Menanti dengan Harapan

1168 Kata
Bu Amirah sudah pulang beberapa jam yang lalu, namun Kanya masih belum beranjak dari posisinya. Ia masih sibuk menikmati keindahan bunga-bunga yang sedang mekar dengan indahnya di hadapannya. Sepertinya, hari-harinya akan menyenangkan setelah ini. Kehadiran bunga-bunga itu cukup membuatnya terhibur hingga lupa waktu. Setelah merasa lelah sendiri Kanya beranjak dari sana. Ia memilih untuk membaca novel yang belum sempat ia selesaikan tempo hari. Sambil duduk bersandar di sofa ia meletakkan ponselnya di atas meja dan kemudian larut dalam novel yang ia baca. Sambil asyik membaca, matanya sesekali melirik ponselnya di atas meja yang tak menunjukkan tanda-tanda akan berbunyi. Meskipun ia tahu itu tidak mungkin, akan tetapi ia tetap berharap Dimas akan menelepon atau sekedar mengirimkan pesan padanya. Hal yang sejatinya sangat ia harapkan terjadi sejak laki-laki tampan itu membelikan ponsel padanya, tetapi belum terjadi hingga saat ini. Padahal ia berpikir, Dimas membelikan ponsel untuknya agar laki-laki itu bisa lebih mudah untuk menghubunginya. Alih-alih menghubungi ponselnya, Dimas ternyata lebih memilih untuk menghubungi Bu Amirah jika ingin menanyakan soal keadaannya. Ia menghela napas sambil menutup novelnya dan meletakkannya di atas meja. Keinginannya untuk menyelesaikan novel itu sirna sejak memikirkan soal Dimas yang tidak pernah sekalipun menghubunginya, meskipun ia tahu laki-laki itu tetap menghubungi Bu Amirah. Entah kenapa perasaan cemburu pada Bu Amirah tiba-tiba muncul di pikirannya. Padahal ia tahu jelas bahwa Dimas mengubungi Bu Amirah semata-mata untuk mengetahui keadaannya. Dengan wajah cemberut Kanya membaringkan tubuh mungilnya. Matanya memandang kosong layar televisi yang menghitam tak menampilkan gambar apa-apa. Ia merindukan Dimas padahal mereka baru saja bertemu tadi malam. Ia hanya merasa tidak puas bertemu laki-laki tampan itu hanya di malam hari. Ia ingin agar mereka bisa bertemu di siang hari juga dan akan lebih menyenangkan saat ia bangun di pagi hari, hal pertama kali yang ia lihat adalah wajah tampan milik Dimas. Senyum mengejek muncul di wajah Kanya, menertawakan dirinya yang begitu aneh dan terkesan mendambakan laki-laki yang jelas bukan siapa-siapanya. Ia hanya beruntung bisa bertemu dengan laki-laki itu dan bisa tinggal dengannya. Dalam hati ia bersyukur malam itu yang ia temui adalah Dimas dan bukan orang lain. Tubuhnya sedikit tersentak saat mendengar nada dering singkat masuk dari ponselnya. Tangannya dengan cepat meraih benda persegi itu dan membuka kuncinya. Raut kecewa tampak di wajahnya mengetahui bahwa nada yang ia dengar tadi berasal dari notifikasi orang yang memberi like pada foto bunga yang ia unggah beberapa saat lalu. Meskipun merasa kecewa karena itu bukan pesan dari Dimas, namun ia cukup senang membaca komentar beberapa orang yang mengatakan bahwa foto bunga yang ia unggah sangat cantik. Tidak sia-sia ia menghabiskan waktu hampir setengah jam untuk mengambil beberapa gambar yang akhirnya sesuai dengan keinginannya. *** Kanya menggeliat dalam tidurnya sebelum akhirnya ia terbangun dengan wajah terkejut. Ia menatap sekeliling ruangan yang mulai menggelap dan dapat ia lihat kemilau cahaya jingga yang mencolok di langit senja melalui balkon apartemen. Ia tak ingat kapan ia jatuh tertidur dan tak menyadari waktu. Ia berdiri dan menyalakan lampu yang seketika membuat seluruh ruangan menjadi terang benderang. Ia berjalan menuju balkon untuk melihat keadaan bunga-bunganya yang masih tampak segar walaupun ada beberapa yang bunganya sudah mulai layu. Ia bimbang antara menyiram bunganya atau menunggu besok pagi untuk melakukannya. Ini kali pertama ia memelihara bunga jadi ia masih bingung bagaimana cara merawatnya dengan baik. Setelah berpikir panjang, akhirnya ia memutuskan untuk menyiraminya dengan jumlah air yang lebih sedikit dibanding saat ia menyiramnya tadi pagi. Setelah selesai ia kemudian menutup pintu kaca balkon dan mengambil ponsel serta novelnya di atas meja. Ia ingin segera membersihkan diri dan kembali