Surya menatapku, menelan ludahnya lalu menghela napas panjang. “Tersiksa, sih. Rasanya pengen teriak langsung di depan dia ketika gue lagi kangen. Dan rasanya juga sakit banget ketika liat dia sama yang lain. Gue selalu cemburu sama orang-orang yang selalu ada buat dia, gue selalu cemburu sama laki-laki yang berani nyatain perasaanya ke dia ketika di sini gue masih jadi seroang pengecut.” Aku terdiam, membalas tatapannya. Wajahnya terlihat begitu tulus mencintai perempuan itu. “Lo sesayang itu ya sama dia?” “Banget. Dia itu cinta pertama gue. Perempuan tercantik yang pernah gue liat, meskipun pertama kali gue ketemu dalam keadaan dia lagi nangis.” “Nangis? Kenapa?” “Entah, tapi untuk ukuran anak SD pada saat itu, gue cuma mau meluk dan nenangin dia meski gue gak berani buat

