Dinner dan Taman

1078 Kata
Mata Kanya bergerak lambat mengikuti barisan kata-kata yang tertera di buku menu. Napasnya seolah berhenti melihat setiap deretan angka di sana. Benar-benar harga yang fantastis untuk dihabiskan pada sebuah makanan. Jika bisa memilih ia ingin makan di warung pinggir jalan saja. Selain murah, rasanya juga tidak kalah enak dengan makanan di hotel bintang lima. Ia melirik Dimas di balik buku menu di hadapannya. Laki-laki itu tampak santai menyebutkan beberapa nama makanan tanpa rasa beban pada pegawai restoran yang bersiap mencatat pesanan mereka. Berbanding terbalik dengannya yang sudah berkeringat dingin di tempat duduknya. Kanya tidak pernah berpikir Dimas akan mengajaknya makan malam di restoran mewah. Ia pikir, laki-laki itu akan langsung membawanya ke tempat kesukaannya yang ingin sekali ia perlihatkan pada Kanya. Kemudian pulang ke rumah dan beristirahat. "Kanya." Kanya tersentak dari lamunannya. Atensinya langsung tertuju pada Dimas yang menatapnya dengan alis bertaut. "Iya? Kenapa?" Sebuah senyuman tersungging di bibir Dimas. Ekspresi wajah Kanya begitu lucu di matanya saat ini. "Kamu mau pesan apa? Dia sudah menunggumu dari tadi." Perhatian Kanya beralih pada gadis muda di samping meja mereka. Gadis itu tampak sabar menunggunya menyebutkan pesanannya, meksipun rasa lelah tergambar dengan jelas di wajahnya. Kanya kembali memusatkan perhatiannya pada menu di hadapannya dan mulai menyebutkan nama makanan yang belum pernah ia makan sebelumnya secara acak. Ia tidak peduli soal rasanya sekarang, karena yang terpenting adalah ia sudah memesan dan gadis itu bisa beranjak dari sana segera. Ia tidak bisa membayangkan betapa lelahnya gadis itu berdiri selama beberapa menit di samping meja mereka tanpa bisa mengeluh dan menunggu dengan sabar. "Jangan khawatir. Makanan di sini semuanya enak. Jadi kau tidak perlu cemas soal rasanya." Dimas mengeluarkan suaranya beberapa detik setelah gadis pegawai restoran itu beranjak dari sana. Seolah ia bisa membaca apa yang ada di pikiran Kanya yang mulai ragu dengan makanan yang ia pesan baru saja. Kanya tersenyum malu. Ia m******t bibirnya yang terasa kering. "Aku yakin juga begitu." Dimas kembali tersenyum. Pandangannya kemudian ia labuhkan pada kaca jendela di samping kirinya yang menampilkan suasana gelap di luar. "Aku dan Evan setiap malam selalu makan di sini sebelum pulang. Jadi aku berani jamin dengan rasanya." Kanya mengikuti arah pandang Dimas. Tak banyak yang bisa ia lihat di luar sana kecuali kegelapan. Terlebih lagi mereka sedang berada di lantai enam gedung itu yang mana membuatnya hanya bisa melihat kendaraan di bawah sana menjadi seukuran kelereng. Ia tidak menyangka kegiatan berbelanja mereka bisa menghabiskan waktu seharian. Menyadari sesuatu, Kanya menatap Dimas yang masih memandang keluar jendela. "Evan itu siapa?" "Ah, benar." Dimas mengalihkan perhatiannya pada Kanya yang menunggunya berbicara. "Dia bosku di kantor. Aku yakin kalian sudah pernah bertemu sekali. Kau masih ingat malam di mana kamu sedang dikejar oleh para debt kolektor itu?" Samar-samar Kanya bisa mengingat ada seseorang selain Dimas malam itu. Laki-laki yang keluar dari mobil kedua dan dipanggil bos oleh Dimas. Namun, ia tidak bisa mengingat dengan jelas wajahnya, berhubung karena minimnya cahaya dan ia juga tidak terlalu memperhatikannya akibat kondisinya yang sedang dalam bahaya saat itu. "Aku tidak ingat wajahnya." "Wajar jika kau tidak mengingatnya dengan keadaanmu malam itu." Kanya memperhatikan Dimas yang mengecek ponselnya setelah bunyi nada pesan singkat terdengar sebelumnya. "Kalian pasti sangat dekat karena memanggilnya dengan nama seperti itu." Dimas tersenyum sambil meletakkan kembali ponselnya di atas meja setelah membaca pesan yang masuk. Pesan dari Evan yang menyuruhnya untuk berangkat ke kantor besok satu jam lebih cepat dari biasanya. "Kami sudah berteman sejak SMP. Jadi saat di luar jam kerja kami memanggil nama satu sama lain dengan santai. Kita memiliki usia yang sama dan aku juga sudah menganggapnya seperti saudaraku sendiri." Kanya bisa melihat binar bahagia di mata Dimas saat menceritakan sosok Evan. Hal itu cukup membuktikan bahwa keduanya memiliki hubungan yang sangat baik terlepas dari status mereka sebagai atasan dan bawahan. Ia bahkan sudah bisa merasakan sosok baik Evan tanpa harus bertemu dengannya terlebih dahulu. Kanya tersenyum. "Mendengar ceritamu aku yakin dia benar-benar orang yang baik. Berkatnya jugalah aku masih bisa hidup sekarang. Tolong sampaikan ucapan terima kasihku untuknya." Meskipun tak mengingat wajahnya, Kanya masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana laki-laki itu menyuruh bawahannya yang lain untuk mengurusi para debt kolektor yang sedang mengejarnya. Walaupun ia tak tahu dengan jelas bagaimana nasib orang-orang itu sekarang. "Aku yakin dia pasti akan senang mendengarnya." Dengan berakhirnya kalimat Dimas. Makanan pesanan mereka tiba dan siap untuk dinikmati. *** "Sebenarnya tempatnya tidak begitu istimewa, bahkan mungkin terbilang biasa bagi orang-orang. Tapi bagiku ini adalah tempat yang menyimpan banyak kenangan tentang masa laluku." Kanya mengayunkan kakinya dengan pelan membuat ayunan yang sedang didudukinya bergerak sedikit. Matanya terpaku pada tanah di bawah kakinya yang sebenarnya tidak ada menariknya sama sekali. Setelah selesai makan malam di restoran, Dimas langsung mengajaknya ke taman ini. Tempat yang tak pernah terbersit di benaknya yang akan menjadi tempat favorit Dimas. Taman itu tak ubahnya seperti taman bermain biasa. Bahkan terlihat sudah tua dengan beberapa alat bermain yang sudah mengelupas permukaannya. Terlihat biasa namun ia akui sangat nyaman. Apalagi dengan suasana lampu taman yang remang-remang dan jauh dari kebisingan kota. Tempat yang sangat tepat untuk menyendiri. "Memang terlihat biasa tapi aku suka suasananya. Mungkin karena aku termasuk orang yang tidak suka keramaian." Kanya terkekeh pelan kemudian menolehkan kepalanya ke kanan, menatap Dimas yang juga sedang duduk di ayunan sedang memandang jauh ke depan. Sepertinya laki-laki itu punya banyak hal di pikirannya. "Benar. Tempat yang sangat tepat untuk menyendiri. Saat masih kecil dulu, setiap ada masalah di rumah aku akan lari ke sini. Di sinilah pertama kalinya aku bertemu Evan dan menjadikan tempat ini sebagai markas rahasia kami. Sangat lucu, bukan?" Dimas tersenyum, namun Kanya bisa melihat luka di sana. Entah ia sedang memikirkan kenangan lama yang tidak mengenakkan atau apa pun itu yang jelas Kanya tidak suka melihatnya. "Cukup wajar jika anak-anak menganggap suatu tempat sebagai wilayah mereka sebagai bagian dari permainan. Aku juga selalu menganggap kamarku sebagai markas pribadi bahkan sampai sudah sebesar ini." "Kau benar." Dimas memandangi Kanya yang sejak tadi tak melepaskan pandangannya darinya. "Maaf membuat suasananya jadi muram begini. Ini pertama kalinya sejak setahun yang lalu aku mengunjungi tempat ini lagi. Tak kusangka kenangan lama masih cukup kuat membuatku teringat kembali." Kanya tersenyum. "Tidak apa-apa. Aku cukup senang mendengar ceritamu." "Baiklah." Dimas berdiri dan mengulurkan tangan kirinya pada Kanya yang menatapnya bingung. "Kita pulang sekarang sebelum malam semakin larut." Setelah mengerti Kanya menggapai tangan Dimas dengan senyum lebar. "Iya. Aku juga sudah mengantuk." Mereka saling melempar senyum sejenak sebelum berjalan menjauh dari taman itu dengan tangan yang saling bertaut. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN