Dijebak Tanteku
Euis menatap gedung tinggi di hadapannya, sebuah hotel bintang lima di kawasan Senayan, Jakarta.
Gadis yang berasal dari desa itu menelan salivanya. Dia sudah merasa terintimidasi dengan banyaknya mobil mewah yang keluar masuk dari hotel itu. Terlebih ketika melihat dua satpam dengan badan tegapnya.
"Apa ini tempat interview-nya?" Euis mengeluarkan ponsel jadul yang diberikan Lisa, sepupunya, lalu mengecek alamat di pesan singkat yang telah dikirimkan oleh tantenya.
Tantenya, Lina, mengatakan dia memiliki kenalan yang akan memberi Euis pekerjaan dengan gaji lima juta sebulan, yang tempat interview-nya berada di hotel yang ada di hadapannya sekarang.
"Tapi kenapa harus malam hari interview-nya, Bi?" tanya Euis saat bibi atau tantenya mengatakan dia harus melakukan interview pada jam delapan malam. Dia merasakan keganjilan dari perintah bibinya itu.
"Ya, namanya juga lewat koneksi, Is. Kalau siang mah atuh si Bosnya sibuk kerja. Ini mah Jakarta, Is, bukan kampung." Lina memberikan alasan yang membuat Euis termenung sejenak.
'Iya, sih, aku nggak tahu tentang kehidupan di Jakarta,' pikir Euis.
"Oh, gitu." Gadis berkulit kuning langsat itu mengangguk.
'Ternyata orang kota itu rajin-rajin ya. Malam-malam juga masih aja, nge-interview pegawai baru,' gumam Euis di dalam hatinya.
Di usianya yang ke dua puluh tahun. Euis memang benar-benar tidak mengenal kehidupan perkotaan secara langsung. Jarak desanya menuju pusat kota Sukabumi berjarak delapan puluh kilometer dan dia anak dari seorang buruh tani.
Euis bukan gadis yang buta teknologi. Walaupun tidak memiliki barang elektronik di rumah. Teman-temannya sering meminjamkan ponsel atau komputer untuk tugas sekolah.
Ayahnya sudah meninggal karena kecelakaan. Sehingga dia dan ibunya harus bekerja extra dari pagi sampai sore menjadi buruh tani, buruh kerupuk, dan pembantu rumah tangga musiman.
Euis memiliki dua saudara laki-laki yang masing-masing berjarak empat tahun. Elang, adiknya, ikut menjadi buruh kerupuk di tempat Juragan Jaka selama empat tahun belakangan ini selain memulung sampah plastik. Sedangkan Edo berjualan es mambo dan cemilan, berkeliling desa.
Sayangnya semua itu masa lalu, jebolnya Bendungan Tanjung, membuat seluruh desa terendam air hanya dalam waktu kurang dari satu jam saja. Hampir setengah penduduk desa terhanyut dan masih belum ditemukan.
Saat Pamannya datang, hanya Euis yang berhasil dievakuasi dari seluruh keluarganya. Mereka menunggu hingga tiga hari tetapi tidak ada kemajuan. Akhirnya pamannya memutuskan membawa Euis ke Jakarta.
Kembali ke masa kini.
"Sudah, jangan banyak omong. Kapan lagi ada kesempatan kayak begini. Kamu nggak mau jadi istri ketiganya Juragan Jaka, tukang kerupuk, itu, kan?" sindir Lina.
Euis mengangguk.
"Makanya nurut sama Bibi. Jangan jadi benalu di rumah ini. Lagian kamu juga butuh uang untuk menemukan emak dan adik-adikmu, kan!" seru Lina, berusaha meyakinkan Euis.
Euis langsung meneteskan air mata mengingat ibu dan kedua adiknya.
Lina tersenyum licik melihat keponakannya mulai terpengaruh.
Lina memiliki hutang seratus juta rupiah pada Bos Roni, Lintah darat yang dikenalkan oleh salah satu temannya tiga bulan yang lalu. Dia membutuhkan uang untuk menunjang penampilan dan gaya hidup mewahnya karena suaminya sudah di PHK empat bulan yang lalu. Lina merasa gengsi kalau ketahuan sudah jadi orang miskin oleh teman-temannya di sanggar senam.
Lina shock saat mengetahui, uang dua puluh juta yang dia pinjam bisa menjadi seratus juta hanya dalam waktu dua bulan. Bos Roni mengancam akan mengambil Lisa, putrinya, untuk menjadi wanita simpanannya. Apabila Lina tidak bisa mengembalikan hutangnya dalam waktu dua minggu. Lina stres karena takut putrinya jadi santapan buaya darat berumur lima puluh tahun itu.
Bagai pepatah pucuk dicinta ulam pun tiba. Seminggu yang lalu, suaminya, Rohim, pergi ke desa setelah mendengar ada bencana alam di sana. Dia pulang membawa Euis, keponakannya yang tersisa.
Rohim ingin menyelamatkan keponakannya dari Juragan Jaka yang menginginkan Euis jadi istri ketiganya dengan alasan gadis itu sudah sebatang kara.
Baru tiga hari di rumah, Rohim mendadak mendapat panggilan kerja di Batam dan menitipkan Euis pada Lina. Bak mendapatkan angin surga, Lina tersenyum puas karena menemukan solusi untuk membayar hutangnya pada Bos Roni. Diaturlah rencana untuk menjual Euis sebagai alat pembayar hutangnya pada lintah darat itu.
"Baiklah, Bi, nanti Euis pergi." Euis menyetujuinya.
Lina tersenyum puas.
Kembali ke depan hotel.
Euis tanpa sadar sudah berjalan menuju pos satpam saat mencocokkan alamat.
"Benar ini tempatnya. Alamat dan nama hotelnya sama, masuk nggak ya?" Gadis itu ragu-ragu.
"Ada yang bisa dibantu, Dik?" tanya Seorang Satpam yang berjaga di gerbang.
"Aaargh!" Euis terkejut ketika tiba-tiba ada seorang satpam yang berbadan tinggi, kekar, gondrong dan memakai topi di depannya. Gadis itu mundur satu langkah, ketakutan.
"Ada yang bisa dibantu?" Satpam itu tersenyum simpul.
"Ah ... itu .... um ...." Karena gugup, Euis tidak tahu harus berkata apa dan hanya bisa menunduk.
"Adik, ada keperluan apa di sini?" tanya Saptamnya lagi dengan sabar. Dia sudah memperhatikan Euis dari tadi yang hanya berdiri terpaku di depan hotel. Menatap bolak-balik ke atas dan arah lobby, seperti seekor anak ayam yang hilang.
"Um, saya .... saya mau um ... ada janji dengan teman di sana tapi ini pertama kalinya saya ke hotel jadi um ...." Euis bingung menjelaskannya, suaranya bergetar.
'Aku nggak boleh mengatakan kalau ada interview pekerjaan di hotel. Aku takut dipenjara kalau ketahuan masuk kerja lewat jalan belakang atau koneksi,' pikir Euis.
"Apa ke acara ulang tahun?" Satpam itu penasaran melihat gadis yang terlihat kebingungan.
"Hah? Ulang tahun?" Euis tambah bingung
"Iya, Adik mau ke acara ulang tahun Adrian, bukan?" tanya Satpamnya lagi sambil melihat gadis muda di hadapannya yang terlihat cantik memakai dress A line warna hitam selutut, high heels, rambut yang bergelombang, dan riasan sederhana.
Dengan wajah dan penampilannya saat ini, tidak akan ada yang akan percaya kalau dia seorang anak buruh tani.
Euis menatap satpam itu lalu melihat ke arah lobby hotel. Gadis itu baru menyadari kalau di antara orang-orang yang turun dari mobil-mobil mewah itu, ada gadis dan pemuda seumurannya. Dia terpesona melihat para gadis yang terlihat cantik dengan balutan gaun dan perhiasan yang terlihat mahal.
Setelah memanjakan matanya, Euis kembali menoleh ke arah satpam yang masih menunggu jawabannya dengan sabar.
"Ah, iya ... tadi saya sedang menunggu teman tapi nggak ketemu, dia ... dia hanya memberikan alamatnya, terus ...." Euis tidak meneruskan ucapannya karena tidak tahu harus berkata apa lagi. Gadis itu tidak pandai berbohong.
'Duh, ya Allah, maafkan hamba-Mu ini berbohong,' gumamnya dalam hati
"Oh ... mungkin teman Adik sudah masuk duluan, ayo saya antar sampai ke depan ballroom." Satpam itu tersenyum lalu berjalan di depan Euis.
"Hehe ... mungkin, makasih, Pak." Euis terpaksa mengikuti satpam itu.
Begitu sampai di pintu lobby, Euis terdiam sejenak melihat lantai yang berkilau. Dia spontan melepas sepatu dan menjinjingnya.
"Assalamualaikum," ucap Euis dengan sopan ketika mulai melangkah masuk ke lobby hotel dengan bertelanjang kaki.
Satpam hotel itu menoleh ke arah Euis lalu mengerutkan keningnya.
"Waalaikumsalam ... kenapa sepatunya dilepas?" tanya Satpam itu.
"Hah?" Euis menatap satpam itu dengan wajah bodohnya.
Bersambung ✍️