Kopi Pembawa Bencana

1343 Kata
"Ehm, aku ... aku nggak apa-apa! Hanya kepanasan, ya, hanya kepanasan," ucap Pemuda itu sambil mengipas-ngipas lehernya dengan telapak tangan kanannya. Dia sudah lupa dengan semua caci-makinya pada gadis itu tadi, bahkan hampir lupa caranya bernapas karena terpikat pesona kecantikan Euis. "Oh." Euis mengangguk. Suara lift terbuka. "Kalau begitu, aku naik dulu, ya," Euis tersenyum. "Hehe ... iya, dadah," ucap Pemuda itu sambil melambaikan tangan. Sejak tadi senyumnya terus terkembang karena gugup dan bahagia. "Dadah ...." Euis membalas lambaian tangan pemuda itu. Dalam beberapa saat mereka saling menatap dan tersenyum. 'Kok, lift-nya nggak mau nutup, ya?' Euis mulai kebingungan lagi. "Eh, anu, bis ...." "Ya, ada ap ...." Saat Euis akan bertanya pada pemuda yang berada di luar lift, tiba-tiba pintu lift-nya mulai tertutup. Gadis itu mundur satu langkah. "Eh, tunggu ...." Pemuda tadi berusaha masuk ke lift tapi terlambat, pintu lift sudah tertutup. "Yah, gadis itu pergi ... mana aku belum tahu namanya lagi. Aku harus mengejarnya," ucap Pemuda itu, tetapi saat akan melangkahkan kakinya, terdengar suara seseorang. "Adrian! Berani-beraninya kamu kabur dari pesta ulang tahunmu sendiri, hah! Ayo kembali ke dalam!" perintah Nyonya Rina, ibunya Adrian yang menghampirinya dengan wajah merah padam. "Iya, tapi tunggu dulu, aku mau ... aduduh ... jangan ditarik begitu, sakit. Bu!" Adrian meringis kesakitan saat ibunya menjewer telinganya. Dia terus menatap ke lift, berharap bisa mengejar gadis cantik tadi. "Anak nakal sepertimu harus diberi pelajaran," sahut Nyonya Rina sambil menyeret putranya. Topi Adrian terjatuh tetapi mereka membiarkan begitu saja. “Ibu, tunggu dulu ... malu, Bu!” Adrian mengerucutkan bibirnya karena teriakan ibunya membuat semua orang menoleh ke arah mereka. Sebagian orang menahan tawanya, sebagian lagi terkesima melihat ketampanan putra Nyonya Rina. Sementara itu di dalam lift, Euis menghela napas lega karena pintu liftnya sudah tertutup. "Ah, syukurlah ketutup juga, tapi aduduh pusing." Euis berpegangan pada handle lift yang ada di samping. Ini pertama kalinya gadis itu naik lift jadi kepalanya terasa pusing dan perutnya mual. Setelah berusaha menguasai dirinya, kini dia bingung bagaimana cara naik ke lantai lima belas. Gadis itu menatap deretan angka di depannya. "Tekan tombol yang ini kali, ya," ucapnya tidak yakin, lalu mengedarkan pandangannya mencari tombol lain di dalam lift. "Gak ada tombol lain berarti yang ini," ucapnya sambil menekan tombol dengan lambang angka lima belas. Tiba-tiba pintu liftnya terbuka. "Apa udah sampai lantai lima belas?" Gadis itu terkejut sekaligus bingung karena merasa baru saja menekan angka lima belas. Seorang nenek tua yang terlihat cantik dan elegan masuk ke dalam lift. "Maaf, Nek, mau tanya, ini lantai lima belas bukan, ya?" tanya Euis, tidak tahan lagi menahan rasa penasarannya. "Oh, bukan. Ini baru lantai dua," jawab Nenek Tua itu sambil tersenyum. "Oh, iya, terima kasih, Nek." Euis mengangguk. 'Untung belum keluar,' pikir Euis. "Sama-sama. Angka di sana menginformasikan nomor lantai," jelas Nenek itu sambil menunjukan layar monitor kecil di atas tombol lift. Nenek itu sudah melihat sikap canggung Euis, jadi bisa menebak kalau gadis itu baru pertama kali naik lift. "Oh, begitu, terima kasih, Nek," jawab Euis sambil tersenyum. "Hm." Nenek itu ikut tersenyum. Lima belas menit kemudian Euis sudah sampai di lantai lima belas. Nenek tadi turun di lantai lima. Euis keluar dari lift dengan ragu-ragu. "Perasaanku, kok, nggak enak, ya," ucap Euis. Dia terdiam di lorong. "Apa aku pulang aja, ya. Sepi begini lorongnya." Euis celingak-celinguk, berharap ada orang yang lewat tetapi harapannya sia-sia. Lima menit berlalu tetapi tidak ada siapapun selain dirinya di sana. "Tapi kalau pulang Bibi pasti marah-marah ... ya, sudahlah bismillah aja." Euis melangkahkan kakinya untuk mencari kamar dengan nomor 1532. Sementara itu, Ravindra sudah kembali ke pos satpam. Kedua teman satpamnya pergi entah ke mana. Pemuda tampan itu mengedarkan pandangannya dan melihat segelas kopi panas ada di sana. "Eh, ada kopi nganggur. Lumayan, nih," Ravindra meneguknya tanpa pikir panjang. "Segar ....” Pria tampan itu bersantai di kursi satpam dengan menaikkan kedua kakinya ke meja dan memperhatikan orang yang lalu-lalang. "Hidup sederhana itu memang yang paling damai dan indah. Tidak ada beban, bebas konflik dan huru-hara." Ravindra masih melakukan monolog dan tersenyum dengan santai. Tiba-tiba Ujang, teman satpamnya berlari ke arah pos dengan tergopoh-gopoh. "Kenapa, Jang? Lari udah seperti kesetanan begitu," sahut Ravindra yang lebih nyaman berbicara informal dengan teman kerjanya. "Mas Ravi, tadi lihat kopi saya yang di sini, nggak?" tanya Ujang dengan mimik wajah serius dan napas yang masih tidak beraturan. "Oh, itu punya kamu ... udah habis tadi, hehe ...." Ravindra terkekeh tanpa beban. "Hah? Serius?" Ujang membelalakkan matanya, tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Iya, tadi aku minum. Daripada nggak diminum terus dikerubuti semut, kan, mubazir," terang Ravindra. "Tapi itu ...." Ujang tidak meneruskan ucapannya, raut wajahnya terlihat frustasi. "Kenapa, sih, Jang. Cuma kopi doang, kok. Nanti aku ganti, deh. Tadi haus banget soalnya," jelas Ravindra. "Tapi itu .... argh, kacau deh." Ujang masih ragu-ragu. Dia mengacak-acak rambutnya. "Kenapa, sih, Jang?" Ravindra merasa penasaran. "Itu ... kopinya ada obatnya, Mas," ucap Ujang perlahan. "Hah? Apa maksud kamu? Apa ada sianidanya?" Ravindra mulai merasa was-was. Dia menurunkan kedua kakinya dari atas meja. Matanya membola. 'Aku belum punya pacar, belum mau mati,' pikir Ravindra. "Itu kopi spesial ramuan dari si Tejo. Dikasih ramuan cinta, Mas," ujar Ujang dengan suara perlahan dan wajah yang serius. "APA!" Ravi langsung bangkit dari tempat duduknya. Matanya terbuka lebar. "Iya, bini di rumah udah ngeluh mulu, akunya kurang lama katanya. Jadi Tejo kasih itu. Dipakai sejam sebelum tempur katanya. Tadi aku dipanggil pihak Manajemen jadi ditinggal dulu sebentar. Eh, malah diembat Mas Ravi." Ujang merasa kesal. "Ah, gila kamu Jang! Masa bawa yang kayak begituan di tempat kerja!" seru Ravindra. Pemuda Tampan itu terlihat frustasi. "Ya, aku mana tahu Mas Ravi bakal selonong boy begitu." Ujang tidak terima disalahkan oleh Ravindra. "Ya, terus aku harus gimana, sekarang? Kamu punya obat penawarnya, nggak!" Ravindra panik dan kebingungan. "Ya, enggak Mas. Obat penawarnya, ya, begitu deh, hehe ...." Ujang terkekeh. "Gila, kamu, Jang! Aku begitu sama siapa?" Ravindra benar-benar pusing. "Bukannya banyak wanita cantik yang naksir sama Mas Ravi," sahut Ujang yang kembali terkekeh. Ravindra merinding mengingat ketiga wanita genit yang selalu mengganggu petualangan hidup damainya sebagai warga kelas bawah. "Ah, sudahlah. Aku pergi dulu," tukas Ravindra yang langsung berlari ke arah parkiran. "Mau ke mana, Mas. Udah kebelet, ya?" teriak Ujang sambil terkekeh, tetapi Ravindra mengabaikannya. "Ah, anak muda. Besok pasti bakalan ada gosip hot, nih! Siapa, ya, yang beruntung. Rita, Nina apa Bu Jamilah." Ujang kembali terkekeh. Ravi merogoh saku celananya lalu mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang. "Matt, kirim wanita cantik dari keturunan yang baik, polos, dan nggak membuatku gatal-gatal serta sesak napas. Secepatnya ke kamar hotelku! Sekaligus penghulu juga!" seru Ravindra. "Untuk apa, Presdir?" tanya Matt di ujung telepon. 'Di mana aku mencari gadis seperti itu,' pikir Matt. Belum apa-apa dia sudah merasa stress. "Untuk aku nikahi. Aku tidak sengaja minum kopi yang ada obatnya," sahut Ravindra yang terus berjalan menuju lift khusus CEO. "Hah?" Matt terkejut. Lift terbuka dan Ravindra masuk ke dalamnya. Dia menekan angka 20, lantai paling atas sebelum rooftop. Lantai dua puluh merupakan kediaman sekaligus kantornya di hotel itu. "Kalau gadisnya nggak ketemu, kamu hubungi Tiara, minta obat! Ah, jangan! Kamu minta obat ke Dokter Kurniawan saja!" perintah Ravindra. "Ok, siap, tapi Presdir, tapi di mana saya mencari gadis yang tidak membuat Anda gatal-gatal?" tanya Matt, kebingungan. "Itu urusanmu Matt. Kamu digaji dengan mahal agar bisa memenuhi semua perintahku, kan!" Ravindra mulai terdengar kesal pada sekretarisnya. "Iya, sih ... tapi ...." Matt tidak meneruskan ucapannya karena dipotong oleh Ravindra. "Sudahlah, kayaknya obatnya mulai bereaksi!" Ravindra merasa tubuhnya menjadi panas lalu menutup teleponnya begitu saja. Matt masih terbengong-bengong di kantornya, di PT. Intex. Salah satu perusahaan milik Ravindra yang bergerak dalam bidang pembuatan sprei dan bedcover. "Di mana aku harus cari gadis cantik yang tidak membuat presdir gatal-gatal? Selama ini hanya neneknya yang tidak membuat presdir gatal-gatal dan merasakan sesak napas ketika berhadapan dengan seorang wanita. Aargh! Kalau begini bisa tamat karir cemerlangku!" Matt merasa frustasi dan mengacak-acak rambutnya sendiri karena harus menuruti keinginan presdirnya yang memiliki alergi pada wanita yang menyebabkan kulitnya gatal-gatal, ruam, bersin-bersin, hidung meler, pusing hingga pingsan. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN