bc

Pria Bayaran Untuk Hatiku

book_age18+
5
IKUTI
1K
BACA
forbidden
love-triangle
family
HE
age gap
fated
second chance
friends to lovers
arranged marriage
kickass heroine
heir/heiress
blue collar
drama
tragedy
sweet
bxg
lighthearted
kicking
bold
campus
city
office/work place
love at the first sight
affair
polygamy
addiction
like
intro-logo
Uraian

#Warning21+

#AdultRomance

#MatureContent

Sheana, 35 tahun. Cantik, elegan, istri sah dari seorang pengusaha kaya raya. Tapi hidupnya sunyi. Pernikahannya dingin. Suaminya nyaris tak pernah peduli.

Sampai suatu malam, ia diajak ke klub malam oleh sahabatnya. Di sanalah ia bertemu Ellandra, 23 tahun—pria tampan, penggoda, dan jauh lebih muda. Seorang pretty boy escort profesional, tapi juga bukan pria biasa.

Ia adalah pewaris tunggal perusahaan farmasi raksasa, dan lebih gila lagi—putra dari partner bisnis suaminya sendiri.

Awalnya hanya permainan. Tubuh yang dibayar. Sentuhan tanpa perasaan.Tapi Ellan tahu cara menyentuh lebih dari sekadar kulit—ia menyentuh luka, sepi, dan sisi gelap Sheana yang tak pernah dilihat siapa pun.

Lambat laun, Sheana mulai mempertaruhkan segalanya. Termasuk pernikahannya.

Mereka tak pernah berniat jatuh cinta.Tapi cinta tumbuh di tempat paling terlarang—dalam bisikan pelan, dalam pertemuan dan ciuman curi-curi, dalam pelukan yang membuat dunia mereka runtuh... perlahan tapi pasti.

“Ellan, aku bukan perempuan muda yang bisa kasih kamu kehidupan sempurna. Aku... aku bahkan nggak bisa punya anak.”

Ellan menatapnya lama. Lalu mengangkat tangan, menyentuh pipi Sheana.

“Kalau aku pengen punya anak, aku bisa adopsi, atau beli anjing.” Ia tersenyum kecil. “Tapi kalau aku pengen kamu... ya cuma kamu yang bisa jadi kamu.”

Tapi cinta mereka bukan tanpa batas. Ada suami yang menyimpan rahasia besar. Ada pacar yang tak ingin ditinggalkan. Dan ada masa lalu yang bisa menghancurkan semuanya.

Ini bukan tentang siapa yang lebih muda atau lebih tua. Tapi siapa yang paling mampu membuatmu merasa hidup.

chap-preview
Pratinjau gratis
Satu Malam Untuk Menghidupkan Bara
“Kalau seperti ini... apa aku masih sama? Masih Sheana yang kamu kenal dulu?” Sheana menatap dalam, hanya beberapa inci dari wajah Ellan—baru saja bibirnya lepas dari pemuda yang terpaut belasan tahun darinya itu. Ellan tak menjawab. Tapi ia bertindak. Tangannya menangkap lengan Sheana, menariknya kembali. Dalam sentakan cepat, tubuh wanita itu dibalik, dan bibir mereka bertemu lagi. Ciuman itu rakus. Kasar. Terburu-buru. Tangannya menyusup ke balik kaos longgar Sheana, menyentuh kulit hangat yang selama ini hanya jadi imajinasi. Sentuhan berubah liar. Remasan menggantikan kelembutan. Bisikan Sheana yang memintanya tenang, tenggelam oleh gejolak yang tak terbendung. Pakaian mereka lepas satu per satu. Tak ada lagi jarak, hanya napas yang menyatu dan panas tubuh yang menyesakkan ruang. “Shea…” bisik Ellan. Panggilan itu nyaris seperti peringatan—tapi tak cukup kuat menghentikan amukan di dadanya. Tatapan mereka bersentuhan. Dalam mata Sheana ada getar—bukan penolakan, tapi ragu yang hanya Ellan bisa memahaminya. Ia tak berhenti. Melangkah, melebur, memecah rindu, sepi, dan luka yang tak kunjung pulih. “Aku kangen banget sama kamu, Shea…” desisnya. Tubuh mereka menyatu, dalam gerakan yang menyakitkan sekaligus penuh gairah. Mereka saling mencari, berganti posisi, berlayar dalam sunyi. Hingga akhirnya, dalam desakan terakhir, Ellan mencapai puncak. Ia tenggelam di pelukan Sheana, dengan wajah terkubur di leher wanita itu. Saat menarik diri, matanya menangkap sesuatu di d**a kiri Sheana. Sebuah tato kecil bertuliskan satu huruf. “Ini... inisial namaku?” bisiknya, nyaris tak percaya. Sheana tak menjawab. Tapi malam itu, waktu seolah berhenti di kamar yang hanya milik mereka. Cinta mereka adalah luka. Cinta mereka adalah kenangan. Terlalu menyakitkan untuk diingat, Tapi terlalu indah untuk dilupakan. Meski jarak dan waktu telah memisahkan mereka selama bertahun-tahun. *** Sheana bersandar di d**a Ellan. Kulit mereka masih hangat, napas mulai tenang. Jari-jari Ellan menyusuri rambutnya pelan, seperti ingin merekam semuanya. Ellan mencium ubun-ubunnya. “Aku masih ingat malam pertama kita ketemu,” bisiknya nyaris tak terdengar. Sheana tak menjawab. Tapi genggamannya pada tangan Ellan menguat—itu cukup sebagai jawaban. “You looked so... out of place. Tapi entah kenapa, kamu juga jadi wanita paling cantik di ruangan itu.” Suara Ellan nyaris mengantuk, tapi ingatannya tajam. “Waktu itu kamu ngeliat aku kayak orang asing yang nggak penting. But that night, something clicked.” “Stop,” gumam Sheana dengan mata terpejam. “You’re making it sound too romantic.” Ellan terkekeh pelan. “Biarin. Karena emang itu yang aku rasa. You were chaos... Tapi tiap kali deket kamu, dunia aku malah lebih tenang. Kamu bikin hidup aku jungkir balik, tapi aku juga nggak mau semuanya kembali kayak dulu.” Sheana diam. Hening menggantung. Tatapannya menyentuh langit-langit kamar yang remang, membangkitkan kenangan yang begitu jelas, begitu hidup. Beberapa tahun yang lalu, Ia berdiri di tepi lounge dengan segelas wine di tangan dan mini dress yang membingkai tubuhnya dengan anggun. Memperlihatkan lekuk yang tak lagi muda, tapi justru menampilkan kedewasaan yang mahal. “Lo cantik banget, sumpah,” bisik Grace, menyilangkan kaki sambil menyesap cocktail. “Tapi auranya… depressing abis. Kayak lo baru ditinggal nikah.” Sheana menghela napas. “Lo tahu yang lebih parah?” “Apa?” “Gue bahkan belum sempet ditinggal. Gue masih dijadiin figuran di rumah sendiri.” Grace mendecak pelan. “Sheana... lo tuh smart, classy, desirable. Masalahnya bukan di lo, tapi di suami lo yang super membosankan itu.” “Boring, tapi masih jadi alasan Mama Dirga nelpon gue tiap hari,” gumam Sheana. “Dan malam ini gue harus pulang cepet karena beliau mau nginap besok.” “Oh for f—” Grace menahan umpatan. “Forget Dirga. Malam ini, lo butuh… disruption. Dan—ah, perfect timing.” Sheana tidak menjawab. Tatapannya menelisik kerumunan, memperhatikan tawa berlebihan para wanita di antara rayuan palsu dari pria-pria muda yang menjual senyum seperti komoditas. Manis tapi tak sepenuhnya tulus. Semua terasa... kosong. “Gue nggak yakin ini ide bagus,” gumamnya, jari-jarinya menyentuh permukaan dingin gelas wine yang belum ia sentuh. Grace mendesah, lalu menyandarkan tubuh. “Lo tuh terlalu kaku, Na. Bukan berarti lo harus tidur sama siapa pun. Kadang, lo Cuma butuh seseorang buat dengerin lo sambil nemenin minum. That’s it.” “Dan cowok-cowok itu… dibayar buat pura-pura peduli?” sindir Sheana. “Enggak semua pura-pura. Ada yang emang pinter bikin perempuan ngerasa hidup lagi.” Grace melirik seseorang di kejauhan, lalu mengangkat tangan, memberi isyarat. Sheana buru-buru menarik lengannya. “Grace, serius. Gue Cuma pengen duduk, minum, terus pulang.” “Terlambat.” Grace terkekeh. “He’s coming.” Dan di detik itulah, Sheana melihatnya. Seorang pria muda, berpakaian hitam kasual yang dipadu dengan jaket kulit dan sneakers putih bersih. Rambutnya sedikit messy, senyumnya terlalu percaya diri, tapi bukan tipe yang menyebalkan. Usianya mungkin dua puluh lima, atau lebih muda. Tapi caranya berjalan... tidak seperti anak-anak. “Ellandra, ini Sheana. Temen gue,” kata Grace cepat, sebelum berdiri. “She’s a bit tense, so be nice.” “Always,” sahut Ellan, suaranya dalam dan lembut. Matanya langsung menatap Sheana tanpa ragu. “Hi.” Sheana meneguk ludah. “Grace, gue—” “Terserah lo mau ngobrol atau enggak. Tapi paling enggak, kasih kesempatan,” ujar Grace sambil berjalan menjauh, meninggalkan mereka berdua dalam jarak yang terlalu dekat untuk sebuah pertemuan pertama.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.7K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
60.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook