Tiga bulan kemudian. Shazia mengelus perutnya yang sudah membuncit. Dia meletakkan kacamatanya di atas meja dan memijit pangkal hidungnya. Shazia baru saja menyelesaikan laporan yang harus dia serahkan kepada David. Dia berdiri dan keluar dari ruangannya. Shazia mengetuk pintu ruangan David lalu masuk ke dalam. “Sir, ada dokumen yang harus anda tanda tangani.” Ucapnya pelan. David menoleh, “Baiklah, coba kulihat.” Shazia berjalan mendekat. Dia memakai flat shoes selama bekerja dan hanya dirinya di kantor ini yang bekerja memakai terusan panjang serta sebuah cardigan sebagai outer. “Perutmu semakin besar. Sebaiknya kamu segera mengambil cuti.” Ucap David ketika melihat Shazia yang berdiri tepat di depannya. Shazia mendengkus, “Kamu sama saja dengan Azril, selalu meyuruhku untuk meng

