Sejak malam tadi, Maika sudah pusing melihat kehebohan Mamanya. Dia sampai jadi korban untuk pergi ke pasar pukul 5 begini. Maika memang tidak punya kebiasaan tidur sehabis shalat shubuh. Tapi tetap saja, pagi-pagi buta begini pergi ke pasar
“Apa lagi, Ma?” tanya Maika sambil menepuk pipinya cukup kencang karena disinggahi nyamuk. Dia dan mamanya sedang duduk diteras keduanya tengah membuat shopping list.
“Udah sih, apa sekalian beli buat acara syukuran ya, Mai?” tanya Mamanya.
Maika menghela napas. Syukuran apa? Pernikahannya saja belum jelas kapannya. Ini mamanya sudah sibuk sekali.
“Nanti aja lah, Ma. Takut busuk,”saran Maika.
Nala mengangguk-nganggukkan kepalanya. Wanita itu memberika beberapa uang lembar merah pada Maika.
“Nih, kalau lebih ambil aja buat jajan kamu.” Maika menerimanya, gadis itu menyelipkan uangnya ke dalam soft case hpnya.
“Aku berangkat ya, Ma. Assalamu’alaikum,” pamitnya.
Maika menatap tampilannya saat ini. Gamis dan hoodie hitam. Masa bodo lah kalau nanti orang-orang menatapnya aneh. Lagian subuh gini siapa juga yang mau melihatnya. Ia mulai melajukan motornya dengan kecepatan pelan.
“Mai!” Sontak saja Maika langsung mengerem motornya secara mendadak. Gadis itu menoleh, melihat siapa yang memanggilnya. Tangannya mendadak dingin saat mendapati Rafan dan Papanya. Keduanya sepertinya baru selesai shalat shubuh. Hal itu terkihat dari papanya dan Rafan yang mengenakan baju koko.
“Kamu mau kemana pagi-pagi gini?” tanya Papa Maika.
Sedangkan Rafan hanya menatapnya dengan alis terangkat sebelah. MALU BANGET, BUSET!
“Ehm, Mama nyuruh ke pasar, Pa,” jawab Maika.
“Kan bisa nanti siangan,” kata Papanya terlihat sangat khawatir.
“Gak apa-apa kok, Pa. Aku belinya ke tempat langganan. Kalau pagi gini masih bagus terus–
“Mau dianter Nara?” potong Rafan.
Pipi Maika mendadak bersemu. TUMBEN BANGET INI LAKI MAU NGOMONG.
“Eh gak usah, Kak. Deket kok, udah biasa. Lagian Nara pasti sibuk banget kalau jam segini. Aku pamit dulu, Assalamu’alaikum,” pamitnya tergesa-gesa. Lalu menggas motornya dengan kecepatan lumayan. Dia tidak mau kalau papanya atau Rafan menyadari kalau dia sedang salah tingkah.
“ Anak om yang ini emang ajaib, jadi nanti kamu harus siapin banyak stok sabar ya, Fan. Meskipun ajaib gitu, dia anaknya penurut kok.” Rafan tersenyum simpul. Justru memang yang seperti Maika yang dia cari.
Keduanya kembali melanjutkan jalan mereka yang sempat terhenti.
“Dulu waktu kecil, kerjaannya manjat pohon rambutan nenek buyutnya. Dia yang manjat, Nara yang mungutin buahnya. Maika tuh definisi si Bolang dalam versi ceweknya. Sebelas dua belas sama adek kamu, lebih tepatnya dia yang ngajakin Nara. Kadang Om suka ngerasa masih enggak percaya kalau Maika udah tumbuh sebesar ini. Rasanya kayak mimpi, perasaan baru kemarin Om adzanin dia.” Rafan masih setia mendengarkan. Semua hal tentang Maika selalu menarik baginya. Apalagi kalau mengingat seberapa tidak bisa diamnya Maika saat kecil.
Gadis tengil, yang sejak kecil punya hobi bicara ngegas. Galak dan pemberani. Maika sering mengikutinya, kalau Nara sedang pergi atau Nara ada les. Maika akan mengganggu Rafan. Memang dasarnya tidak tahu malu, sekalipun sudah diusir dia masih tetap santai memperhatikan Rafan yang membersihkan koleksi tamia nya.
(flasback)
“Kamu ngapain masih di sini? Nara gak ada,” ketus Rafan.
Maika hanya meliriknya sekilas, dan kembali fokus melihat mobil tamia milik Rafan.
“Aku main sama kakak aja,” balasnya enteng.
“Aku gak mau main sama kamu!”
“Ya udah,”balas Maika tak peduli.
“Ya udah apa?” sewot Rafan. Maika menggedikkan bahunya.
Tanpa sadar keduanya mulai akrab dengan membicarakan perkara mobil tamia. Meski nada bicara Rafan tetap ketus.
“Aku pengen ngoleksi juga, tapi Mama suka marah kalau aku beli tamia. Kemarin aku beli, terus sama mama dibakar,” curhat Maika.
Rafan melirik gadis kecil di sebelahnya.
“Cewek gak boleh main mobil-mobil an,” kata Rafan mulai lunak.
“Maksudnya apa? Kenapa gak boleh? Cewek juga bisa kok maininnya! “ kesal Maika, mendengar itu membuat Rafan terperangah. Kenapa jadi marah-marah ke Rafan?
“Heh Dora! Kenapa jadi marah ke aku?” balas Rafan tak kalah ketus.
Maika menghela napasnya. Dengan tidak tahu malunya, gadis itu memakan cemilan Rafan.
“Mau gak?” tawarnya membuat Rafan mendelik. Memangnya snack itu punya siapa? Pikir Rafan merasa kesal.
Merasa tidak direspon. Gadis itu menjejalkan snack itu kemulut Rafan.
(flashback end)
“Om titip Maika ya, Fan. Mungkin banyak kekurangan yang ada dalam putri, Om. Tapi Om harap kamu bisa menerimanya, membimbing dia. Satu hal yang perlu kamu ingat. Kalau kamu memang sudah enggak bisa menerima dia, kembalikan dia ke Om. Om gak akan pernah biarin siapapun nyakitin Maika. Termasuk kamu sekalipun,” pesan Revan sambil menepuk bahu Rafan.
Tepukan di bahunya membuat Rafan tersadar. Laki-laki itu menganggukkan kepalanya mantap. Wallaahi, dia akan berusaha menjaga dan mengasihi gadis itu hingga napasnya berhenti berhembus.
***
Sore ini Maika masih sibuk menyiapkan masakan untuk acara lamarannya nanti bersama Mamanya. Tadi dia baru saja selesai membuat beberapa dessert yang akan dihidangkan, mulai dari kue sus, onde-onde hingga dadar gulung. Dia juga membuat pudding mangga kesukaan Nara.
“Coba cicip, Mai,” kata Mamanya.
Maika mengambil sendok yang ada di tangan mamanya. Matanya langsung berbinar ketika sendok itu berada di mulutnya.
“Enak mah, udah pas. Rendangnya pedes, bumbunya kerasa banget,”komentar Maika.
Nala tersenyum puas. Masakannya memang tidak perlu diragukan. Revan saja sampai secinta itu dengan masakannya sampai tiap hari meminta untuk dibuatkan bekal.
“Kamu kalau udah nikah, buat seneng suami kamu. Masakin yang enak, awas aja kalau cuman kamu sediain mie instant.” Maika hanya menghela napas. Memangnya dia ini setega itu?
Terus apa gunanya dia sekolah jurusan jasa boga kalau suaminya dia kasih makan mie instan?
“Iya, Ma,” balas Maika singkat. Topik ini bisa membuat pipinya bersemu.
“ Mai, mama mau tanya.” Maika menatap mamanya yang tengah memasukkan rendang ke dalam wadah.
“Tanya apa, ma?” Maika mengambil wajan kotor bekas mamanya memasak rendang lalu menyimpannya ke wastafel.
“Kamu sama Rafan emang udah janjian apa gimana?”
Hah? Janjian?
Mana ada janjian, orang itu laki dingin banget kayak es batu. Kalaupun ketemu, bicaranya sangat hemat. Waktu mereka kecil juga kelihatan sekali kalau Rafan risih dengan Maika.
“Mana ada, aku aja gak nyangka,” jawab Maika sambil menuangkan sabun cuci piring ke wadahnya.
“Oh mama tau, dia kayak cowok-cowok tsundere gitu bukan sih?”
Maika mengernyitkan keningnya. Tsundere? Apaan tuh?
“Tsundere apaan, Ma?” Nala menghela napasnya. Maika kalah update dengannya.
“Ito lho istilah pengembangan karakter Jepang yang tadinya dingin atau kasar jadi baik gitu. Mama dulu penyuka komik Jepang, jangan salah,” jelas Mamanya.
Maika hanya mangut-mangut.
“Ngerti gak?” Maika meringis. Hal itu membuat Nala berdecak.
“Kan Kak Rafan bukan kartun jepang mah.” Jawaban Maika membuat mamanya naik pitam. Masa iya juara kelas pemikirannya begini?
“Rafan ‘kan ada keturunan jepang. Ck, bisa-bisanya Rafan milih kamu jadi istrinya,” ucap Mamanya.
Maika cemberut. Emang dia sejelek itu ya?
“Jadi aku enggak pantes gitu?” tanya Maika.
“Bukan gitu, modelan kayak kamu nih ‘kan galak, kadang nyebelin udah gitu lawak banget. Gak habis pikir Mama.”
Maika mengelus dadanya. Untung mamanya yang bicara seperti ini, walaupun agak nyelekit masih dia maklumi.
Sabar, kalau sabar nanti dapat uang beberapa lembar.