Hanya Ingin Ada

1277 Kata
Ellan merasa ada semacam sakit di dadanya. Kenapa ia merasa seperti ini? Bukankah dia seharusnya merasa baik-baik saja? Sheana sudah menikah, itu adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri. Tapi kenapa aku nggak bisa melepaskannya? Matanya terpaku pada pasangan itu, meskipun mereka sudah berjalan melewatinya. Hatinya seperti terhimpit—sesuatu yang sangat ia coba hindari, namun tidak bisa ditahan. “Ellan.” Suara Alvino memecah lamunannya. Ia menoleh ke arah ayahnya, yang kini berdiri di samping meja. Ekspresi Alvino tidak berubah, tapi ada kejelasan di matanya. “Aku melihatmu. Barusan.” Ellan mengerutkan kening. “Daddy ngomongin apa sih?” “Kamu ngeliatin mereka,” jawab Alvino dengan tenang, meskipun ada nada peringatan dalam suaranya. “Ngeliatin dia. Jangan coba-coba ngelak.” Ellan mengalihkan pandangan. Ia merasa seperti tertangkap basah, meski sebenarnya ia tidak melakukan apa-apa yang bisa dikatakan salah. “Dad, ini nggak kayak yang Daddy pikir,” jawabnya perlahan. Alvino menyandarkan tubuhnya ke meja, menatap putranya dengan serius. “Kamu tahu kan, artinya melanggar batas?” Ellan mengangguk. “Yeah, I know.” “Terus kenapa kamu lakuin?” tanya Alvino, nada suaranya sedikit meningkat. “Aku nggak ngelakuin apa-apa,” jawab Ellan, merasa frustrasi. “I’m just… observing.” “Observing,” ulang Alvino dengan nada sinis. “Bukan itu yang aku lihat dari sini.” Ellan menghela napas dan berdiri dari kursinya. “Aku Cuma lagi coba nyari tahu, Dad. Serius, ini nggak kayak yang Daddy pikir.” “Tapi jangan biarkan itu menghancurkanmu, Ellan,” kata Alvino, suara penuh ketegasan. “Kamu nggak mau masuk ke jalan itu. Trust me.” Ellan terdiam. Pandangannya tak fokus, seperti sedang menimbang sesuatu yang terlalu rumit untuk dipecahkan. Ada pergolakan yang tak bisa ia redam, walau ia tahu apa yang dikatakan Alvino benar adanya. “Aku tahu ini salah,” gumamnya akhirnya. “Tapi kadang, rasa itu datang tanpa permisi. Tanpa aba-aba.” Alvino menatap putranya lama, lalu berkata lirih namun tajam, “Rasa itu bisa datang kapan saja. Tapi keputusan untuk tunduk padanya, itu pilihan. Dan setiap pilihan ada harga yang harus dibayar.” Ellan mendesah, jemarinya menggenggam sisi meja kayu tua yang dingin. “You don’t get it, Dad. Dia nggak bahagia. Dirga treats her like... like a trophy wife. Nggak ada rasa, nggak ada ruang buat dia jadi dirinya sendiri.” Alvino menajamkan pandangannya. “Dan itu jadi urusanmu?” “It’s not just about her. Tapi soal gimana rasanya waktu aku bareng dia. It feels… real. It feels right.” “Real atau nggak, Sheana itu tetap istri orang, Ellan!” suara Alvino meninggi, nadanya mengandung luka dan amarah. “Kamu nggak punya hak buat masuk ke hidup mereka. Sekalipun dia terluka, kamu bukan penyelamatnya.” Ellan menggeleng pelan, senyum getir terbit di sudut bibirnya. “I never said I wanna be her hero. Aku Cuma... ingin ada. Buat dia.” Alvino berdiri dari kursinya, berjalan ke arah jendela dengan langkah berat. Tangannya mengepal, tapi suaranya berusaha tetap tenang. “Kalian nggak cocok. Kamu masih muda, masih gampang terbakar emosi. Dia perempuan yang sudah terlalu lelah buat drama baru.” Ellan tetap duduk, tak berniat mundur. “But I’m not gonna hurt her. I swear. Kalau ada hal yang bisa diusahain, kenapa harus nyerah sekarang?” Alvino memejamkan mata sejenak, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan. “Terkadang, yang kamu anggap usaha, justru bentuk lain dari keegoisan.” Ellan menatap ayahnya, yang untuk pertama kalinya terlihat rapuh. Tapi tak ada niat menyerah dalam sorot matanya. “Maybe. Tapi ini satu-satunya hal yang belum bikin aku merasa hampa belakangan ini, Dad.” Hening mengambang. Alvino kembali ke kursinya, duduk dengan napas berat, lalu mengelus d**a pelan seolah mencoba meredakan badai yang terlanjur bergulung dalam dirinya. “Aku harap kamu tahu apa yang kamu lakukan, Ell. Karena kalau kamu salah langkah...” Ia berhenti di sana. Tak melanjutkan. Ellan tak menjawab. Ia hanya menatap ke luar jendela, ke arah yang tak memberi kepastian. *** Langit kota mendung. Begitu juga hatinya. Acara makan siang keluarga besar Dirga di sebuah restoran rooftop mewah semestinya jadi momen hangat. Tapi sejak awal, Sheana merasa ada yang mengganjal. “Sheana cantik banget hari ini,” ujar Nyonya Dian Maheswari sambil menyesap teh hijau dari cangkir porselennya yang berukir emas. Sheana tersenyum kecil. “Tapi sayang ya... kecantikan itu jadi sia-sia kalau belum bisa kasih cucu buat saya.” Semua terdiam. Bahkan derik sendok garpu seakan berhenti. Sheana mengangkat wajah, menatap mertuanya. Bibirnya bergetar, tapi ia masih bisa mengendalikan ekspresi. Matanya langsung mengarah pada Dirga, berharap setidaknya sang suami akan membela. Namun lelaki itu hanya menunduk, pura-pura menyibukkan diri dengan memotong steak. Sheana menelan ludah. “Mama, maaf, saya—” “Ah, Mama Cuma bercanda, kok.” Nyonya Dian tertawa kecil, anggun, seolah yang keluar dari bibirnya bukan racun, tapi pujian. “Kamu jangan terlalu sensitif. Biasa aja, dong.” Setelah acara makan siang selesai dan keluarga mulai berpencar, Sheana menarik tangan Dirga, membawanya ke sudut restoran, dekat tangga darurat yang sepi. “Kenapa kamu diem aja tadi?” suaranya tertahan, tapi matanya sudah berkaca-kaca. Dirga mendesah. “Na, itu Cuma bercanda. Mama kayak gitu memang orangnya. Kamu jangan terlalu diambil hati.” “Cuma bercanda?” Sheana menatap suaminya tak percaya. “Kamu sadar nggak dia mempermalukan aku depan semua orang? Aku ini istrimu, Ga. Masa kamu biarin aku digituin?” Dirga mengusap wajahnya, jelas mulai kesal. “Kamu aja yang terlalu drama.” Jebret. Hati Sheana runtuh saat itu juga. Tak ada pembelaan. Tak ada rasa dihargai. Hanya tuduhan bahwa dirinya terlalu sensitif. Ia memilih pergi. Menahan tangis dalam diam, sendirian di dalam lift yang sepi. Begitu tiba di lantai dasar, langkahnya mengarah ke lounge hotel, seolah tanpa sadar. Ia duduk di bangku marmer dekat dinding kaca, menatap taman kecil yang diselimuti gerimis. Matanya, masih menyimpan sisa basah. Dan di situlah, seseorang memanggil. “Sheana?” Sheana mengangkat wajah, buru-buru menyeka pipi. Ia menoleh, dan nyaris tak percaya siapa yang baru saja memasuki lounge sore itu. Pria tinggi berambut sedikit acak, dengan hoodie warna gelap yang kontras dengan senyum yang santai, berjalan ke arahnya dengan tangan dimasukkan ke saku celana. “Ellan?” Cowok itu mengangguk, lalu berdiri beberapa meter dari Sheana sebelum membungkuk sedikit dengan gaya formal ala drama Korea. “Maaf mengganggu. Aku janjian sama klien dan sedang nunggu dia… tapi malah ngeliat kamu sendirian di sini. Kamu gapapa?” Sheana mengusap hidung, mencoba memastikan tak ada jejak sisa tangisan di sana. Tapi Ellan, yang berdiri tak jauh darinya, sudah menangkap semburat merah di mata wanita itu. Sorot mata yang biasanya tajam kini tampak lebih sayu, dan ujung bibirnya sedikit tertarik ke bawah. Sehalus apa pun Sheana mencoba menyembunyikan, Ellan tahu persis ekspresi itu—ekspresi seseorang yang baru saja patah, lalu buru-buru menempelkan senyum agar tak ada yang melihat retaknya. Namun ia tidak ingin mempermalukan Sheana dengan rasa iba. Jadi Ellan hanya menarik kursi di hadapannya, lalu duduk santai sambil berkata pelan, “Lounge ini kayaknya punya magnet ya. Bikin orang-orang datang dalam kondisi hati yang... acak. Aku aja tadinya niat kerja, tapi sekarang malah pengen pesan cokelat panas.” Sheana berusaha tersenyum, meski sudut matanya masih berkaca-kaca. “Kamu kerja? Di tempat seglamor ini?” “Escorts need style, too,” jawab Ellan santai, lalu melirik menu di meja. “Mau aku pesankan juga? Kamu kelihatan… lapar.” Sheana mengerutkan kening. “Kamu yakin itu kode buat ‘lapar’?” “Ya. Lapar perhatian, misalnya,” jawabnya pelan, masih sambil memandangi Sheana. Sheana tertawa kecil. “Garing, Ell.” “Tapi lumayan berhasil bikin kamu senyum.” Untuk sejenak, Sheana diam. Lalu, dengan suara lebih lembut, ia bertanya, “Kamu tahu ya?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN