Azril langsung memasangkan cincin itu di jari manis Shazia, dia lega karena cincin itu masih pas. Dia menarik jemari Shazia lalu menciumnya, “Cantik.” Shazia mengangguk, dia juga melihat jarinya yang dilingkari cincin. Degupan itu masih ada di sana, dia bahkan masih merasakan euphoria yang sama saat pertama kali di lamar oleh Azril. Walaupun tempatnya jauh berbeda, tetapi rasanya sekalrang dia lebih terharu itu semua akrena perpisahan mereka yang sangat panjang dan dia sudah melalui tahun-tahun dengan kesendirian. “Sekarang, kamu tidur. Biar besok lebih segar ke kantor.” Ucap Azril lalu melepaskan pelukannya. Shazia mengangguk, dia berbaring di tempat tidur diiringi dengan tatapan Azril yang melihatnya tanpa berkedip. Dia bahkan sangat malu ketika menarik selimut. Dia menunggu Azril be

