Satu Malam Untuk Menghidupkan Bara
“Kalau seperti ini... apa aku masih sama? Masih Sheana yang kamu kenal dulu?”
Sheana menatap dalam, hanya beberapa inci dari wajah Ellan—baru saja bibirnya lepas dari pemuda yang terpaut belasan tahun darinya itu.
Ellan tak menjawab. Tapi ia bertindak. Tangannya menangkap lengan Sheana, menariknya kembali. Dalam sentakan cepat, tubuh wanita itu dibalik, dan bibir mereka bertemu lagi.
Ciuman itu rakus. Kasar. Terburu-buru. Tangannya menyusup ke balik kaos longgar Sheana, menyentuh kulit hangat yang selama ini hanya jadi imajinasi.
Sentuhan berubah liar. Remasan menggantikan kelembutan. Bisikan Sheana yang memintanya tenang, tenggelam oleh gejolak yang tak terbendung.
Pakaian mereka lepas satu per satu. Tak ada lagi jarak, hanya napas yang menyatu dan panas tubuh yang menyesakkan ruang.
“Shea…” bisik Ellan.
Panggilan itu nyaris seperti peringatan—tapi tak cukup kuat menghentikan amukan di dadanya. Tatapan mereka bersentuhan. Dalam mata Sheana ada getar—bukan penolakan, tapi ragu yang hanya Ellan bisa memahaminya.
Ia tak berhenti. Melangkah, melebur, memecah rindu, sepi, dan luka yang tak kunjung pulih.
“Aku kangen banget sama kamu, Shea…” desisnya.
Tubuh mereka menyatu, dalam gerakan yang menyakitkan sekaligus penuh gairah.
Mereka saling mencari, berganti posisi, berlayar dalam sunyi. Hingga akhirnya, dalam desakan terakhir, Ellan mencapai puncak. Ia tenggelam di pelukan Sheana, dengan wajah terkubur di leher wanita itu.
Saat menarik diri, matanya menangkap sesuatu di d**a kiri Sheana. Sebuah tato kecil bertuliskan satu huruf.
“Ini... inisial namaku?” bisiknya, nyaris tak percaya.
Sheana tak menjawab. Tapi malam itu, waktu seolah berhenti di kamar yang hanya milik mereka.
Cinta mereka adalah luka.
Cinta mereka adalah kenangan.
Terlalu menyakitkan untuk diingat,
Tapi terlalu indah untuk dilupakan.
Meski jarak dan waktu telah memisahkan mereka selama bertahun-tahun.
***
Sheana bersandar di d**a Ellan. Kulit mereka masih hangat, napas mulai tenang. Jari-jari Ellan menyusuri rambutnya pelan, seperti ingin merekam semuanya.
Ellan mencium ubun-ubunnya. “Aku masih ingat malam pertama kita ketemu,” bisiknya nyaris tak terdengar.
Sheana tak menjawab. Tapi genggamannya pada tangan Ellan menguat—itu cukup sebagai jawaban.
“You looked so... out of place. Tapi entah kenapa, kamu juga jadi wanita paling cantik di ruangan itu.”
Suara Ellan nyaris mengantuk, tapi ingatannya tajam.
“Waktu itu kamu ngeliat aku kayak orang asing yang nggak penting. But that night, something clicked.”
“Stop,” gumam Sheana dengan mata terpejam. “You’re making it sound too romantic.”
Ellan terkekeh pelan.
“Biarin. Karena emang itu yang aku rasa. You were chaos... Tapi tiap kali deket kamu, dunia aku malah lebih tenang. Kamu bikin hidup aku jungkir balik, tapi aku juga nggak mau semuanya kembali kayak dulu.”
Sheana diam. Hening menggantung.
Tatapannya menyentuh langit-langit kamar yang remang, membangkitkan kenangan yang begitu jelas, begitu hidup.
Beberapa tahun yang lalu,
Ia berdiri di tepi lounge dengan segelas wine di tangan dan mini dress yang membingkai tubuhnya dengan anggun. Memperlihatkan lekuk yang tak lagi muda, tapi justru menampilkan kedewasaan yang mahal.
“Lo cantik banget, sumpah,” bisik Grace, menyilangkan kaki sambil menyesap cocktail. “Tapi auranya… depressing abis. Kayak lo baru ditinggal nikah.”
Sheana menghela napas. “Lo tahu yang lebih parah?”
“Apa?”
“Gue bahkan belum sempet ditinggal. Gue masih dijadiin figuran di rumah sendiri.”
Grace mendecak pelan. “Sheana... lo tuh smart, classy, desirable. Masalahnya bukan di lo, tapi di suami lo yang super membosankan itu.”
“Boring, tapi masih jadi alasan Mama Dirga nelpon gue tiap hari,” gumam Sheana. “Dan malam ini gue harus pulang cepet karena beliau mau nginap besok.”
“Oh for f—” Grace menahan umpatan. “Forget Dirga. Malam ini, lo butuh… disruption. Dan—ah, perfect timing.”
Sheana tidak menjawab. Tatapannya menelisik kerumunan, memperhatikan tawa berlebihan para wanita di antara rayuan palsu dari pria-pria muda yang menjual senyum seperti komoditas. Manis tapi tak sepenuhnya tulus. Semua terasa... kosong.
“Gue nggak yakin ini ide bagus,” gumamnya, jari-jarinya menyentuh permukaan dingin gelas wine yang belum ia sentuh.
Grace mendesah, lalu menyandarkan tubuh. “Lo tuh terlalu kaku, Na. Bukan berarti lo harus tidur sama siapa pun. Kadang, lo Cuma butuh seseorang buat dengerin lo sambil nemenin minum. That’s it.”
“Dan cowok-cowok itu… dibayar buat pura-pura peduli?” sindir Sheana.
“Enggak semua pura-pura. Ada yang emang pinter bikin perempuan ngerasa hidup lagi.” Grace melirik seseorang di kejauhan, lalu mengangkat tangan, memberi isyarat.
Sheana buru-buru menarik lengannya. “Grace, serius. Gue Cuma pengen duduk, minum, terus pulang.”
“Terlambat.” Grace terkekeh. “He’s coming.”
Dan di detik itulah, Sheana melihatnya. Seorang pria muda, berpakaian hitam kasual yang dipadu dengan jaket kulit dan sneakers putih bersih. Rambutnya sedikit messy, senyumnya terlalu percaya diri, tapi bukan tipe yang menyebalkan. Usianya mungkin dua puluh lima, atau lebih muda. Tapi caranya berjalan... tidak seperti anak-anak.
“Ellandra, ini Sheana. Temen gue,” kata Grace cepat, sebelum berdiri. “She’s a bit tense, so be nice.”
“Always,” sahut Ellan, suaranya dalam dan lembut. Matanya langsung menatap Sheana tanpa ragu. “Hi.”
Sheana meneguk ludah. “Grace, gue—”
“Terserah lo mau ngobrol atau enggak. Tapi paling enggak, kasih kesempatan,” ujar Grace sambil berjalan menjauh, meninggalkan mereka berdua dalam jarak yang terlalu dekat untuk sebuah pertemuan pertama.