Kanya menutup novel yang sudah ia baca hingga selesai itu dan menyimpannya kembali ke tempatnya semula. Ia berjalan keluar kamar dan mendapati Bu Amirah yang sedang bersiap untuk pulang. Saat ia melihat jam dinding ia baru sadar bahwa ia cukup banyak menghabiskan waktu membaca novel.
"Ibu sudah mau pulang?" tanyanya sambil mengikuti pergerakan Bu Amirah dengan matanya.
"Iya, jam kerja ibu sudah selesai. Ibu sudah menyiapkan makan siang serta makan malam yang tinggal kamu panaskan di dalam kulkas."
Kanya jadi merasa tidak enak. Karena dirinya Bu Amirah harus berkerja lebih dari jam seharusnya. Biasanya Bu Amirah hanya datang untuk membuat sarapan dan bersih-bersih rumah di pagi hari. Namun, karena dirinya wanita itu harus tinggal beberapa jam lagi dan menyiapkan makan siang serta makan malam untuknya. Mengingat Dimas hanya ada di rumah saat tengah malam hingga pagi hari. "Terima kasih untuk kerja kerasnya hari ini."
Bu Amirah tersenyum. "Ini memang sudah kewajiban ibu." Setelah mengucapkan itu Bu Amirah keluar dari rumah meninggalkan Kanya dalam kesendirian.
Kanya memilih untuk menikmati makan siangnya sebelum menuju ruang tengah dan menikmati tontonan acara televisi. Sebelum akhirnya ia tertidur karena kebosanan.
***
Dimas memasuki rumahnya sambil melonggarkan dasinya sementara jasnya sudah ia lepaskan sejak tadi. Matanya menangkap sosok Kanya yang sedang tertidur pulas di atas sofa dengan keadaan televisi yang menyala menampilkan sebuah film.
Ia mematikan televisi dan duduk di samping Kanya yang masih tertidur. Ia tersenyum melihat gadis itu memakai dress yang ia beli sebelum berangkat kerja tadi pagi. Merasa lega bahwa ukurannya benar-benar pas dengan tubuh mungil Kanya.
Kanya membuka matanya saat merasakan sentuhan lembut di kepalanya. Samar-samar ia bisa melihat wajah Dimas yang tersenyum memandanginya. Matanya terbelalak dan segera mendudukkan tubuhnya. "Kamu sudah pulang?"
"Iya. Kalau mengantuk kamu bisa kembali tidur di dalam kamarmu."
"Tidak." Kanya mengucek matanya pelan. "Kamu sudah makan?" tanyanya sambil memperhatikan wajah Dimas yang baru kali ini ia sadari sangat tampan. Dengan tubuh tinggi dan atletisnya itu Kanya yakin semua wanita pasti akan tergila-gila padanya. Termasuk dirinya tentu saja.
"Belum." Sebenarnya Dimas berbohong. Sebelum pulang kerja ia selalu menyempatkan diri untuk makan malam bersama Kinan di restoran langganan mereka. Karena ia sudah memberi tahu Bu Amirah bahwa ia hanya perlu menyiapkan sarapan untuknya mengingat jam kerjanya yang padat. Namun, ia tidak ingin mengecewakan Kanya yang tampak semangat ingin makan malam bersamanya.
"Aku akan memanaskan makanan yang disiapkan Bu Amirah dulu." Kanya beranjak dari duduknya dan berjalan menuju dapur dengan semangat.
Sementara Dimas mengusap wajahnya dengan senyum tipis. Sejak pertemuan pertamanya dengan Kanya selalu membuatnya tertarik pada gadis itu. Wajah cantiknya serta sikap malu-malunya yang selalu menarik di mata Dimas. Dengan kehadiran gadis itu ia berharap dapat mengisi kekosongan di dalam hatinya sedikit demi sedikit.
***
"Terima kasih untuk semuanya. Termasuk baju yang sedang kupakai." Kanya membuka pembicaraan di sela-sela acara makan malam mereka. Semburat merah samar-samar terlihat di kedua pipinya saat mengucapkan kalimatnya.
Dimas memandangi Kanya yang menundukkan wajahnya menghindari bertatapan dengannya. Ia tahu gadis itu malu untuk sekedar membalas tatapannya. "Sama-sama. Kalau butuh sesuatu jangan sungkan untuk memintanya."
Kanya menghentikan gerakan tangannya yang bersiap menyendokkan makanan ke dalam mulutnya. Ia menatap Dimas yang ternyata juga sedang menatapnya. "Apa aku benar-benar bisa tinggal di sini?"
Dimas meletakkan sendoknya dan meminum air sebentar. Ia kembali memusatkan perhatian pada Kanya yang membalas tatapannya dengan ekspresi wajah yang canggung. "Kenapa?Aku sudah berjanji untuk melindungimu, bukan? Jadi sudah sewajarnya jika aku memberikanmu tempat untuk tinggal."
"Tapi aku merasa tidak enak menikmati semua ini tanpa memberikan apa pun."
"Kau hidup dengan tenang dan terhindar dari bahaya itu sudah cukup untukku. Karena perioritasku saat ini adalah keselamatanmu."
Kanya mendudukkan wajahnya. Entah kenapa makanan terasa sulit melewati tenggorokannya saat ini. "Padahal kita baru bertemu. Kau juga belum cukup mengenalku dengan baik untuk memberikan bantuan sebanyak ini. Kau tidak pernah berpikir siapa tahu saja aku hanya berpura-pura dan sengaja menjebakmu?"
Dimas menatap Kanya tajam. "Apa kau berusaha untuk menjebakku saat ini?"
Kanya menggeleng. Raut wajahnya dengan tegas menampik pertanyaan Dimas. "Tidak. Aku tidak pernah berusaha melakukan itu. Aku benar-benar dikejar penagih utang malam itu."
Dimas tersenyum. "Berarti kita aman. Kau membutuhkan pertolongan dan aku menawarkan bantuan. Jadi apalagi yang kau takutkan?"
Kanya bisa merasakan kehangatan di dalam hatinya mendengar itu. Ia tersenyum tipis. "Terima kasih. Aku akan membalas kebaikanmu suatu saat nanti."
Dimas tidak menjawab. Ia hanya tersenyum menanggapi ucapan Kanya meskipun ia tau bahwa gadis itu tidak bisa melihat senyumnya.
***
Saat pertama kali membuka matanya di pagi hari, hal yang Kanya lakukan selanjutnya adalah berlari keluar kamar. Namun, kembali ia tak menemukan sosok Dimas. Padahal ia sudah berniat untuk bangun pagi agar bisa melihat wajah laki-laki itu sebelum ia berangkat ke kantor. Tidak bisa dipungkiri bahwa ia merasakan hampa tanpa kehadiran laki-laki itu.
Perhatiannya teralihkan pada Bu Amirah yang lewat di depannya sambil membawa keranjang pakaian. Aroma sabun yang menyeruak dari baju-baju itu membuat Kanya yakin wanita itu baru saja selesai mencucinya dan berniat untuk menjemurnya.
"Selamat pagi, Kanya. Kau bangun terlambat hari ini."
Kanya tak bisa menyembunyikan perasaan malunya mendengar ucapan Bu Amirah. Ia memang bangun lebih lambat hari ini gara-gara tidak bisa tidur tadi malam. Mungkin itu efek dari ia yang sempat tidur beberapa jam sebelum Dimas pulang. Membuat matanya menolak untuk terpejam dan menyusuri alam mimpi kembali.
Ibu Amirah tersenyum melihat respon Kanya. Setelah mendengar semua cerita tentang gadis itu dari Dimas ia jadi merasa simpati. Apalagi jika mengingat anak perempuannya yang mati sebelum sempat merayakan ulang tahunnya yang pertama. Jika anaknya itu masih hidup, mungkin ia akan seumuran dengan Kanya sekarang. Maka dari itu ia sudah menganggap Kanya seperti anaknya sendiri, di luar dari fakta bahwa ia baru bertemu gadis itu sebanyak dua kali termasuk hari ini. "Ibu sudah menyiapkan sarapan untukmu. Makanlah, ibu mau menjemur pakaian ini dulu."
Kanya mengangguk. Dengan langkah ringan ia berjalan menuju dapur sementara Bu Amirah menatapnya dengan perasaan haru. Ia seperti sedang berbicara dengan anaknya sendiri. Setelahnya ia kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Kanya menatap makanan yang tersaji di atas meja dengan mata berbinar. Nasi goreng spesial yang menggugah selera serta teh panas yang masih mengepul. Ia mendudukkan tubuhnya di kursi dan mulai menyantap makanannya. Menikmati setiap rasa yang terasa nikmat di tenggorokannya.
Baru dua hari ia menikmati makanan Bu Amirah dan sejak saat itu pula ia jatuh cinta dengan masakan perempuan itu. Meskipun ia akui masakan Dimas juga tak kalah enaknya. Berbicara soal Dimas ia jadi merindukan laki-laki itu. Entah kenapa ia berharap agar selalu bisa menghabiskan waktu dengan laki-laki tampan itu. Padahal ia baru mengenalnya.
Ia tersenyum di sela-sela kunyahannya. Kemudian kembali menikmati makanannya dengan khidmat.
***