Pemuda yang memakai seragam sekolah yang rapi itu melangkah turun dari tangga lantai dua sekolah. Dengan menenteng buku paket tebal di tangan. Di tengah-tengah buku terselip kertas ujian dengan soal-soal yang telah ada penyelesaiannya. Ia menghentikan langkahnya saat hapenya terasa bergetar dalam saku celana. Tanpa pikir panjang, ia langsung merogoh benda pipih itu dan membaca sebuah nama yang tertera di dalam sana 'mama'. Setelah menempelkan hape pada telinga, ia bisa mendengar decakan kasar di seberang sana. Yang mungkin hampir setiap saat bisa ia dengar, entah saat berbicara lewat telepon begini atau pun saat bertatap muka. "Iya, mah. Iya, iyaa, iyaa." Sepanjang telepon ia hanya mengiyakan saja perkataan mamanya tanpa membantah. Walau setelah selesai bicara ia langsung mengeraskan

