Sarapan Bersama

1085 Kata
Tak terhitung sudah berapa kali Kanya menguap sambil mempertahankan kesadarannya agar tidak jatuh tertidur. Film horor yang ditayangkan di televisi tak cukup mampu membuatnya bergidik ngeri. Justru malah membuatnya mengantuk dan tidak tertarik. Sudah lewat dari jam satu tapi Dimas belum datang juga. Padahal biasanya laki-laki itu akan datang hanya lewat beberapa menit dari jam dua belas. Ia kembali melirik jam dan pintu bergantian. Sebelum akhirnya memutuskan untuk mematikan televisi dan masuk ke kamarnya. Rasa kantuknya sangat besar dan tak cukup untuk membuatnya tetap terjaga beberapa menit ke depan. Sementara orang yang ia tunggu belum menampakkan tanda-tanda akan pulang juga. Saat berdiri dari sofa ia tak sengaja menyenggol meja yang mana membuatnya meringis. Rasa sakit yang muncul di paha kirinya membuatnya teringat kembali pada luka yang ia dapatkan dari gesekan peluru panas orang-orang yang mengejarnya malam itu. Ia duduk dan menyingkap roknya sedikit. Memperlihatkan lukanya yang tampak memerah. Sangat kontras dengan kulit putihnya. Padahal luka itu sudah mulai mengering tapi entah kenapa hanya dengan senggolan seperti itu rasanya benar-benar sakit. Beruntung luka lecet di telapak kakinya sudah sembuh. Malam itu, malam di mana ia hampir kehilangan nyawanya dan ditolong oleh Dimas. Laki-laki itu langsung memanggilkan dokter untuknya segera setelah mereka sampai di apartemen itu. Beruntung ia hanya mengalami luka yang tidak begitu parah dan tidak membahayakan nyawanya. Kanya masih memperhatikan lukanya saat telinganya mendengar bunyi pintu terbuka. Ia menoleh ke arah pintu dan melihat Dimas yang mematung melihatnya. Tatapan laki-laki itu mengarah pada roknya yang tersingkap dan memperhatikan lukanya. Kanya yang sadar dengan hal itu segera menurunkan kembali roknya dan berdiri. "Kamu pulang terlambat malam ini." Dimas memalingkan wajahnya. Ada semburat merah di pipinya yang tentunya tidak disadari oleh Kanya. Ia baru sadar kalau perbuatannya tadi sangat tidak sopan terhadap gadis itu. Meskipun ia sebenarnya tidak pernah bermaksud jahat. Ia hanya tidak sengaja melihatnya dan penasaran dengan luka gadis itu. "Tadi ada sedikit masalah di kantor." Ia berjalan mendekat dan duduk di sofa. "Kau belum tidur?" "Iya. Aku sengaja menunggumu. Aku tidak enak kalau tidur lebih dulu dari pemilik rumahnya sendiri." Kanya ikut duduk di samping Dimas. Matanya sesekali melirik laki-laki itu yang sibuk membuka jasnya dan menggulung lengan kemejanya. "Kau tidak perlu melakukan itu. Kau bisa tidur duluan. Sewaktu-waktu aku akan pulang terlambat jika ada masalah di kantor seperti malam ini. Bahkan terkadang akan menginap di kantor." Dimas memperhatikan Kanya yang sibuk menatap ke bawah dengan tangan yang saling meremas. "Apa lukamu masih sakit?" Kanya menggeleng. "Lukanya sudah kering. Cuma memang masih agak sakit jika tersenggol benda keras." Sesaat kemudian Kanya bisa merasakan sentuhan hangat Dimas di kepalanya. Ia mendongak menatap laki-laki itu yang menatapnya sambil tersenyum. Sesaat ia tenggelam dalam pancaran mata hitam kelam milik Dimas yang memantulkan wajahnya dengan sempurna. "Kalau lukanya bertambah parah secepatnya bilang padaku." Dimas masih belum melepaskan tangannya dari kepala Kanya. Sementara gadis itu hanya mengangguk sebagai jawaban. "Tidurlah. Tidur terlalu larut tidak baik. Aku juga akan langsung tidur setelah mandi sebentar." Kanya merasa hampa saat tangan besar nan kokoh itu tak lagi menyentuh kepalanya. Namun, tak dipungkiri bahwa ia cukup senang dengan momen singkat itu. Tidak sia-sia ia menunggu sambil menahan kantuk sejak beberapa jam yang lalu. Ia ikut berdiri mengikuti langkah Dimas dan berjalan menuju kamarnya. Tepat sebelum ia membuka pintu kamarnya ia menoleh pada Dimas. Tatapan mereka bertemu dan Kanya