bermalas-malasan di dalam kamarnya. Soal makan malam, Bu Amirah sudah menyiapkannya dan menaruhnya di dalam lemari pendingin. Ia tinggal memanaskannya jika ingin menuntaskan rasa lapar, namun untuk saat ini perutnya masih terasa penuh dan belum ada keinginan untuk diisi. Kanya keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut panjangnya. Piyama merah muda yang Dimas belikan untuknya beberapa hari lalu tampak cantik dan pas di tubuhnya. Ia tersenyum sambil memperhatikan pantulan dirinya di dalam cermin sambil tangannya masih sibuk menepuk-nepuk rambutnya dengan handuk selembut mungkin. Ia lebih memilih untuk mengeringkan rambutnya dengan alami ketimbang memakai hair dryer yang tentunya tak terbiasa ia pakai. Sudah beberapa minggu ia tinggal di apartemen mewah itu, tapi dirinya masih belum terbiasa dengan alat-alat canggih yang belum pernah ia pakai sebelumnya. Sebut saja ia norak karena memang itu kenyataannya. Ia bahkan sering menertawai dirinya karena hal itu. *** Dimas mengendarai mobilnya dengan pelan. Mata tajamnya fokus menatap jalanan di hadapannya. Hari ini ia tidak makan malam bersama Evan seperti biasanya karena laki-laki itu punya urusan penting lainnya, jadi ia bisa pulang ke rumah lebih cepat. Sambil berharap agar Kanya masih terjaga dan menunggunya pulang seperti biasa. Senyum tipis samar terlihat di wajahnya, tak dipungkiri ia merindukan gadis itu. Gadis yang baru ia kenal tapi sudah bisa membuat perasaan aneh muncul di dadanya. Apakah itu perasaan cinta atau bukan, ia tak tahu. Ia hanya tahu bahwa ia nyaman berada di samping gadis itu dan ia berharap Kanya juga merasakan hal yang sama padanya. Terkadang ia berpikir apakah keputusannya menyenangkan gadis itu dengan membelikan banyak pakaian mahal untuknya, membuat gadis itu senang atau bahkan merasa tidak nyaman. Ia tidak bisa menebak bagaimana perasaan Kanya saat melihat raut wajah gadis itu yang justru terlihat seperti terbebani. Ia berpikir semua wanita akan merasa senang jika dimanjakan dengan hal-hal mewah, tapi sepertinya berbeda dengan Kanya. Gadis itu, ia benar-benar tidak bisa membaca pikirannya. Setelah memarkir mobilnya Dimas segera menuju apartemennya. Lampu masih menyala dengan terang saat ia membuka pintu, namun ia tak menemukan sosok Kanya yang biasanya tertidur di hadapan televisi yang menyala. Tidak seperti biasanya gadis itu pasti akan menunggunya pulang, terlebih lagi malam ini ia pulang lebih cepat dari biasanya. Alih-alih berjalan menuju kamarnya, ia lebih memilih mendekati kamar Kanya. Ia mengetuk pintunya sekali, namun tidak mendapatkan jawaban dari dalam. Dimas menautkan alisnya, berpikir bahwa mungkin saja Kanya sudah tidur. "Kanya? Kamu sudah tidur?" Seperti yang ia duga, gadis itu pasti sudah terlelap saat kembali tak mendapatkan jawaban. Meskipun sudah sadar akan hal itu, tangannya dengan impulsif memutar kenop pintu yang langsung terbuka dengan mudahnya. Ia menatap masuk ke dalam kamar Kanya yang masih terang namun sepi. Dengan langkah pelan ia berjalan mendekati sisi ranjang dan memperhatikan wajah damai milik Kanya yang tertidur pulas dengan ponsel di tangannya. Dimas tersenyum, ia mengambil ponsel gadis itu dan meletakkannya di atas lemari kecil di samping ranjang. Kemudian ia menyelimuti gadis itu sebatas bahunya. Tangan kanannya bergerak membelai rambut Kanya dengan lembut, dapat ia rasakan gadis itu bergerak kecil dalam tidurnya. Sebelum Kanya terbangun dan terkejut mendapati dirinya di sana, ia keluar dari kamar Kanya setelah sebelumnya mematikan lampu agar gadis itu bisa tidur dengan lebih nyaman. Setelahnya ia beranjak menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan berencana untuk menyusul Kanya menuju alam mimpi. Sepertinya malam ini ia akan melewati makan malam yang tak pernah ia lewatkan sebelumnya. Tubuhnya sudah sangat lelah bekerja seharian di kantor dan sekarang waktunya untuk dirinya beristirahat. Sambil membisikkan selamat malam pada Kanya, ia menutup matanya dan terlelap beberapa detik kemudian. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN