Aku Masih Punya Harga Diri!

1069 Kata
Bos Roni tersenyum puas melihat Euis yang mulai memperlihatkan reaksi yang diharapkannya. 'Tidak sia-sia aku membeli benda itu dari Italia. Ternyata efeknya sangat cepat,' pikir Bos Roni. "Kok, saya pusing dan sakit kepala, ya, Pak Bos," ucap Euis sambil mengurut keningnya. "Mungkin kamu kelelahan, sini Bapak pijat kepalanya," ucap Bos Roni yang mulai menghampiri Euis. "Tidak, Pak, tidak usah ...!" Euis menolak Bos Roni, tetapi ketika tangan pria dewasa itu mulai memijat kepalanya. Gadis itu merasa nyaman dan rasa sakit di kepalanya berkurang. 'Pintar banget pijatnya, tapi kenapa aku tiba-tiba jadi begini, ya?' Euis kebingungan. Tiba-tiba tangan Bos Roni yang lain mulai mengelus pipi Euis. "Astaghfirullah, Pak!" Gadis itu langsung terperanjat. "Kenapa?" Bos Roni melanjutkan pijatannya tanpa merasa bersalah. "Sudah, Pak. Terima kasih, saya sudah tidak apa-apa!" seru Euis sambil mengangkat tangan Bos Roni dari kepalanya tetapi tiba-tiba tubuhnya semakin menghangat dan napasnya mulai tidak beraturan. 'Sebenarnya aku kenapa? Kalau begini aku tak akan bisa interview dengan benar,' pikir Euis. "Tidak apa-apa, sini saya pijat lagi kepalanya. Saya akan membantumu mengatasi rasa tidak nyaman di tubuhmu itu," ucap Bos Roni dengan lembut. Euis menggeleng walaupun tubuhnya terasa semakin merasa panas dan napasnya tersengal-sengal. 'Apa aku masuk angin karena pakai bajunya Lisa?' gumam Euis di dalam hatinya. Dia melirik gaun A line hitam tanpa lengan yang dipakainya. "Kamu mau minum lagi?" tanya Bos Roni sambil menyodorkan jus jeruk lagi. "Tidak, terima kasih Pak Bos, saya lagi tidak enak badan. Mungkin masuk angin karena tidak terbiasa terkena AC dan bajunya kurang bahan," jelas Euis, tetapi matanya melirik jus jeruk di tangan Bos Roni. 'Aku merasa demam setelah minum jus jeruk itu. Mungkin maagku kumat kali, ya, jadinya masuk angin begini, tapi aku haus ... bagaimana ini?' gumam Euis di dalam hatinya. Dia berpikir jus jeruk dingin yang membuat tubuhnya merasa tidak nyaman. "Hah ... hah ... boleh saya minta air putih itu, Pak? Saya haus," ucap Euis sambil menunjuk botol air mineral yang berada di atas meja kopi. "Tentu saja, tunggu sebentar." Bos Roni beranjak ke meja kopi untuk mengambil botol air mineral. 'Kenapa tenggorokanku terasa kering, haus dan panas, gak nyaman banget! Tadi enak banget dipijitin Pak Bos tapi bersentuhan dengan yang bukan muhrim itu dosa!' terjadi pergolakan di dalam batin gadis muda yang cantik alami. Euis memeluk dirinya sendiri berusaha sekuat tenaga menenangkan rasa aneh yang terus muncul. Di satu sisi dia ingin Bos Roni memijat kepalanya lagi tetapi akal sehatnya melarang keras. "Ini minumlah." Bos Roni menyodorkan botol air mineral yang sudah dibukanya dan tentu saja sudah dia bubuhkan sesuatu lagi. "Terima kasih, Pak Bos!" Euis menyabet botol air mineral itu kemudian meneguk isinya dengan cepat, seperti orang yang tidak pernah minum air sebelumnya. Bos Roni kembali tersenyum puas sambil menikmati pemandangan saat gadis itu meminum air hasil racikannya dengan rakus. Air yang menetes dari mulut Euis ke gaunnya, menciptakan pemandangan yang membuat pria paruh baya itu menelan salivanya beberapa kali. Pria matang itu mengatur napasnya yang mulai tidak beraturan. 'Sebentar lagi kamu akan jadi milikku, gadis kecil. Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja,' ucap Bos Roni di dalam hatinya. Hasratnya meningkat dengan tajam karena dia juga ikut meminum racikan itu untuk menguatkan tubuhnya. Melihat Euis yang masih sibuk menghabiskan air mineralnya. Bos Roni menghampiri gadis itu dari belakang dan mencoba menyentuh bagian belakang gaun gadis itu secara perlahan. Merasakan ada sebuah tangan yang mengelus punggungnya, Euis terperanjat. "A-apa yang Bapak lakukan!" Euis yang sudah mulai kepayahan, berbalik dan menepis tangan Bos Roni lalu melangkah mundur beberapa langkah. Gadis itu menatap Bos Roni dengan tajam dan waspada. 