Sampai waktunya pulang kerja, Ravindra tidak menampakkan batang hidungnya lagi di hadapan Euis. Bagi Euis, pria tampan itu bagai hilang ditelan bumi. Padahal dia sudah mencoba memeriksa lantai atas sambil membersihkan ruangan pada manager dan sekertaris tetapi dia tidak menemukan sosok yang mirip dengan orang yang tadi dia temui di pantry. "Tuh, kan, benar, dia itu pembohong ulung, tampang aja bule tahunya bule kampuang! Bisa jadi jas mahalnya itu juga hasil pinjaman pada temannya atau salon. Ah sudahlah, mending pulang saja! Ngapain juga nungguin orang yang tidak jelas! Tapi bagaimana aku bisa dapat uang untuk biaya tambahan pengobatan Bapak, ya?" Euis langkahkan kakinya keluar dari gerbang PT. Intex menuju bus jemputan sambil menghela napas panjang. Satu jam kemudian, begitu turun

