'Gadis ini, sepertinya memang baru pertama kali masuk hotel,' pikir Satpam itu.
"Sepatunya?” Satpam itu lagi menunjuk ke arah kaki Euis.
Gadis cantik itu mengikuti arah pandang pak satpam.
"Oh, ini, um ...." Euis mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan melihat semua orang memakai sepatu.
"Oh, iya lupa, hehe ...." Euis tersipu malu lalu menurunkan kedua sepatunya lagi secara perlahan.
Satpam itu hanya geleng-geleng kepala.
"Pakai sepatunya dengan baik. Hati-hati lantainya licin, jangan sampai terjatuh," nasihat Satpam itu pada Euis tanpa menoleh.
"Iya, Pak," jawab Euis.
Gadis itu benar-benar memperhatikan langkahnya dengan baik. Sepanjang perjalanan dia terus menunduk.
"Sudah sampai," ucap Pak Satpam begitu tiba di depan ballroom.
Euis yang fokus melihat ke bawah tidak menyadari keberadaan Satpam itu.
"Uwaaah ...." Gadis itu menabrak tubuh tegap Satpam di hadapannya.
Tubuhnya terhuyung ke belakang, tetapi dengan refleks yang cepat. Satpam itu menarik tangan Euis dan memegang pinggangnya.
Topi yang menutupi kepala satpam itu terlepas dan tubuh mereka bersentuhan. Dalam posisi itu mereka saling menatap satu sama lain.
'Woah ... Bapak Satpamnya ternyata ganteng banget. Kalau kata Mei Lin mah, mataku tersucikan!’ Euis langsung terpesona.
‘Apa dia artis? Tapi apa artis di Jakarta punya pekerjaan sampingan jadi satpam?' Sebuah tanda tanya besar hadir di pikiran Euis.
Mata Gadis itu tidak bisa berkedip melihat ketampanan Satpam gondrong di hadapannya. Hidungnya penuh dengan aroma maskulin dari parfum merek terkenal.
'Kayaknya benar, dia artis. Wangi parfumnya mirip punya om-nya Mei Lin,' pikir Euis. Mei Lin adalah sahabat baiknya Euis, putri dari pemilik perkebunan dan sawah tempat ibunya bekerja. Keberadaan sahabatnya itu pun masih belum ditemukan.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Satpam itu, menatap mata jernih Euis.
'Bulu matanya lentik dan panjang, make up-nya pun natural, cantik,' pikir Satpam itu.
Euis masih terdiam.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Satpam itu lagi dengan suara yang lebih keras.
"Ah, iya." Euis tersadar dari lamunannya dan buru-buru melepaskan dirinya dari satpam itu.
'Walaupun ganteng tapi bukan muhrim,' pikir Gadis Cantik itu.
"Ya, sudah. Kalau begitu, Adik, tunggu temannya di sini saja. Saya harus kembali ke pos," ucap Pak Satpam.
"Oh, iya, hati-hati di jalan, Pak, lantainya licin!" seru Euis dengan wajah yang serius.
Pak Satpam tertawa kecil lalu melambaikan tangannya.
"Eh, si Bapak malah ketawa, padahal beneran itu licin. Aku hampir dua kali kepeleset tadi," gumam Euis
Euis mengerutkan keningnya tidak mengerti.
'Ah mungkin beliau sudah expert. Beliau, kan, orang kota,' pikir Euis
"Bapak Satpamnya, baik banget. Aku doain moga rezekinya lancar, ya, Pak, aamiin," ucap Euis sambil membalas lambaian tangan Pak Satpam.
‘Pria yang baik dan ganteng. Beruntung banget yang jadi istrinya nanti,' pikir Euis.
Gadis itu tersenyum melihat punggung Satpam yang semakin menjauh. Saat mendengar keramaian di belakangnya. Euis langsung menoleh dan pandangannya langsung tertuju ke dalam ballroom, yang terlihat di antara celah tubuh orang-orang yang berkerumunan di depan pintu.
"Woah, indahnya ...." Euis terpaku melihat keindahan dekorasi ballroom yang seperti hutan peri di negeri antah-berantah. Tidak berapa lama pintu ballroom itu ditutup dengan kencang oleh seorang pria berbadan tegap.
"Yah, sayang sekali," ujarnya sambil menghela napas panjang.
Euis melihat ke sekeliling ruangan, mencari lift untuk naik ke tempat interview di lantai 15.
"Jiah, ini sih pasar senggol ala orang gedongan. Padat merayap, Saudara-saudara," ucapnya sambil berjinjit mencari keberadaan lift yang entah berada di mana.
"Permisi, Nona Cantik ... permisi Adik ganteng ... permisi Tuan-tuan, Nyonya Syantik!" Euis terpaksa menyelinap di antara ratusan tamu undangan ulang tahun yang mengantri seperti ular naga panjangnya bukan kepalang.
"Memang orang gedongan mah beda. Ulang tahun udah kayak pemilihan presiden," Euis masih melakukan monolog sambil celingak-celinguk mencari keberadaan pintu lift.
Setelah berjibaku selama sepuluh menit. Euis akhirnya tiba di ujung ruangan.
"Itu dia lift-nya." Euis merasa menemukan pintu ke mana saja milik Doraemon ketika melihat pintu lift yang terlihat bersinar di matanya.
Gadis itu berjalan dengan cepat ke arah lift tanpa melihat ke kanan dan kiri.
Euis merasakan sebuah hantaman kuat dari arah samping dan seketika tubuhnya terhuyung lalu terjatuh ke lantai dengan keras.
"Aduh, sakiiit ...." Euis meringis, gadis itu menunduk untuk memeriksa kakinya yang terasa sakit.
"Makanya kalau jalan itu pakai mata!" seru Seseorang yang sama-sama terjatuh.
Euis melirik ke arah sumber suara, terlihat seorang pemuda seumuran dengannya yang memakai topi dan pakaian kasual tetapi terlihat mahal.
‘Lagi trend kali, ya, pakai topi di ruangan,' pikir Euis.
Pikirannya melayang saat guru SMU-nya dulu selalu mengomeli teman-temannya yang memakai topi di dalam ruangan.
"Dasar orang kaya bar-bar!" Euis bangkit dan meneruskan langkahnya menuju lift.
"Eh, apa katamu!" Pemuda itu tidak terima melihat seorang gadis antah berantah mengatainya.
Euis mengacuhkan pemuda tadi, gadis itu terdiam di depan lift sambil mengetuk-ngetuk dagunya.
"Hei, kamu tuli, ya?" Pemuda tadi mengejar Euis.
Euis fokus menatap lift.
"Siapa namamu?"
Euis masih tetap diam.
"Berani-beraninya gadis sepertimu mengacuhkanku. Apa kamu gak tahu siapa aku?" Pemuda tadi masih menggerutu di sampingnya sambil menunjuk-nunjuk tetapi Euis tidak perduli. Dia terus fokus menatap lift.
'Bagaimana cara naik liftnya?' Euis kebingungan.
Setelah kecapaian memaki-maki Euis selama lima menit, pemuda itu baru menyadari sesuatu.
"Apa kamu gak tahu caranya naik lift?" tanyanya tanpa sadar.
"Hm, Kamu tahu?" tanya Euis sambil menoleh pada pemuda tadi dan memberikan tatapan penuh harap.
"Hah?" Pemuda itu kehabisan kata-kata karena tidak menyangka tebakannya benar dan wajah gadis yang dia maki-maki itu ternyata sangat cantik.
'Kulit gadis ini tidak seputih Tiara, tapi struktur rahang, hidung, mata dan bibir merah mudanya ... membuatku sesak napas,' pikir Pemuda itu.
'Apa dia itu seorang model?'
Pemuda itu terpana melihat pesona kecantikan Euis yang alami. Setiap kali gadis itu mengedipkan mata bulatnya, pemuda itu bisa melihat bulu matanya yang panjang dan lentik. Bibir kecilnya yang merah muda alami, membuatnya menelan salivanya beberapa kali. Tentu saja jantungnya berdebar dengan kencang.
‘Apakah ini cinta pada pandangan pertama?’ pikir Pemuda itu.
"Apa Kamu tahu?" Euis kembali bertanya.
“Hah?” Pemuda itu tersadar.
“Apa Kamu tahu caranya naik lift?” Euis menatap pemuda asing di sampingnya.
‘Aduh, jantungku.’ Pemuda itu merasa sesak napas karena jantungnya semakin berdebar saat mereka saling menatap.
"Ehm, kamu mau naik atau turun?" tanyanya setelah terbatuk-batuk untuk menghilangkan rasa gugupnya.
"Naik," ucap Euis, kembali menatap pemuda di sampingnya.
"Oh," ucap Pemuda itu, sambil menekan tombol naik. Dia bergeser satu langkah dan memalingkan wajahnya agar suara detak jantungnya tidak terdengar oleh gadis di sampingnya.
"Apa kamu baik-baik aja? Pipimu memerah? Apa kamu demam?" Euis bingung melihat tingkah aneh pemuda itu.
Bersambung✍️