'Aku benar-benar menyesal sudah datang ke sini. Dia ini berbahaya seperti Juragan Jaka. Aku harus keluar secepatnya! Tapi bagaimana dengan Bi Lina? Beliau pasti marah kalau aku tidak mendapatkan pekerjaan itu?' Euis merasa dilema. "Aku hanya berusaha membantu membuatmu merasa lebih nyaman, bukankah kamu kepanasan?" Bos Roni memberikan ekspresi tidak bersalahnya. "...." Euis terdiam karena ucapan Bos Roni memang benar. Dia merasa kepanasan hingga ingin melepaskannya. Gesekan dari pakaian yang dia kenakan membuat napasnya semakin berat, tetapi sekali lagi akal sehat dan moralnya masih kuat menahan pikiran aneh di dalam tubuhnya "Bapak jangan aneh-aneh! Saya hanya masuk angin. Terus, apa interviewnya bisa diundur di lain hari? Jujur saya sedang tidak enak badan, Pak?" Euis terduduk di kursi dan menunduk sambil mengeluarkan napas panas dari mulutnya 'Apa yang terjadi? Badanku semakin panas dan lemas! Ya Allah, apa aku akan mati? Tolong ampunilah semua dosaku dan dosa kedua orangtuaku! Ah, aku tidak boleh menyerah! Bagaimanapun caranya, aku harus keluar dari sini dan mencari klinik terdekat!' serunya di dalam hati kemudian melafalkan berbagai macam doa untuk menguatkan mentalnya. "Selesaikan sekarang saja!" Bos Roni yang melihat keadaan Euis yang semakin lemah dan lengah, langsung menyergapnya. "Aaargh! Apa yang Bapak lakukan! Lepaskan saya!" Euis memukul-mukul punggung Bos Roni dan tentu saja pukulannya tidak berefek apapun pada pria matang itu karena tenaga yang gadis itu keluarkan terlalu lemah. "Sudah, diamlah! Hentikan permainan sok sucimu itu!" seru Bos Roni sambil mengangkatnya dan melempar Euis ke sofa dengan kencang. "Aargh ... sakit! Apa yang Bapak lakukan?" Euis kebingungan dan mulai mundur teratur. "Diamlah! Jadi gadis yang baik dan penurut. Kalau aku puas, nanti aku akan menjadikanmu wanita simpananku. Kamu bisa hidup enak tanpa bekerja selama hidupmu." Bos Roni berusaha membujuk Euis lalu menyeringai. "Melayani? Wanita simpanan?" Euis masih mencoba mencerna semuanya di antara napasnya yang tersengal-sengal. "Benar!" Bos Roni kembali menyeringai.. "Jangan mendekat! A-aku bukan w************n! Apa yang Bapak lakukan, kenapa melepas kancing kemejanya di depan saya! Rapatkan lagi kancingnya, Pak, aurat!" seru Euis yang masih kebingungan dengan sikap Bos Roni dan tingkah menjijikkannya. "Kamu ini bodoh apa pura-pura bodoh, hah!Jangan belagak sok suci! Lina sudah menjualmu padaku sebagai pengganti utang yang dia pinjam padaku! Mau tidak mau, kamu harus menerima nasibmu! Jadilah gadis yang baik, aku akan memberimu pengalaman yang tidak terlupakan!" Bos Roni menyeringai. 'Bi Lina menjualku? Tapi ....' Belum sempat berpikir lebih jauh. Bos Roni menarik tangannya dengan kuat. "Aaargh, Jangan! Apa yang Bapak lakukan!" Euis mencoba memberontak sekuat tenaga, tetapi hal itu membuat Bos Roni semakin penasaran. Mereka berdua berusaha Mempertahankan harga diri masing-masing. Euis mempertahankan harga diri sebagai gadis yang masih suci sedangkan Bos Roni mempertahankan harga dirinya sebagai penakluk wanita. 'Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa yang akan dilakukannya. Aku gak mau jadi simpanan pria tua ini!' Euis panik, pikirannya dipaksa untuk mencari akal untuk melepaskan diri dari jerat Bos Roni secepat mungkin, walaupun tubuhnya sudah sangat kepayahan. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN