***
Untuk bisa saling memahami. Kita butuh bicara dan berhenti menerka-nerka.
***
“Mai, bangun.” Maika mengerjapkan matanya saat merasakan tepukan pelan di pipinya. Gadis itu terdiam sejenak lalu bangkit dari posisinya.
“Aku beliin mie ayam buat kamu,” kata Rafan. Maika mencium punggung tangan suaminya yang sepertinya baru pulang dari masjid.
“Maaf aku malah bablas tidurnya,” kata Maika merasa tidak enak. Gadis itu berjalan menuju wastafel, lalu mencuci wajahnya.
“Gak apa-apa. Kita makan di balkon aja ya?” tawar Rafan. Maika mengangguk, keduanya berjalan menuju balkon kamar Rafan.
“Ini mie ayam Pak Dhe ya?” tebak Maika sambil membukakan mie ayam untuk Rafan. Dari sambalnya saja sudah kelihatan.
“Iya, tadi Pak Dhe baru beres sholat. Jadi sekalian aja. Jangan banyak-banyak Mai sambelnya.” Rafan menatap tidak suka ke arah mie ayam Maika yang penuh dengan sambal. Rafan bertolak belakang dengan Maika kalau soal makan. Laki-laki itu tidak suka pedas. Beda sekali dengan Maika yang ketahanan pedasnya cukup tinggi.
“Kak, besok kita langsung ke rumah baru?” tanya Maika mengalihkan perhatian Rafan.
“Iya, lusa cuti aku udah abis juga. Nanti kamu gak papa ‘kan aku tinggal sendiri?” Maika terdiam, sebenarnya rada takut juga sih kalau harus sendirian di rumah. Bakalan sepi pastinya. Tapi mau bagaimana lagi?
“Gak papa Kak, nanti aku bisa sambil rapi-rapi rumah atau buat kue. Boleh ‘kan?” Rafan tersenyum.
“Boleh dong, tapi ada saran bagus dari Bunda sih.” Maika menatap suaminya penasaran.
“Apa, Kak?”
“Kita bikin bayi, biar nanti kamu gak sendirian di rumah pas aku kerja.”
Maika menelan ludahnya dengan susah payah. Bayi? Itu artinya .... Dia masih belum siap rasanya. Tapi sepertinya Rafan sudah sangat ingin.
“Bayi?” Rafan mengangguk semangat. Akan sangat menyenangkan jika nantinya mereka punya anak bayi, membayangkannya saja membuat Rafan tidak sabar.
Beda dengan Rafan yang begitu bersemangat, Maika justru termenung. Dia belum siap untuk itu. Ada banyak ketakutan yang dia punya. Dia saja masih belum sanggup menghadapi dirinya sendiri. Apa keputusannya untuk menikah muda memang salah? Yaampun, dia harus menjawab apa? Maika menarik napasnya, gadis itu hanya tersenyum tipis. Dia butuh kesiapan diri. Dia butuh menguatkan hatinya. Melayani Rafan dengan baik saja dia belum mampu.
“Kak, maaf tapi apa boleh ditunda dulu? “ Perkataan Maika membuat Rafan yang tengah makan terdiam.
Air mata Maika mengalir. Dia merasa bersalah dengan kelemahan mentalnya. Dikit-dikit menangis. Ya habisnya bagaimana? Jujur dia sendiri tidak mengerti dengan keadaan. Bagaimanapun Maika ini masih masuk dalam kategori remaja, yang pemikirannya masih labil. Rafan sadar akan hal itu, bagaimanapun Maika tetaplah seorang perempuan yang punya perasaan selayaknya perempuan pada umumnya. Dan lagi, usia gadis itu juga masih cukup labil.
“Aku minta maaf udah paksain kamu ada dalam keadaan kayak gini,”lirih Rafan.
Maika menggelengkan kepalanya. Dia tidak menyesal menikah dengan Rafan. Sama sekali tidak.
“Aku gak nyesel nikah muda kok, Kak. Aku cuman butuh mantapin hati aku buat punya anak. Aku juga gak mau nunda. Cuman dalam waktu dekat ini aku mau fokus buat lebih kenal dan ngerti Kakak. Sekaligus mempersiapkan diri aku supaya bener-bener siap, aku pengen anak-anak kita nantinya jadi generasi terbaik.” Rafan memeluk Maika dengan erat. Demi Tuhan, dia sungguh sangat menyayangi gadis ini.
“Kamu enggak ada niatan kuliah?” tanya Rafan. Dia mampu membayari kuliah istrinya itu jika mau. Sayangnya Maika menggelengkan kepalanya.
“Aku belum kepikiran buat kuliah. Aku mau fokus belajar jadi istri yang baik buat Kakak, sekaligus mau belajar ngembangin usaha aku di dunia kuliner. Boleh ‘kan?” Bukannya Maika naif, hanya saja ini pilihannya untuk saat ini. Terserah orang lain mau berpendapat seperti apa.
“Serius? Nara udah persiapan kuliah, temen-temen kamu juga pada kuliah. Insyaallah aku bakal usaha kalau kamu mau.” Maika tetap menggelengkan kepalanya.
“Hehe enggak deh, uang jatah kuliah aku mending tabungin aja buat nantinya anak kita,” jawab Maika tak terduga. Ck kalau begini Rafan tidak bisa menahan gemas.
“Yaa Allah, Mai. Masih lama.” Maika tersenyum salah tingkah. “ya udah, gini aja kamu ikut tahsin atau gak les bahasa Arab aja gimana?”sambung Rafan. Bagiamanapun istrinya itu tetap wajib untuk menuntut ilmu. Maika mengangguk dengan semangat. Yaa Allah, ini yang Maika inginkan selama ini. “Mau bangeet, tahsin di mana, Kak?”
“Istrinya senior aku di kantor, kebetulan dia juga sama udah ngaji. Istrinya lulusan Madinah, sekarang ngajar tahsin sama bahasa Arab.”
“Huaaaa makasiiiih, seneng banget aku.”
“Mienya gak diabisin?” tanya Rafan.
“Iya ini mau. Kakak juga, maaf aku udah rusak mood kakak. Sebagai gantinya, kakak mau dimasakin apa?”balas Maika.
Rafan berpikir sejenak. “Kita ‘kan lagi di rumah bunda. Kamu masaknya ntar aja pas di rumah kita. Aku mau request soto daging, bisa?”
“Bisaaa dong, nanti aku buatin. Pokoknya kakak harus sebutin daftar makanan kesukaan kakak. Mulai dari cemilan, minuman, sampai makanan.”
***
Maika mengenakan gamisnya beserta jilbabnya, gadis itu berniat membantu Bunda untuk masak.
“Lagi masak apa, Bun?” tanya Maika.
“Eh udah bangun, ini bunda mau bikin ayam goreng sama gulai ikan, paling kayak biasa tambah tahu goreng sama sambel.”
“Mai, bantu, ya?” Tentu saja Bunda tidak menolak. Ini memang cita-citanya. Bisa dapat menantu seperti Maika. Dia ingin memasak bersama menantunya.
“Kalian jadi pindahan besok?”
“Iya bunda, insyaallah hehe. Udah angkutin beberapa barang juga,” kata Maika sambil mencuci ayam.
“Barang yang kurang apa aja?” Maika terdiam sejenak.
“Ehm—“
“Gak apa Mai, kado pernikahan dari Bunda buat kalian. Kalau boleh malah Bunda sama Mama kamu udah sekongkol buat beliin kalian rumah, eh taunya suami kamu udah curi start duluan.” Maika tersenyum mendengarnya.
“Eh gak jadi deh, Bunda kasih surprise aja buat kamu. Oh iya, bunda ada hadiah istimewa. “ Bunda mertuanya itu membisikkan sesuatu pada Maika. Dan hal itu membuat wajah Maika merah. Malu banget Yaa Rabb.
“Tapi Bun–“
“Ck, ini sebuah tips. Kalaupun gak sekarang. Bisa kamu terapkan nanti, nyenengin suami tuh pahala lho Mai. Biar suami kamu tuh makin sayang.”
Alhasil Maika hanya bisa pasrah mendengarkan wejangan dari Bunda mertuanya. Berimbas pada pemikirannya yang mulai terkontaminasi.
“Hayoooooo ngomongin apa?” tanya Nara ikut nimbrung.
“Anak gadis yang belum nikah gak boleh tau, ini rahasia para istri,” kata Bunda. Nara cemberut.
“Parah banget kalian mainnya rahasia-rahasiaan. Btw Mai, Abang mana?” Nara mencomot tahu yang sudah digoreng Maika.
“Ada di kamar. Ck, jorok lo, udah cuci tangan belum?”
“Eh lupa gue, biarin deh vitamin J. Yang penting udah bismillah, insyaallah berkah ukhti.”
Nara tetap melanjutkan acara makan tahu tanpa cuci tangannya.
“Katanya sih mau masuk fakultas kedokteran,” cibir Bunda membuat Maika tertawa.
“Yaampun, Bun, aku anti kuman. Tenang aja,” ucap Nara yang dihadiahi jitakan pelan oleh Bunda.“nasib orang cantik, ya gini, jangan suka solimi Bun. Aku balik lagi ke Jepang nih.” Nara sok mengancam.
“Emang Papa mau ngongkosin? Eh iya, kamu kapan balik ke Jepang? Mau ngurusin surat-surat ‘kan?” Bunda tiba-tiba saja tersenyum penuh arti.
“Kenapa? Ada yang gak beres nih,” kata Nara sok mencurigai.
“Nanti sekalian ajak Rafan sama Maika bulan madu aja. Biar nanti Bunda bilang ke Rafan.”
“Yaa Allah, tega banget Bunda mau jadiin anak cantik dan polos kayak aku nyamuk buat mereka.”
Maika sendiri masih mencoba mencerna ucapan bunda mertuanya. Kadang otak pintarnya suka lemot. “Eh maksudnya gimana?” Nara mendelik, untung dia sudah hafal dengan Maika. Sahabatnya itu emang suka pintar-pintar boloon. Otaknya masih 3G. Lemot.