Kanya memandangi langit-langit kamarnya dengan perasaan tak menentu. Sudah dua jam berlalu sejak mereka pulang dari taman dan ia masih belum bisa menyelami alam mimpi juga. Sementara ia yakin Dimas sudah tertidur pulas di kamar sebelah. Ia menghela napas panjang sambil memiringkan tubuhnya menghadap kaca yang terhubung dengan balkon. Ia tak bisa melihat apa-apa di luar sana karena tirai yang menutupi. Namun, tatapannya tetap ia arahkan ke sana dan memandangi dalam diam.
Sekali lagi ia menghela napas sebelum beranjak dari posisi berbaringnya dan berjalan keluar kamar. Tiba-tiba saja ia merasa haus dan berencana untuk mengambil air di dalam dapur. Ia berjalan sepelan mungkin dan berusaha agar tidak menimbulkan suara yang dapat membangunkan Dimas.
Setibanya di dapur ia segera membuka kulkas dan mengambil sebotol air kemudian menuangnya ke dalam gelas. Setelah gelasnya terisi penuh ia segera menaruh kembali botol di tangannya ke dalam kulkas. Ia meraih gelas berisi air itu dan membawanya, ia ingin segera kembali ke kamar dan meneguk isinya di sana.
Saat melangkah keluar dari dapur Kanya bisa mendengar dengan samar suara televisi yang dinyalakan, serta cahaya temaram yang berasal dari layar persegi itu di tengah kegelapan. Jantung Kanya sudah berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Dengan langkah pelan ia mendekat dan mendapati Dimas yang sedang melihat ke layar televisi dengan remote control di tangannya.
Dimas yang juga menyadari keberadaannya menoleh padanya. Ada sedikit keterkejutan di wajahnya sebelum akhirnya tersenyum. "Tidak bisa tidur juga?"
Kanya menghela napas lega setelah mengetahui bahwa itu adalah Dimas. Ia melangkah mendekat dan duduk di sofa tunggal di sebelah kanan sofa yang diduduki oleh Dimas. Ia meletakkan gelasnya di atas meja. "Iya. Apa kamu juga tidak bisa tidur?"
"Benar. Mungkin perjalanan panjang kita tadi masih membuatku bersemangat sampai sulit untuk memejamkan mata." Dimas mengakhiri kalimatnya dengan senyum tipis dan kedipan mata yang terlihat menggoda di mata Kanya.
Kanya mengalihkan pandangannya pada layar televisi yang menampilkan film asing yang berasal dari negeri Paman Sam. Ia tidak menikmati film itu, namun ia harus punya satu pengalihan agar tidak terlarut dalam pesona Dimas yang sulit ia abaikan. Apalagi melihat laki-laki itu tersenyum seolah menggodanya. Dimas benar-benar tahu bagaimana membuat jantungnya berdetak tidak normal.
"Sekali lagi terima kasih untuk hari ini. Aku tidak tahu harus membalasnya dengan apa."
"Kau cukup membalasnya dengan tetap tinggal di sini bersamaku."
Kalimat itu serta merta membuat Kanya menatap Dimas tepat di matanya. Hanya dengan menatap matanya saja cukup membuat Kanya percaya ucapan itu tidak keluar sebagai candaan. "Apa kau serius? Kau tahu aku hanya akan menjadi beban untukmu."
"Aku tidak peduli." Dimas mengalihkan pandangannya ke layar televisi. "Aku tahu ini permintaan yang egois tapi aku ingin kau tetap di sini. Lagipula ...." Dimas kembali menatap Kanya yang terdiam dan tak pernah mengalihkan tatapannya ke arah lain. "Kau sudah tidak punya tempat untuk kembali, bukan?"
Kanya akui ucapan terakhir itu lumayan menyakitkan untuk ia dengar. Namun, ia tidak bisa mengelak karena itu benar. Sungguh sebuah kenyataan yang benar-benar menyakitkan. Ia sekarang sudah tidak punya tempat untuk kembali lagi. Ia benar-benar sudah menjadi orang yang tak punya apa-apa selain dirinya sendiri.
"Itu benar." Kanya menundukkan wajahnya menatap kedua tangannya yang saling meremas dengan gugup. Sebisa mungkin ia menahan lelehan air mata yang siap tumpah membasahi pipinya. "Aku sudah tidak punya apa-apa lagi."
Melihat sikap Kanya yang seperti itu membuat Dimas tidak bisa duduk diam. Ia mendekati gadis itu dan berlutut di hadapannya sementara kedua tangannya menggenggam erat tangan Kanya, membuat gadis itu langsung memusatkan perhatian padanya. Dengan jarak sedekat itu membuat Dimas dengan jelas bisa melihat air mata yang mengenang di pelupuk mata gadis itu.
"Jangan sedih." Tangan besar Dimas bergerak menghapus air mata Kanya yang mengalir tanpa gadis itu sadari. "Maafkan ucapanku yang kasar sebelumnya."
Kanya menggeleng dengan tegas. Tatapannya tetap beradu dengan mata teduh milik Dimas dan membiarkan tangan besar nan hangat itu membelai pipinya dengan lembut. Perasaan sedih yang tadi ia rasakan berangsur-angsur menghilang tergantikan dengan perasaan hangat akibat perlakuan Dimas padanya. "Tidak. Tidak ada yang salah dengan ucapanmu. Justru aku berterima kasih karena dirimu aku masih punya tempat untuk tinggal yang bisa kusebut dengan rumah."
Dimas tersenyum. "Kalau begitu tetaplah di sini selama yang kau mau. Saat kau menemukan tempat untuk kembali, aku akan melepaskanmu dengan ikhlas."
"Terima kasih."
Dimas tidak menjawab. Hanya senyum manis di bibirnya yang menandakan bahwa ia mendengarkan ucapan terakhir Kanya.
***
Seperti hari-hari sebelumnya, Kanya akan bangun dengan kondisi rumah yang sudah dibersihkan oleh Bu Amirah dan sosok Dimas yang sudah tidak ia temukan di sana. Alih-alih kecewa seperti biasa, Kanya malah beranjak menuju dapur dengan senyuman. Waktu yang mereka habiskan berdua tadi malam cukup membuat mood-nya pagi ini membaik.
Ia segera menyantap sarapannya yang telah disiapkan oleh Bu Amirah dan menyelesaikannya dengan waktu yang singkat. Seperti biasa ia selalu memuji kemampuan memasak Bu Amirah yang tak kalah jauh dengan chef terkenal. Hanya dengan memakan makanan Bu Amirah di rumah maka ia tak perlu ke restoran mewah lagi untuk menikmati makanan enak.
Setelah mencuci piring yang baru saja selesai ia pakai tadi, ia segera berjalan keluar dapur dan mendapati Bu Amirah yang sedang sibuk di balkon. Ia mengerutkan keningnya dan mendekati Bu Amirah yang ternyata tengah sibuk menyirami bunga. Keningnya kembali berkerut melihat beberapa pot bunga yang cantik dan mekar dengan indahnya. Bunga-bunga itu jelas tidak pernah ia lihat sebelumnya.
"Bunga-bunga ini ...."
Kanya tidak melanjutkan kalimatnya saat Bu Amirah membalikkan badannya. Perempuan yang masih terlihat muda dari usianya itu tersenyum melihat wajah bingung Kanya.
"Bunga-bunga ini baru datang pagi ini. Tuan Dimas yang memesannya kemarin."
"Aku tidak tahu kalau Dimas ternyata menyukai bunga-bunga." Terlihat jelas ada raut keheranan di wajah cantik Kanya, ia benar-benar tidak menyangka jika Dimas memiliki ketertarikan untuk merawat bunga-bunga bahkan di saat ia tak punya waktu untuk itu.
Senyum Bu Amirah kian melebar. "Ini bunga-bunga untuk kamu, Kanya. Karena Tuan Dimas tidak ingin kamu merasa bosan di rumah tanpa melakukan apa pun."
Mata Kanya melebar. "Ini untuk aku?" Bu Amirah mengangguk dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya. Melihat itu Kanya tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya. Ia memang menyukai bunga-bunga namun tidak pernah memiliki kesempatan untuk memeliharanya karena kesibukannya bekerja paruh waktu.
Kanya semakin mendekat pada Bu Amirah. "Biar aku saja yang siram bunganya, Bu."
Bu Amirah segera menyerahkan
Gembor di tangannya pada Kanya yang menerimanya dengan senyum sumringah. Gadis itu dengan semangat menyirami bunga-bunga yang ada di sana. Bahkan ia tak menyadari Bu Amirah yang menghilang di balik punggungnya.
Sementara Bu Amirah bergerak untuk mengerjakan pekerjaan lain dengan perasaan senang. Melihat betapa bahagianya Kanya membuat perasaannya ikut bahagia. Ia tidak pernah menyangka saat Dimas tiba-tiba bertanya padanya kemarin pagi-pagi sekali tentang apa yang bisa membuat Kanya betah di rumah tanpa merasa bosan. Ia yang tak bisa memikirkan apa pun dengan spontan menyebutkan tentang memelihara bunga-bunga dengan alasan semua wanita menyukai bunga-bunga.
Tentu saja Dimas langsung menelan mentah-mentah jawabannya itu dan menyerahkan padanya untuk memilih bunga-bunga yang kiranya menarik untuk Kanya. Namun, tidak ia sangka jawaban spontannya itu justru membuat Kanya kesenangan dan begitu bersemangat untuk memeliharanya.
Dengan senyum yang tak luntur dari wajahnya, Bu Amirah kemudian beranjak menuju dapur.
***