Sementara itu, Euis sudah tiba di depan kamar nomor 1532, gadis itu mencocokkan nomor kamar dengan alamat di ponselnya.
"Iya, benar yang ini," ucapnya, meyakinkan dirinya sendiri.
Gadis berkulit kuning langsat itu menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan untuk mengatasi rasa gugupnya yang datang secara tiba-tiba.
"Bismillah, semoga interview malam ini sukses dan aku bisa dapat pekerjaan agar bisa mengumpulkan uang untuk mencari keluargaku! Semangat!" Euis menyemangati dirinya sendiri.
"Assalammualaikum, permisi ...." Euis mengetuk pintu dan menunggu selama satu menit, tetapi tidak ada jawaban. Gadis itu kembali mengetuk pintu kamar hotel itu.
"Permisi ...." Euis mengulangi ucapannya.
Tidak berapa lama pintu terbuka sedikit.
"Siapa kamu?" seru Pria paruh baya yang mengintip dari balik pintu.
"Saya keponakannya Ibu Lina Sudarsih, katanya diminta ke sini untuk bertemu Pak Bos Roni. Apa benar ini kamar beliau?" tanya Euis to the point, tetapi berusaha sesopan mungkin.
"Lina?" Pria itu mengerenyitkan alisnya sambil menatap Euis dari atas sampai bawah.
"Iya, benar, Pak!" Euis mengangguk dengan tegas.
"Kenapa bukan putrinya, Lisa, yang datang?" Pria itu membuka pintu kamarnya dan bersandar di dinding dekat pintu. Kedua tangannya terlipat dan tatapannya penuh selidik.
"Itu karena Lisa baru masuk kuliah dan tidak bisa bekerja secara full time. Jadi, saya menggantikannya. Maaf, Pak, apa Pak Bos Roninya ada di dalam?"
Euis tetap mempertahankan kesopanannya walaupun tatapan pria paruh baya di depannya membuatnya tidak nyaman.
"Oh, begitu ... aku Roni, masuklah," ujar Bos Roni dengan senyum lebarnya. Pria itu terus memperhatikan tubuh Euis yang terlihat indah dan proporsional di matanya.
'Gadis ini lumayan juga,' pikir Bos Roni.
"Masuk? Sekarang?" Euis semakin merasa ragu saat melihat tatapan mencurigakan dari pria dewasa itu.
'Kok jadi takut, ya,' pikir Euis, tangannya meremas gaun hitamnya dengan kencang.
"Iya, masa kamu mau semalaman di luar. Nanti bagaimana kita bisa berbicara dan ...." Bos Roni tidak meneruskan ucapannya, hanya menyeringai bagai binatang buas yang melihat buruannya.
'Masuk, nggak, ya?' Hati Euis merasa bimbang, tubuhnya merinding seakan memberikan sinyal bahaya pada gadis itu.
"Ayo, cepat masuk! Time ia money!" Bos Roni terlihat tidak sabar.
Euis menatap Bos Roni dan interior kamar hotel itu secara bergantian.
'Ya sudah, deh, bismillah aja. Demi menemukan ibu dan adik-adikku di kampung,' ucap Euis di dalam hatinya.
"Baik, Pak Bos." Euis melangkah perlahan mengikuti Bos Roni ke dalam. Perasaannya terasa was-was tetapi dia merasa tidak punya pilihan lain karena tahu mencari pekerjaan di Ibukota itu sangat sulit.
'Wah, kamarnya bagus banget. Pakai permadani semua. Apa aku harus lepas sepatu dan pakai sandal yang itu juga?' Euis memperhatikan Bos Roni yang memakai sandal berlogo hotel itu.
"Kenapa diam saja. Pakai sandalnya terus mandi duluan!" Bos Roni melangkah masuk melewati Euis.
Gadis bergaun hitam itu langsung mengerutkan keningnya lalu mencium kedua ketiaknya.
'Gak bau, kok? Masa iya mau interview harus mandi dulu, apa itu gak berlebihan,' pikirnya.
"Kenapa harus mandi, Pak Bos. Kita, kan sedang membicarakan masalah bisnis," sahut Euis yang merasa semakin tidak nyaman dengan sikap Bos Roni.
Tiba-tiba pintu kamar hotel tertutup dengan otomatis.
"Astaghfirullah!" Euis melonjak kaget dan menoleh ke arah pintu.
'Keren, pintunya bisa menutup sendiri, tapi aku, kok, semakin takut, ya?' pikir Euis.
"Oh, jadi kamu suka yang to the point?" tanya Bos Toni sambil menyeringai.
"Iya, Pak Bos, to the point saja," jawab Euis dengan yakin
"Haha ... baiklah, tapi kamu masih perawan, kan?" tanya Bos Roni.
'Mau kerja, kok, tanya soal keperawanan ... apa dia takut aku bolos kerja kalau sudah terikat pernikahan? Emm ... bisa jadi, sih.' Euis melakukan monolog di dalam hatinya.
"Iya, Pak Bos, saya masih lajang, insyaallah tidak akan bolos kerja. Jadi, sangat cocok untuk pekerjaan yang Bapak tawarkan." Euis terlihat bersemangat.
"Bagus, sekarang letakkan tas dan map coklatmu itu, kita tidak membutuhkannya!" perintah Bos Roni.
"Apa Bapak tidak ingin melihat riwayat hidup dan lamaran saya dulu?" Euis kembali mengerutkan keningnya karena kebingungan.
"Itu bisa dilakukan nanti setelah urusan kita selesai. Kalau aku puas, kamu bisa hidup enak!" Bos Roni menatap lekat tubuh Euis dan kembali menyeringai.
Euis tersenyum dengan canggung.
'Ya ampun, pandangan dan senyumannya, kok, begitu amat. Kayak Tuan Thakur di film-film India,' pikir Euis.
"Em, kira-kira berapa besar gaji bulanannya, Pak Bos?" Euis menatap Bos Roni dengan penuh harap.
"Aku bisa memberimu lima sampai sepuluh juta, tergantung servis yang kamu berikan," jelas Bos Roni.
"Servis? Apa maksudnya pekerjaan?" tanya Euis sambil mengerutkan keningnya.
"Iya, benar ... servis yang memuaskan." Bos Roni menghampiri Euis dan langsung menarik lengannya ke pelukannya.
'Eh, si Bapak ngapain!' pikir Euis Kemudian ....
"Hiaaat ...."
"Aw ... aw, dasar gadis tidak tahu diri! Apa yang kamu lakukan, hah!" Bos Roni tersungkur di lantai setelah dibanting ke belakang dan lengannya ditekan ke lantai oleh Euis.
Euis tersadar saat mendengar teriakan kesakitan dari Bos Roni.
"Maaf, Pak, refleks! Lagian Bapaknya juga gak sopan, narik-narik saya segala! Kita, kan, sedang interview jadi tidak perlu ada kontak fisik!" tegas Euis.
Beberapa saat kemudian, gadis itu merasa tidak enak hati karena sudah membanting Bos Roni secara tiba-tiba. Euis buru-buru melepaskan tangannya dan mundur ke belakang dua langkah.
"Hah? Interview?" Bos Roni melebarkan matanya lalu tertegun untuk sesaat.
'Gadis ini ingin bermain-main denganku atau dia memang bodoh? Tapi baiklah aku ikuti permainannya,' pikir Bos Roni lalu tertawa terbahak-bahak.
Euis mengerutkan keningnya, dia merasa aneh melihat tingkah Bos Roni yang tiba-tiba tertawa begitu saja.
'Pandangan matanya kayak Juragan Jaka. Apa dia buaya darat juga?' pikir Euis.
"Jadi begitu kata Lina, hah?" tanya Bos Roni sambil menyeringai.
"Iya, Pak Bos. Kata Bi Lina, Pak Bos bisa memberikan pekerjaan dengan upah yang cukup besar," jelas Euis.
"Ya, tentu saja." Bos Roni mengangguk.
"Benarkah, Pak Bos?" Euis tersenyum sumringah.
"Iya, sekarang kamu duduk dulu di sana, aku akan bawakan minuman. Kamu pasti haus, kan?" tanya Bos Roni sambil menunjuk pada sebuah meja kecil di dekat jendela, lalu tersenyum seramah mungkin.
"Iya, Pak Bos, sangat haus! Tadi saya sampai naik bus tiga kali untuk datang ke sini, terus bla ... bla ...." Euis bercerita tentang perjalanannya dari rumah bibinya sampai ke kamar hotel itu
"Oh, begitu ... ceritakan tentang hubunganmu dengan Lina sekali lagi. Aku belum pernah melihatmu di sekitar rumahnya," ucap Bos Roni sambil menuangkan jus jeruk ke dalam gelas dan menaburkan sesuatu.
"Baik pak Bos, saya ini keponakan dari suami Bi Lina yang datang ...." Euis tidak meneruskan ucapannya saat melihat jus jeruk yang terlihat menggiurkan.
"Minumlah dulu, baru kamu lanjutkan lagi ceritanya." Bos Roni meletakkan jus jeruk itu di atas meja di hadapan Euis lalu tersenyum seramah mungkin.
"Iya, makasih Pak Bos. Anda baik sekali." Euis tersenyum dengan tulus pada Bos Roni.
"Iya, tentu saja," ucap Bos Roni sambil memperhatikan Euis yang menghabiskan semua jus jeruknya tanpa tersisa.
'Bagus, sekarang tinggal menunggu reaksinya. Aku tak sabar ingin mendapatkan gadis ini,' ucap Bos Roni sambil tersenyum.
"Enak banget jusnya, Pak Bos. Terima kasih, ya," ucap Euis sambil tertawa dengan kencang.
'Eh, kenapa aku tertawa secara tiba-tiba begitu,' pikir Euis
Bersambung ....