Emosi

1712 Kata

“Val, lo baik ‘kan?” tanya Maika. Rival mendengus saat mendengar panggilan dari Maika. Firasatnya tidak enak. Apalagi saat melihat Maika mengelus perutnya yang agak membuncit. “Apaan?” Meski malas sekali, tapi demi keponakan pertamanya. Rival merelakan diri untuk menjadi babu Maika yang bisa dibilang kakaknya. “Lo jadi adek jangan nyebelin dong!” Oke, Maika mulai kembali sensitif. “Iya, Teteh. Teteh mau apasih? Adek beliin.” Demi Tuhan. Mendengar nada bicara Rival, membuat Maika ingin muntah. “Gak usah sok imut lo. Jijik gue dengernya,” kata Maika pedas. Rival mengelus dadanya. Nasib orang ganteng ya gini. Selalu diuji kesabarannya. “Gue pengen banget makan lumpia basah, yang pedes—“ “MA, TETEH MAU MAKAN PEDES KATANYA!” Maika membulatkan matanya saat mendengar Rival berteriak. Keduan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN