah geleng-geleng kepala melihat betapa antusiasnya Kanya dengan ajakannya. Ia tak pernah tahu jika Kanya begitu menyukai anak kecil.
***