bisa merasakan desiran aneh di dadanya. "Selamat malam," ucapnya. Dimas tersenyum. "Selamat malam. Mimpi yang indah." *** Kanya masih tenggelam dalam lautan mimpi saat samar-samar telinganya menangkap suara ketukan di pintu. Setelahnya ia bisa mendengar suara langkah kaki yang mendekat dan menyingkap gorden kamarnya. Ia yang tak siap dengan cahaya mentari pagi yang menyilaukan segera menutup wajahnya dengan selimut. Namun, siapa pun orang itu yang berada di dalam kamarnya segera menyingkap selimutnya. Menghalanginya agar tidak terlelap kembali. "Bangun, Kanya. Tuan Dimas sudah menunggumu untuk sarapan bersama." Kanya mengenali suara lembut itu. Itu suara Bu Amirah. Ia meregangkan tubuhnya masih sambil berbaring dan perlahan-lahan membuka matanya. Dapat ia lihat senyum hangat Bu Amirah yang menyambutnya. Ia tersenyum dengan wajah mengantuk, sebelum menyadari sesuatu dan bangun seketika. "Ibu tadi bilang apa? Dimas menungguku untuk sarapan bersama? Apa aku tidak salah dengar?" Kanya bertanya dengan wajah terkejut. Rasa kantuknya sudah menguar entah ke mana. Sementara Bu Amirah mulai merapikan ranjangnya dengan senyuman. "Kamu tidak salah dengar. Tuan Dimas memang sudah menunggumu di ruang makan. Cepatlah, Tuan Dimas tidak suka menunggu." Tanpa membuang-buang waktu lagi, Kanya segera turun dari ranjang dan berlari menuju kamar mandi. Melaksanakan kegiatan bersih-bersih dirinya dan memakai pakaian yang rapi. Ia tidak mungkin memperlihatkan wajah jeleknya di hadapan Dimas dan menghancurkan pagi indah laki-laki itu. Sungguh Kanya juga tidak mengerti kenapa ia begitu peduli dengan hal-hal sederhana seperti itu jika berurusan dengan Dimas. Padahal mereka bukan siapa-siapa. Setelah memastikan penampilannya sudah rapi sekali lagi, Kanya kemudian berjalan keluar kamar dengan tergesa-gesa. Sementara Bu Amirah tersenyum melihatnya. Ia tahu gadis itu sedang dilanda kasmaran. Kanya menghela napas sejenak sebelum berjalan mendekat. Dimas sudah duduk manis di kursinya sambil membaca koran. Laki-laki itu masih belum menyadari keberadaannya. "Maaf membuatmu menunggu lama." Ia duduk dengan canggung di hadapan Dimas. Dimas tersenyum sambil melipat kembali koran yang sedang ia baca dan meletakkannya di atas kursi di sampingnya. "Tidak apa-apa. Koran ini cukup membuatku terlarut dan melupakan waktu sejenak." "Aku tidak tahu kalau hari ini kamu tidak masuk kantor." "Ah, aku lupa memberi tahu kalau seminggu sekali aku akan mengambil libur. Makanlah." Kanya mengangguk dan mulai menyantap makanannya. Hari ini menu sarapan mereka adalah Bubur Ayam Oatmeal. Ini pertama kalinya ia mengkonsumsi makanan itu dan mulai jatuh cinta dengan rasanya. Sepertinya, apapun yang dimasak oleh Bu Amirah akan selalu enak di lidahnya. "Aku ingin mengajakmu jalan hari ini. Kau tidak keberatan, kan?" Kanya yang sedang asyik menikmati makanannya hampir tersedak. Ia terbatuk-batuk dan segera meminum air yang diberikan Dimas. Laki-laki itu tampak cemas melihatnya. "Kau tidak apa-apa?" "Aku tidak apa-apa," jawab Kanya di sela-sela batuknya. Ia mengelap bibirnya dengan tisu yang tersedia di sana kemudian menatap meminta penjelasan pada Dimas. "Jalan-jalan?" "Iya." Dimas urung menyendokkan makanan ke mulutnya dan menatap Kanya. "Kupikir kau mungkin bosan di rumah terus. Jadi kupikir tidak ada salahnya untuk menghirup udara segar di luar sesekali." Ia meletakkan sendoknya di piring. "Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?" Kanya memalingkan pandangannya, mulai berpikir. Namun, sedetik kemudian ia menggeleng. "Tidak ada. Tapi aku akan senang di mana pun itu." Dimas tersenyum. "Aku punya tempat yang selalu aku kunjungi. Aku akan membawamu ke sana dan kuharap kau juga akan menyukainya." Kanya balas tersenyum. "Aku pasti akan menyukainya." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN