Kanya tidak menyangka bahwa Dimas akan mengajaknya ke mall. Laki-laki itu ingin membelikannya baju dan kebutuhan pribadi lainnya. Ia tidak ingin Kanya merasa tidak nyaman di rumahnya dan hanya mempunyai beberapa baju. Ia benar-benar ingin memanjakan Kanya.
Kanya berjalan dengan canggung di belakang Dimas. Sementara laki-laki itu berjalan dengan santai dan penuh kharisma di depannya. Sangat kontras dengan keadaannya, bahkan Kanya bisa merasakan tatapan memuja kaum hawa yang tertuju pada Dimas.
Sesekali ia juga bisa merasakan tatapan mengutuk dari beberapa wanita yang menyadari keberadaannya. Itu tatapan iri karena mereka jelas tidak bisa berada di posisinya. Apalagi saat Dimas tiba-tiba melambatkan langkah kakinya agar sejajar dengannya. Laki-laki itu jelas menyadari tatapan memuja yang ditujukan padanya juga bagaimana Kanya melangkah tidak nyaman di belakangnya. Namun, laki-laki itu memilih untuk mengabaikannya dan membuat mereka semakin cemburu saat ia menggandeng tangan Kanya.
Kanya tersentak dan berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman Dimas. Namun, laki-laki tampan itu malah semakin mengeratkan genggamannya. Padahal ia tahu Kanya sudah berkeringat dingin karena kelakuannya itu.
Setelah berjalan agak lama dan hampir mengelilingi mall. Setidaknya itu yang ada dipikiran Kanya. Ia merasa satu menit perjalanan mereka tapi terasa seperti satu jam baginya. Mereka akhirnya berhenti di sebuah butik yang menyediakan banyak pakaian modis khusus untuk wanita. Kanya mengernyit bingung mengetahui itu. Dalam hati ia mulai menebak-nebak jika Dimas berencana untuk berbelanja hanya untuknya.
"Ini adalah salah satu toko terbaik dengan kualitas yang bagus. Jadi aku yakin kamu pasti akan suka." Dimas menariknya mendekati beberapa pakaian yang digantung berjejeran. "Pilihlah sesukamu. Jangan sungkan."
Meskipun ragu, Kanya meraih satu baju yang menarik di matanya dan melihat harganya. Sontak saja matanya membulat dan hampir lompat dari tempatnya saat itu juga. Harga satu baju saja bisa sebesar gajinya dalam sebulan di restoran keluarga tempat kerjanya dulu. Ia meletakkannya kembali membuat kerutan timbul di kening Dimas.
"Ada apa? Apa tidak ada yang sesuai dengan seleramu?"
Kanya menggeleng. 'Mana bisa aku memilih dengan puas setelah mengetahui harga fantastis itu! Ini mustahil untuk orang-orang sepertiku.' Tentu saja kalimat itu hanya tersimpan di kepala Kanya. Ia bukan tipe orang yang bisa mengeluarkan pikirannya dengan mudah. Baru saja ia ingin mengeluarkan suaranya, seorang wanita cantik mendekati mereka.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan dan Nyonya?"
Dimas tersenyum. "Tolong carikan baju yang cocok untuknya. Kalau bisa berikan kualitas terbaik yang kalian miliki."
Wanita cantik yang bekerja di sana memberikan senyum terbaiknya. Tak bisa menyembunyikan rasa senangnya mendapatkan pelanggan seperti Dimas yang tentu saja memberi banyak keuntungan bagi mereka. "Serahkan pada saya, Tuan. Saya akan memberikan yang terbaik untuk kekasih anda." Wanita itu memberikan perhatiannya pada Kanya yang mematung di samping Dimas. "Mari ikut saya, Nyonya."
Kanya menatap Dimas sebentar hanya ingin melihat ekspresi laki-laki itu. Dimas memberikannya senyuman seperti biasa terlepas dari apa yang dikatakan wanita tadi. Laki-laki itu tampak tidak keberatan saat wanita itu menganggap mereka sepasang kekasih. Terlebih lagi, ia masih tidak bisa terima dengan perlakuan Dimas yang begitu memanjakannya.
"Pergilah. Aku akan menunggu di sini. Soal harganya kamu tidak perlu khawatir. Ambil saja semua pakaian yang kamu suka."
Perkataan Dimas itu seolah-olah menjawab semua pertanyaan yang ada di kepalanya. Laki-laki itu memang selalu bisa membaca pikirannya tanpa ia harus berusaha menjelaskannya lagi. 'Apa kau masih bisa bersikap santai jika aku bilang ingin membeli semua pakaian yang ada di toko ini?' Kanya berusaha sekuatnya menahan diri untuk tidak memijit pelipisnya. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran Dimas yang terlalu baik padanya. Meskipun itu sebenernya hal yang baik dan menguntungkan baginya.
"Mari ikut saya, Nyonya." Sekali lagi wanita itu mengajak Kanya yang belum bergerak dari posisinya.
Kanya mengangguk dan mengikuti wanita itu yang sudah berjalan di depan. Ia kembali menoleh pada Dimas yang masih menyunggingkan senyumnya. Tampak santai dan meyakinkan Kanya untuk melakukan seperti apa yang ia perintahkan. Melihat itu Kanya hanya bisa pasrah dan mengikuti saja perkataan laki-laki itu. Sambil berpikir bagaimana caranya agar ia bisa membayar perbuatan baik laki-laki itu padanya nanti.
***
Kanya lelah dan rasanya ingin pulang ke rumah untuk segera merasakan kenyamanan kasur sekarang juga. Ia menyandarkan kepalanya pada jendela kaca mobil dan memejamkan matanya. Setelah membeli beberapa baju, Dimas kembali menyeretnya menuju toko kosmetik. Ia benar-benar tak habis pikir bagaimana Dimas tanpa berpikir dua kali langsung membayar semua pakaian yang ditawarkan oleh wanita di toko pakaian itu. Padahal Kanya sudah menolak dan memaksa untuk mengambil tiga baju saja tapi ternyata Dimas lebih keras kepala darinya.
Beruntung ia bisa meyakinkan laki-laki itu untuk membeli kosmetik yang benar-benar dibutuhkan saja. Meskipun pada akhirnya Dimas kembali menyeretnya untuk membeli ponsel baru. Kanya tidak bisa menolaknya. Bukan hanya karena ia tidak bisa menang dari laki-laki itu tapi ia juga membutuhkannya. Tak bisa dipungkiri bahwa ia cukup bosan tanpa sebuah ponsel. Ia juga harus memberikan kabar pada bosnya di tempat kerja dan juga teman-temannya yang mungkin saja mengkhawatirkannya saat ini.
"Kau lelah?"
Kanya membuka matanya dan menoleh pada Dimas yang tampak fokus menyetir. Meskipun sesekali laki-laki itu akan melirik padanya melalui ekor matanya. "Iya. Kita akan langsung pulang setelah ini, kan?"
"Kuharap begitu, tapi belum. Perjalanan kita masih panjang." Dimas menatap ke arah Kanya sejenak. Cukup membuat gadis itu terpaku dalam pesonanya. "Aku sudah janji untuk membawamu ke tempat favoritku, bukan? Kita akan langsung ke sana. Setelahnya kamu bisa beristirahat dengan leluasa di rumah."
Mendengar itu Kanya menjadi tidak enak. Padahal ia tahu di antara mereka berdua justru Dimas lah yang paling lelah. Bekerja dari pagi hingga larut malam. Padahal ini adalah hari libur laki-laki itu yang seharusnya ia manfaatkan untuk beristirahat sepuasnya. Namun, laki-laki itu malah mengajaknya keluar dan menyenangkannya.
"Aku memang lelah. Tapi masih cukup kuat untuk menikmati waktu lebih lama lagi. Hanya saja ini adalah hari liburmu, jadi kupikir kamu mungkin akan lebih senang menghabiskan waktu untuk beristirahat di rumah daripada harus mengajakku keluar."
Dimas tersenyum dan itu benar-benar sebuah pemandangan yang indah bagi Kanya. Hanya dengan melihat wajah tampan itu dari samping sudah cukup bisa membuat hatinya menjerit-jerit tidak karuan. Sudah tidak terhitung berapa kali ia selalu terpesona pada karya maha sempurna di depannya itu. Tak salah jika para kaum hawa memuja ketampanannya itu.
"Bahagiaku sederhana. Jika kamu bahagia maka aku juga akan bahagia. Jadi jangan khawatirkan aku. Cukup pikirkan dirimu saja." Mengakhiri kalimatnya itu, tangan Dimas yang bebas menyentuh pucuk kepala Kanya. Hanya beberapa detik sebelum ia melepaskannya dan kembali fokus pada jalanan di depan.
Tak menyadari jika Kanya menatapnya tak berkedip dan seolah lupa untuk bernapas. Padahal itu bukan kali pertama Dimas melakukan itu. Namun nyatanya ia masih belum terbiasa.
***