Aku yang merasa jika ia begitu sangat perhatian pun mulai tersenyum menatapnya. “Lo sampe bawa ginian ke sekolah?” tanyaku. “Jangan ge-er, gue sengaja bawa ini karena buat obatin kaki gue yang luka juga.” Ia sedikit menarik celananya untuk memperlihatkan luka di atas mata kaki yang telah dibalut dengan plester. Senyumanku perlahan memudar, lagi-lagi aku merasa jika Surya memperlakukanku dengan sangat spesial. “Lagian siapa juga yang kege-eran, orang gue cuma nanya.” “Udah diem. Sini gue bantu obatin.” Setelah penutup obat merah itu terbuka, Surya mulai menuangkan beberapa tetes ke ujung kapas. Perlahan, tangannya mulai mentotol-totol beberapa luka di wajahku dengan ujung kapas tersebut. “Aww, pelan-pelan dong. Perih tau.” ujarku sambil meringis. Surya menghentikan aktivita

