Tandai jika masih terdapat kesalahan kepenulisan, EYD, Grammar dan lain sebagainya dalam cerita ini. Terima kasih.
_________________________________________________________________________________________________________
New York
6.30 AM
Miranda terbangun dari tidurnya ketika sinar matahari masuk melalui celah-celah jendela kamarnya. Miranda mulai bangkit dengan perlahan dan melihat ke arah samping, di mana Sean tengah tertidur pulas. Ya maklum saja jika Sean tertidur pulas, Sean bahkan baru kembali ke mansion pukul empat pagi.
Miranda tersenyum penuh ironi, mungkin Sean mengantar kepergian kekasihnya semalam sehingga dia pulang sangat telat. Bukan hal baru bagi Miranda, jika Sean pulang sepagi itu.
Miranda pun kembali teringat tentang apa yang ia lihat dan ia dengar semalam. Dan rasa sakit itu kembali menyerangnya tepat di ulu hati hingga membuat Miranda cepat-cepat bangkit dan berlari menuju kamar mandi, sebelum tangisnya pecah di hadapan Sean.
Gerakan Miranda yang terburu-buru dan terkesan kasar tentu menimbulkan suara, dan itu membuat Sean akhirnya juga terbangun dengan perlahan. Sean meraba-raba letak ponselnya di atas nakas dan melihat jam.
“Ahh sudah jam 6.36 ternyata,” gumam Sean lalu melirik ke arah samping di mana Miranda sudah tidak ada seperti biasanya.
Sean kemudian bangkit dan membuka tirai gorden yang menjuntai ke lantai agar cahaya matahari bisa masuk dengan sempurna. Pria dengan tubuh atletis itu kemudian duduk di single sofanya dan menikmati cahaya matahari pagi dengan tenang.
Sedangkan di dalam kamar mandi, Miranda tengah menangis sepuas yang ia suka. Ia menumpahkan semua rasa sakitnya pada tangisan itu. Miranda mencintai dan mempercayai Sean dengan segenap hati yang ia miliki, tapi pria itu malah menghancurkan hatinya dengan begitu kejam.
Mungkin memang benar, jika pria kaya raya yang mencintai gadis miskin hanya ada di dalam dongeng ataupun film. Tidak ada yang namanya ’Fairy Tale Wedding’ antara gadis miskin dengan pria kaya. Semua hanya fiktif belaka, dan Miranda adalah salah satu orang bodoh yang pernah mempercayai hal semacam itu terjadi di dunia nyata.
Dengan gemetar, Miranda meraih ponselnya, dia menelfon satu-satu temannya di antara golongan kelas atas. Ia beruntung bisa berteman dengan gadis cantik dan ramah seperti Kylie Xander. Meskipun Kylie berasal dari golongan kelas atas, tapi Kylie tidak pernah memandang rendah dirinya yang berasal dari golongan bawah.
“Hallo?”
“Oh, hi Kylie,” ujar Miranda dengan suaranya yang bergetar hebat. Sontak itu membuat wanita yang ada di seberang sana pun panik.
“Ada apa Anne? Kenapa kau menangis?!” tanya Kylie dengan begitu panik. Miranda menarik napas pelan.
“Bisakah kau mencarikanku seorang pengacara handal?” tanya Miranda dengan mengigit bibir bawahnya.
“Pengacara? Untuk apa?” tanya Kylie dengan heran.
“Tolong carikan saja Ky, aku akan meceritakannya nanti. Aku mohon padamu,”
“Okay...aku akan menunggumu di cafe biasa siang ini. Kita akan berbicara di rumahku saja. Okay?”
“Hm…..” jawab Miranda.
“Yasudah aku tutup dulu teleponnya,”
Dan sesaat kemudian, sambungan telepon pun terputus. Miranda kemudian bangkit dan menatap dirinya di depan cermin besar yang ada di dalam kamar mandi yang super mewah itu. Miranda memandangi wajahnya yang terlihat menyedihkan.
Jika dibandingkan dengan kekasih Sean, tentu dia kalah jauh. Kekasih Sean memiliki wajah cantik dan menawan. Dia juga seorang model terkenal, sangat berbeda dengannya yang merupakan seorang pelayan cafe dengan wajah yang menurutnya biasa-biasa saja. Pantas jika Sean menyebutnya gadis kampungan.
