Tandai jika masih terdapat kesalahan kepenulisan, EYD, Grammar dan lain sebagainya dalam cerita ini. Terima kasih.
_________________________________________________________________________________________________________
New York, three years ago….
Salju telah turun di kota New York sejak satu minggu yang lalu. Suhu dingin mulai menemani kota New York. Namun itu tak lantas membuat seorang wanita dengan mata biru dan rambut brunnettenya serta merta bermalas-malasan karena cuaca dingin pagi ini. Wanita dengan balutan dress biru muda selutut itu malah terlihat sangat sibuk berkutat dengan peralatan dapurnya.
“Nona, sup asparagusnya mau dihidangkan sekarang?” tanya seorang pelayan muda. Wanita yang tak lain adalah Miranda pun seketika itu menoleh dan menatap ke arah pelayan tadi dengan senyuman indahnya.
“Iya, hidangkan saja sekarang. Nanti omlet dan segelas kopi hangatnya akan aku hidangkan sendiri,” jawab Miranda dengan sopan. Dan pelayan itu pun mengangguk dan mulai menyajikan hidangan yang telah dibuat oleh Miranda di meja makan.
Beberapa saat kemudian, Miranda juga ikut menghidangkan omelet dan segelas coklat dan kopi hangat di atas meja makan.
“Joy, aku akan membangunkan Sean dulu,” ujar Miranda yang kemudian dijawab dengan sebuah anggukan oleh pelayan yang bernama Joy tadi.
Miranda pun kemudian berbalik dan mulai berjalan menuju kamar utamanya. Begitu sampai di depan pintu kamar, Miranda membuka pintu kamar itu dengan perlahan. Ia masuk ke dalam kamar dan langsung mendapati Sean yang masih setia bergelung manja dengan selimut tebalnya. Padahal, jam delapan nanti, katanya pria itu akan mengadakan rapat dengan dewan direksi kantor.
“Sean, ayo bangun! Ini sudah pagi!” ujar Miranda sambil menepuk pundak bidang suaminya. Namun setelah beberapa saat masih tidak ada jawaban dari Sean. Dan Miranda pun kembali membangunkan Sean.
“Sean, ayolah! Tidakkah kamu ingin bangun dan bersiap? Sarapannya bisa dingin, dan kamu akan terlambat datang ke kantor nanti,” ujar Miranda yang tak pernah bosan membangunkan sang suami.
Sean yang terus menerus mendengar ucapan Miranda pun akhirnya bangun dengan kesal. Dia melempar selimut tebalnya dengan kasar dan kemudian menatap tajam Miranda yang kini sudah berdiri di pinggir ranjangnya.
“Tidak bisakah kau diam? Aku masih mengantuk!” bentak Sean dengan kencang hingga membuat Miranda menunduk takut.
Sejujurnya, Miranda masih takut dengan bentakan Sean yang seperti ini. Sejak awal menikah, sikap Sean berubah sangat drastis. Tidak ada lagi pria yang memberinya bunga di pagi hari seperti saat mereka pendekatan, tidak ada lagi pria yang berkata lembut dan bersikap manis padanya setelah mereka resmi menikah.
Namun Miranda masih mentolerir hal itu, mungkin banyaknya pekerjaan membuat Sean menjadi sedikit pemarah.
“Maaf,” cicit Miranda. Lalu Sean pun bangkit dari ranjangnya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk bersiap. Miranda yang melihat itu pun kemudian langsung menyiapkan kebutuhan Sean. Mulai dari pakaian, sepatu, berkas dan yang lainnya.
Sekitar lima belas menit kemudian, Sean pun keluar dengan lilitan handuk di pinggangnya, hingga memperlihatkan otot-otot bisepnya yang menonjol. Terlihat begitu tampan dan sexy.
“Ini pakaianmu,” ujar Miranda sambil menundukkan kepalanya. Dan Sean pun segera memakai pakaiannya di ruang ganti. Setelah beberapa saat, Sean pun keluar dan Miranda langsung bersiap memakaian dasi dan jasnya.
“Apa sarapan hari ini?” tanya Sean dengan dingin. Miranda yang sedang memakaikan dasi pun mendongak sejenak.
“Aku membuat sup asparagus, omelet dan juga segelas kopi hangat untukmu,” jawab Miranda dengan lembut.
“Selesai,” ujar Miranda saat dia telah selesai memasangkan dasi dan jasnya. Sean pun segera keluar dari kamarnya, diikuti oleh Miranda yang membawa tas kerja Sean. Mereka berdua menuruni anak tangga satu persatu. Sapaan dari para pelayan disambut ramah oleh Miranda.
Miranda pun segera mengambilkan Sean makan ketika suaminya telah duduk di kursi makan. Mereka berdua makan dalam keheningan, seperti hari-hari yang lalu.
“Aku pergi,” ujar Sean setelah menyelesaikan sarapannya. Miranda pun ikut bangkit dan mengantar kepergian Sean ke depan pintu.
“Hati-hati!” ujar Miranda sambil melambaikan tangannya. Sean hanya diam saja dan baru saja ia akan memasuki mobil, dia kembali membalikkan badannya.
“Bersiaplah malam ini, kita akan menghadiri pesta pernikahan salah satu rekanku,”
“Baiklah,” ujar Miranda dengan senyuman polosnya. Setelah itu, Sean pun masuk ke dalam mobilnya dan pergi.
“Have a nice day.…” gumam Miranda sambil melihat ke arah mobil suaminya yang baru saja pergi meninggalkan mansion. Setelah itu Miranda pun kembali masuk ke dalam mansion.
_________________________________________________________________________________________________________
New York
10.00 AM
Russel Group Company.
Sean sedang berkutat di depan komputernya ketika sekretarisnya mengetuk pintu.
Tok!
Tok!
Tok!
“Masuk!” teriak Sean dan tak lama sekretarisnys pun masuk dan langsung menunduk hormat.
“Sir, Miss. Parker datang,” ujar sekretaris Sean yang bernama Lindsay. Senyum langsung terbit di wajah Sean begitu mendengar nama Arabella.
“Persilahkan dia masuk!” ujar Sean lalu bangkit dari tempat duduknya.
“Yes, Sir,”
Dan tak beberapa lama kemudian, sosok Arabella Parker, sang model yang sedang naik daun asal Italia pun masuk ke dalam ruang kerja Sean.
“Russel!!!” teriak Arabella dengan kencang lalu memeluk kekasihnya. Ya, Arabella adalah kekasih Sean Russel McAdams. Seorang taipan kaya raya yang sudah memiliki istri.
“Miss you babe!!!” ujar Arabella lalu mengecup bibir Sean. Sean pun balas memeluk pinggang Ara dengan erat dan menatap kekasihnya itu dengan penuh cinta.
“Miss you too babe,” ujar Sean yang langsung kembali menyambar bibir Arabella. Arabella pun menyambut dengan senang hati kecupan bibir kekasihnya, dan mereka kembali melakukan aktivitas panas itu di kantor Sean.
Sedangkan Lindsay yang ada di luar pun hanya bisa menggelengkan pelan kepalanya.
“Huh... Pernikahan macam apa yang sedang dijalani oleh Mr.McAdams dan istrinya?” gumam Lindsay dengan penuh ironi.
“Dasar laki-laki, sudah ada istri yang sempurna di rumah, masih saja mencari jajanan di luar. Sepertinya, tipe idealku hanya akan berlabuh pada Leonardo Maxmillan. Tidak ada pria kaya raya dan setia seperti dia di dunia ini. Oh, andai aku yang jadi sekretarisnya,” ujar Lindsay membandingkan antara sang boss dengan pengusaha tersohor asal California, Leonardo Daveron Maxmillan.
_________________________________________________________________________________________________________ McAdams Mansion8.55 PM
Miranda kini sudah bersiap dengan gaun satin merahnya yang menjuntai hingga mata kaki. Tubuh idealnya begitu terlihat sempurna malam ini. Rambut brunettenya ia gelung ke atas. Kalung berlian yang Sean berikan bertengger indah di lehernya, senada dengan anting dan cincin yang ia kenakan.
“Anda benar-benar sangat cantik Nona,” puji salah seorang penata rias yang merias Miranda.
“Apakah Anda tidak berniat untuk terjun ke dunia modelling? Jika Anda mau, Anda bisa menjadi model papan atas kelas dunia,” ujar salah satu penata riasnya yang lain. Miranda tersenyum kecil dan menggeleng.
“Aku lebih tertarik dengan dunia sosial, Bi,” jawab Miranda dengan lembut.
Keempat penata rias itu pun tersenyum. Begitu beruntungnya seorang Sean Russel McAdams memiliki istri se-sempurna Miranda, tidak salah jika Sean begitu mencintai istrinya.
“Nona, Tuan sudah menunggu Anda,” ujar salah satu pelayan yang masuk ke dalam kamar Miranda. Miranda tersenyum.
“Baik, aku akan segera turun,” ujar Miranda.
“Terima kasih atas kerja keras kalian sejak tadi sore,” ujar Miranda kepada ke-empat penata riasnya.
“Kembali kasih untuk Nona Miranda yang cantik,” ujar mereka dengan kompak hingga membuat Miranda tersenyum lebar. Akhirnya Miranda pun turun ke bawah untuk menemui Sean yang sudah siap di dalam limusin hitam mereka.
Miranda pun masuk ke dalam mobil dan melirik ke arah Sean. Pria itu terlihat sangat tampan dengan balutan tuxedo hitamnya. Rambut tebalnya ditata dengan begitu rapi hingga menguarkan aura maskulin yang sangat kental. Sedangkan Sean yang merasa diperhatikan pun hanya berpura-pura tidak tahu. Dia malas menanggapi Miranda, yang sama sekali tidak ia cintai.
Keheningan menemani mereka sepanjang perjalanan menuju mansion keluarga Khiel. Hingga akhirnya mereka sampai di tempat yang dituju. Pintu limusin hitam itu pun terbuka.
“Pasang senyumanmu!” bisik Sean sebelum akhirnya turun diikuti oleh Miranda yang dengan sigap menggandeng tangannya. Semua kamera langsung tertuju pada kedua pasangan paling hot di New York. Senyuman mereka berdua menjadi bahan sorotan kamera di sana sini, hingga akhirnya mereka berdua masuk ke dalam mansion luas milik keluarga Khiel.
Begitu masuk, Sean langsung menemui teman-teman bisnisnya, meninggalkan Miranda sendirian di meja yang sudah dipersiapkan. Miranda pun duduk sendirian di sana. Miranda tidak suka dengan pesta, karena ketika pesta berlangsung, maka Sean akan meninggalkannya. Miranda hanya duduk diam sambil sesekali menanggapi sapaan dari para wanita-wanita cantik yang juga hadir di sana.
Hingga pesta dimulai dan akan segera usai, Sean tak kunjung kembali dan itu membuat Miranda terpaksa mencarinya. Miranda mencari sosok sang suami hingga ke lorong menuju kolam renang. Di sana tempatnya sepi, karena tempat ini akan digunakan ketika jam 12 malam nanti, di mana pesta yang sesungguhnya akan dimulai.
Miranda terus berjalan menyusuri lorong yang sudah didekorasi dengan begitu indahnya. Miranda terus berjalan hingga akhirnya dia mendengar suara percakapan dengan samar-samar.
“Kau akan kembali ke Itali lagi?” ujar seorang pria sambil memeluk seorang wanita dengan sangat mesra.
“Hm, aku masih ada jadwal pemotretan besok,” jawab wanita itu lalu memeluk sang pria dengan begitu mesra.
“Aku masih merindukanmu Ara,” ujar seorang pria yang tak lain adalah Sean dan wanita itu adalah Arabella Parker. Ya, Arabella memang diundang ke pesta ini, karena salah satu temannya adalah anggota keluarga Khiel.
“Kau kan ada istrimu. Dia juga cantik kan,” ujar Ara menggoda sang kekasih. Sean berdecak tak suka.
“Kau tahukan, jika aku menikahinya hanya untuk menutupi hubungan kita? Aku bahkan harus rela mendekati gadis kampungan sepertinya satu tahun yang lalu. Beruntung dia mau menikah denganku, dan dengan begitu aku bisa memilikimu,” ujar Sean lalu mengecup bibir Ara dengan mesra tanpa menyadari jika Miranda mendengar dan melihat semuanya.
Air mata pertama Miranda selama pernikahannya jatuh untuk Sean.
Miranda tidak bisa berkedip untuk beberapa saat. Rasanya begitu sesak hingga ia bahkan sulit untuk bernapas. Miranda menjadi merasa sangat bodoh ketika dulu Sean mendekatinya dengan dalih ‘love at the first sight’. Mengetahui tentang kebenaran yang sesungguhnya sangat menyakitkan untuk Miranda.
Ketika Sean bersikap dingin padanya, Miranda masih bisa bertahan. Ketika Sean mengabaikannya, Miranda masih bisa bertahan. Ketika Sean tidak pulang berhari-hari ke mansion, Miranda masih bisa bertahan. Dan bahkan, ketika Sean mengigaukan nama wanita itu di dalam mimpinya, Miranda juga masih bisa bertahan.
Tapi...untuk kali ini....
Miranda tidak bisa lagi bertahan. Ia rasa, ini adalah puncak rasa lelahnya. Dengan masih menatap kedua insan yang tengah b******u mesra itu Miranda pun menarik napas pelan dan bergumam....
“Aku....menyerah.”
#To be Continued