“Kamu bahagia?” Maika yang asyik menatap indahnya Bandung di sore hari mengalihkan pandangannya pada Rafan. Tatapan lelaki itu begitu memujanya. Membuat Maika merasa begitu diinginkan. “Banget, sampai rasanya kalau aku boleh egois. Aku gak mau semua ini berakhir.” Nyatanya tidak ada yang abadi ‘kan? Perpisahan selalu datang dalam sebuah pertemuan. Seperti kisah Mamanya dan Papanya. Sekalipun keduanya saling mencintai, tapi jika Tuhan sudah berkehendak. Maka tidak ada yang bisa dilakukan selain menerimanya. “Kak Rafan inget? Waktu Nara bilang kalau gamis yang aku pakai ke Bandung hari itu dari Kakak. Rasanya sulit dipercaya. Tapi aku bahagia banget. Dari hari itu aku gak pernah absen doain Kakak. Sampai kadang sesak sendiri. Apa semuanya mungkin? Kenapa Kak Rafan gak jemput-jemput aku?”