Miranda pun akhirnya mencuci wajahnya dengan air keran. Dia menyikat giginya, mencepol asal rambut brunettenya dan keluar dari sana. Begitu dia keluar, sosok Sean sudah berdiri di depan pintu kamar mandi dengan wajah datarnya yang tampan.
Miranda seketika itu juga menunduk dan menjauh. Miranda memilih untuk membereskan tempat tidurnya. Dia tidak akan sanggup menatap wajah itu setelah semalam. Rasanya menyakitkan.
Sean yang melihat gelagat aneh Miranda dari semalam pun hanya bisa menatapnya sekilas, sebelum akhirnya dia masuk ke dalam kamar mandi. Bersiap untuk membersihkan tubuhnya dan berangkat ke kantor. Dia bersikap acuh tak acuh pada Miranda, seperti hari-hari yang lalu.
Miranda menghembuskan napas pelan begitu ia melihat Sean masuk ke dalam kamar mandi. Miranda kemudian menyiapkan pakaian Sean seperti biasanya. Ini mungkin akan menjadi rutinitas paginya yang terakhir sebelum dia menggugat cerai Sean.
Ya, Miranda telah memutuskan untuk menggugat cerai Sean secepatnya. Miranda sudah lelah dengan semua ini. Dia juga ingin menemukan kebahagiannya, mungkin ini akan menjadi pelajaran untuknya di kemudian hari agar tidak mudah percaya pada laki-laki.
Ini juga demi hubungan lelaki itu dengan kekasihnya. Miranda tidak ingin tahu kenapa Sean menikahinya jika dia sudah memiliki kekasih. Saat ini Miranda hanya ingin bercerai dan mmemulai hidup baru. Melupakan jika dia pernah menikah dengan pria kaya raya seperti Sean.
Terdengar mudah, tapi Miranda tahu jika bercerai dari Sean pasti tidaklah semudah bayangannya. Terlebih, yang menggugat adalah nanti adalah Miranda. Ah, membayangkannya saja sudah membuat Miranda ketakutan.Tapi mau bagaimana lagi? Dia juga tidak ingin melanjutkan pernikahan ini.
Mencoba berhenti berperang dengan pikirannya, Miranda pun kembali melanjutkan aktivitas paginya. Setelah menyiapkan kebutuhan Sean, Miranda pun memilih untuk memilah pakaiannya di dalam lemari. Dia tidak akan membawa satu baju pun dari dalam lemari mewah ini. Dia hanya akan membawa pakaian yang ia bawa ketika pertama kaki memasuki mansion mewah ini.
Tak lama, Sean pun masuk, dan Miranda segera menutup pintu lemarinya dengan sedikit kasar hingga kembali membuat Sean menatap heran ke arahnya.
“Mana bajuku?” tanya Sean, lalu Miranda dengan segera menyerahkan satu set pakaian kemeja itu dengan diam. Dan lagi-lagi, hal itu membuat Sean heran.
Ya Sean tahu, jika wanita yang berstatus sebagai istrinya ini memang seorang wanita yang pendiam dan pemalu. Tapi entah kenapa, dari tadi malam hingga pagi ini, Sean merasa jika Miranda menghindarinya.
Wanita itu bahkan tidak menyapa ataupun mengajaknya berbicara seperti hari-hari biasanya. Dan jangan lupakan kepalanya yang terus menunduk seolah menghindari pandangan matanya.
Tapi lagi dan lagi, egonya membuat Sean mengendikkan bahu acuh. Tanpa mau ambil pusing, Sean masuk ke dalam ruang ganti dan memakai bajunya, meninggalkan Miranda yang masih setia berdiri di depan pintu, menunggu Sean selesai.
Dan benar saja, tak berapa lama kemudian, Sean datang dengan begitu tampannya hingga membuat Miranda mengangkat bibirnya sedikit. Ingat hanya sedikit, karena Sean pun tidak melihat senyuman kecil penuh makna itu.
“Ini yang terakhir,” gumam Miranda dengan pelan, sebelum akhirnya dia memasangkan dasi di leher Sean.
Miranda memasangkan dasi itu dengan sangat hati-hati. Tak bisa dipungkiri jika Miranda sedang merasa sedih sekarang. Tidak ada seorang istri yang mau bercerai dari suami yang ia cintai. Dan tidak ada seorang istri manapun yang mau suaminya berselingkuh.
Namun apa mau dikata? Sean tidak pernah mencintainya, karena Sean telah memiliki cintanya sendiri. Mungkin Miranda tetap akan bertahan, jika saja Sean masih sendiri. Tapi....sudahlah.
Dan tak bisa dipungkiri juga, jika Sean pun merasakan hawa yang berbeda hari ini. Dari gerakan Miranda, Sean dapat merasakan jika wanita itu sedang memperlambat gerakkannya. Wanita itu seolah ’menghayati’ setiap gerakkannya memasang dasi pagi ini.
“Selesai,” gumam Miranda dengan pelan lalu menepuk pelan d**a bidang Sean untuk merapikan jasnya. Baru saja ia akan menjauh, tapi tangan besar Sean sudah lebih dulu mencekal pergelangan tangannya.
Dan tentu saja hal itu membuat Miranda tersentak kaget. Ini adalah pertama kalinya mereka bersentuhan tanpa adanya kamera yang mengintai ataupun tanpa adanya kewajiban yang harus dijalankan seperti saat ia memasangkan dasi suaminya.
Sean pun merasakan hal yang sama. Sean sendiri juga terkejut dengan apa yang ia lakukan. Terlebih ketika mata biru Miranda menatapnya dengan teduh.
Miranda dengan ragu membalikkan tubuhnya dan menatap Sean. Dan Sean dengan segera melepas cekalan tangannya di tangan Miranda.
“Hm...apa kau sakit?” tanya Sean dengan ragu-ragu. Miranda langsung menggeleng pelan, sebelum akhirnya dia keluar dari kamar, meninggalkan Sean dengan sejuta rasa anehnya tanpa suara sedikit pun.
Sean pun, akhirnya ikut turun ke bawah. Mereka berdua sarapan dalam diam seperti hari-hari yang lalu. Sean sesekali melirik ke arah Miranda yang memakan sarapannya dengan tenang.
“Ekhm!!” Sean berdehem keras untuk mencairkan suasana. Tapi nampaknya itu tidak berhasil, karena Miranda langsung bangkit dari tempat duduknya begitu dia selesai sarapan.
“Ada apa dengan hari ini?” gumam Sean dengan bingung. Sean pun akhirnya bangkit dan bersiap untuk ke kantor. Miranda yang baru kembali dari dapur pun mengantar Sean hingga depan pintu.
Miranda hanya melihatnya tanpa mau memberinya ucapan yang satu tahun ini selalu ia ucapkan ketika Sean akan berangkat ke kantor, seperti ”hati-hati di jalan”, “have a nice day” ataupun yang lainnya.
Sean yang gengsi pun langsung pergi begitu saja tanpa mau menunggu Miranda mengucapkan kata itu. Begitu juga dengan Miranda yang langsung masuk ke dalam mansion dan bersiap untuk pergi.
Ya, pergi. Pergi dari mansion ini hingga perceraiannya.
Miranda masuk ke dalam kamarnya, dia membereskan semua pakaiannya dan kemudian membersihkan dirinya. Miranda kemudian kembali menelepon Kylie dan mengatakan jika dia akan datang ke cafe biasa tempat mereka bertemu, tapi Kylie malah langsung menyuruh Miranda untuk datang ke mansionnya sekarang. Dan Miranda pun setuju.
Setelah selesai, Miranda turun dengan membawa koper yang sama saat pertama kali dia datang ke mansion mewah ini. Para pelayan pun banyak yang menghampiri Nona muda mereka.
“Nona mau ke mana? Kenapa membawa koper seperti itu?” tanya seorang pelayan. Mereka menatap Miranda denagn raut bingung. Miranda hanya bisa tersenyum dan kemudian memeluk satu persatu pelayanan yang sangat bersikap baik padanya selama satu tahun ini.
“Aku minta maaf jika ada salah pada kalian semua selama ini,” ujar Miranda. Kalimat Miranda yang seperti itu semakin membuat para pelayan bingung olehnya.
“Tentu saja! Tapi Nona tidak perlu meminta maaf, karena Nona tidak memiliki salah kepada kami. Nona mau ke mana? Kenapa Nona membawa koper?” tanya salah satu pelayan. Miranda pun tersenyum kecil.
“Aku mau menginap di rumah temanku sebentar. Aku pamit dulu,” ujar Miranda dan kemudian pergi dari mansion itu tanpa bisa dicegah oleh siapapun. Miranda melangkahkan keluar kakinya dari mansion mewah itu, tanpa berbalik lagi.
_________________________________________________________________________________________________________
7.00 PM
Sean baru pulang dari kantornya ketika hari mulai sore. Pintu mansion itu pun terbuka, dan seorang pelayan menyambutnya. Sean masuk tanpa sepatah kata pun. Dia begitu lelah hingga akhirnya memilih untuk segera masuk ke dalam kamar. Begitu ia masuk, kamar sudah dalam keadaan gelap gulita.
“Apa dia sudah tidur di jam sore seperti ini?” gumam Sean lalu menyalakan lampu kamar. Begitu lampu menyala, Sean langsung melihat ke sekelilingnya, kamar itu terlihat kosong seperti tidak ada tanda-tanda ada seseorang tinggal di kamar ini. Tapi lagi-lagi sikap acuh Sean dan rasa lelahnya membuat pria itu akhirnya memilih untuk tidur, dia tidak peduli dengan wanita itu.
_________________________________________________________________________________________________________
Kylie’s Mansion
“Apa?!”
“Dia....berse-.…Arabella?! Oh God.…”
Kylie bahkan tidak dapat menyelesaikan perkataannya dengan baik setelah Miranda menceritakan semuanya. Kylie tidak habis pikir bagaimana bisa, pernikahan yang terlihat bahagia itu ternyata tidak seperti bayangannya. Kylie pun langsung memeluk Miranda yang sudah menangis terisak.
“Jadi kau mau bercerai dengannya?” tanya Kylie dan Miranda mengangguk.
“Itu bagus Anne! Lelaki b******n seperti dia memang tidak pantas mendapatkanmu. Kau tenang saja, hari senin nanti, surat gugatanmu akan dikirim kepadanya, apapun yang terjadi,” ujar Kylie dengan geram. Dan Miranda hanya bisa mengangguk pelan dengan isakan yang mengiringinya.
_________________________________________________________________________________________________________
McAdams’s Mansion
7.45 AM
Sean menggeliat dari tidurnya ketika cahaya matahari masuk ke dalam celah-celah jendela kamarnya. Cahaya matahari pagi terasa sangat hangat menyinari weekend hari ini. Sean mengusap kedua matanya dan melihat ke sekeliling kamar. Hingga akhirnya, pandangannya jatuh pada sisi kiri tempat tidur yang masih terlihat sangat rapi, seolah tidak tersentuh oleh siapapun.
“Apa dia sudah turun?” gumam Sean lalu bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah dia selesai, Sean kemudian keluar dari kamar. Namun anehnya, Miranda tetap tidak ada di sana. Biasanya wanita itu sudah menyiapkan baju yang akan ia kenakan. Tapi pagi ini, semuanya terasa berbeda.
Semuanya terasa sepi.
“Anne?” panggil Sean dengan nada suara yang terdengar sangat datar. Sean kemudian memeriksa walk in closet. Tapi tidak ada siapapun di sana.
“Ke mana wanita itu?” geram Sean yang kemudian memakai pakaiannya dengan cepat dan langsung turun ke bawah setelahnya.
“Selamat pagi, Tuan,” sapa beberapa orang pelayan. Sean melewati mereka dengan langkah lebar menuju dapur.
“MIRANDA!!!” teriak Sean dengan kencang begitu ia memasuki area dapur. Sean melihat ke sekeliling dapur, namun Miranda tidak ada di sana.
“Di mana Miranda?!” bentak Sean pada seluruh pelayan yang sedang menunduk takut.
“Aku tanya di mana wanita itu?!” tanya Sean dengan suara yang lebih keras.
“Aah… jadi kalian tidak mau memberitahuku ya? Kalau begitu-…”
“Selamat pagi….” sapa seorang wanita yang baru saja masuk ke dalam manison. Dan seketika itu juga Sean langsung berbalik dan melayangkan tatapan tajamnya kepada sosok Miranda yang sedang berdiri di di hadapannya.
Para pelayan sontak menarik napas lega ketika akhirnya Miranda kembali dengan tepat waktu. Wanita yang kini mengenakan dress tosca selutut dengan pandangan polos itu menatap sekelilingnya dengan diam. Lalu tanpa basa-basi Sean langsung menarik tangan Miranda dan menyeretnya mneju kamar mereka.
“Ikut aku!” bentak Sean. Dan Miranda pun tidak bisa melakukan apapun kecuali mengikuti langkah lebar suaminya.
“Padahal aku kembali hanya untuk melepas cincin pernikahan ini, dan mengambil liontinku yang tertinggal. Aku mohon, biarkan semuanya berlalu, Tuhan…” batin Miranda yang kemudian langsung dilempar masuk oleh Sean ke dalam kamar.