Melawan Bos Roni

1300 Kata
Merasa semakin terjepit karena perbedaan tenaga yang terlalu besar dan pengaruh racikan yang diberikan Bos Roni dalam minumannya. Euis berpikir keras dan memutar otaknya, hingga sebuah ide muncul di kepalanya. 'Maafkan aku Ya Allah, ini bela diri!' Gadis itu mengumpulkan semua tenaganya yang sudah hampir habis itu lalu mencolok kedua mata Bos Roni dengan kedua jarinya, sekuat tenaga. "Aaargh ...." Seketika terdengar teriakan Bos Roni. Pria itu berguling-guling sambil menutup matanya. 'Ah, ini kesempatanku,' pikir Euis yang langsung bangkit dari sofa. Menyadari pergerakan Euis, Bos Roni menyipitkan matanya sambil menahan sakit dan menarik rambut panjang gadis berusia dua puluh tahun itu dengan kencang "Aaarg ...." Euis terkejut dan berteriak, karena merasakan nyeri seperti tersengat binatang di tempurung kepalanya. Gadis itupun kembali terjatuh. "Dasar Gadis tak tahu diuntung!" Tangannya melayang ke arah pipi Euis. Euis kembali terkejut karena tidak menyangka akan mendapatkan tamparan yang cukup keras dari Bos Roni. Seketika gadis itu limbung dan terjerembab di sofa. "Aduh, sakiiit! Sesss!" Euis meringis. Rasa panas dan nyeri langsung mendera pipi kiri gadis cantik dengan iris mata berwarna coklat tua itu, tetapi berkat tamparan keras itu pula kesadaran Euis meningkat. "Makanya jangan macam-macam denganku!" Kini Bos Roni mulai mengunci Euis. "Lepaskan, Pak!" Euis meronta-ronta. "Sayangnya, Kamu tidak akan bisa lepas lagi dariku!" Bos Roni langsung merobek gaun bagian atas Euis dan melebarkan matanya saat melihat pemandangan yang indah. 'Aku tidak menyangka tubuhnya seindah ini!' Bos Roni tertegun sejenak. "Aarrgh ... apa yang Bapak lakukan!" Euis berteriak dengan perasaan yang campur aduk antara terkejut, malu, dan marah. Tanpa berpikir panjang, gadis itu menarik lampu tidur yang berada di meja samping dan membenturkan bagian bawahnya ke kepala Bos Roni dengan sekuat tenaga. Bos Roni terkesiap dan mematung untuk beberapa saat sebelum menyadari ada darah kental yang mengalir dari tempurung kepalanya. "Gadis sialan!" Bos Roni mencoba mencekik Euis dengan tenaganya yang tersisa. Tangan Euis menahan tangan Bos Roni sedangkan kakinya refleks menendang bagian bawah tubuh Bos Roni yang sudah meresahkan pikirannya dari tadi. "A-a-a ...." Bos Roni membelalakkan matanya dan ucapannya terbata-bata. Kali ini pria paruh baya itu sudah tidak bisa berkutik. Rasa sakit yang teramat sangat di kepala dan bagian bawah tubuhnya membuat pria matang itu berguling-guling tidak karuan, tetapi Di saat-saat terakhir dia menarik tangan Euis hingga gadis itu jatuh lantai. "Aaargh!" Euis berteriak saat tubuh Bos Roni menimpanya lalu pria paruh baya itu pingsan begitu saja. "Menjijikkan!" Gadis itu langsung menjatuhkan tubuh lintah darah itu ke samping dan buru-buru bangkit dari lantai. "Baju Lisa!" Euis menatap nanar pada gaun milik sepupunya yang sudah sobek dan tidak layak pakai. Gadis itu berlari ke arah tempat tidur, lalu menarik bed cover dan membalutkan benda itu ke tubuhnya lalu kembali berlari ke arah lemari berharap ada pakaian Bos Roni yang bisa dia pakai. "Apa ini?" tanyanya saat melihat hanya ada mantel mandi yang tergantung di sana. "Oh, mantel mandi kayak yang di film-film! Ini sajalah daripada pakai bed cover, ribet," ucap Gadis itu yang langsung mengganti bedcover yang membalut tubuh dengan mantel mandi itu. Setelah selesai, Euis melayangkan pandangannya ke arah koper kecil di dekat tubuh pingsang Bos Roni. "Baju Bandot tua itu sepertinya ada di sana ... tapi aku takut dia bangun?" Euis menjeda ucapannya karena sedang berpikir untuk menentukan pilihan antara tetap memakai mantel mandi atau mengambil pakaian Bos Roni. "Ah, udahlah nggak usah ganti! Tapi sekarang, aku haus," ucapnya lagi lalu mengedarkan pandangannya untuk mencari air mineral dan matanya kemudian terfokus pada botol air mineral yang tergeletak di lantai. Tanpa berpikir panjang lagi, gadis itu mengambil botol air mineral itu dan langsung menghabiskan isinya. "Ah, segar!" Euis menyeka mulutnya dengan punggung tangan kanannya, tetapi setelah beberapa saat, usai meminum air mineral itu rasa panas di tubuhnya semakin menjadi-jadi dan kali ini Euis mulai menggigil. "A-aku harus keluar dari sini dan me-meminta bantuan Pak Satpam un-tuk mengantar ke klinik. Pak Satpam i-itu orang baik, di-a pa-pasti akan mem-bantuku se-sekali lagi," bisik Euis yang mulai kesulitan untuk berbicara. Ingatan gadis itu langsung tertuju pada satpam baik hati yang mengantarkannya sampai ke depan pintu ballroom. Dengan napas yang tersengal-sengal, kepala yang terasa berputar-putar, badan menggigil, dan langkah yang sempoyongan. Euis keluar dari kamar Bos Roni dan melangkah tidak tentu arah. Dari kejauhan, samar-samar gadis itu melihat ada pintu lift yang terbuka dan memutuskan untuk masuk ke dalamnya. Sementara itu, Ravindra yang tidak sengaja menekan tombol angka 15 saat bersandar di ujung lift, dan sedang berusaha menahan hasratnya yang meluap-luap. Tiba-tiba terkejut saat melihat seorang gadis masuk ke dalam lift-nya begitu saja lalu menunduk di ujung lift. "Si-siapa kamu! Kenapa masuk lift orang sembarangan!" seru Ravindra dengan napas beratnya. Euis mendongakkan kepalanya dan menoleh. Gadis itu mengenali pria tampan itu. "Pak Satpam, tolooong," lirih Euis sambil menghampiri dan menjatuhkan dirinya pada tubuh Ravindra. "E-eh, apa yang kamu lakukan!" Pria tampan itu mengenali Euis dan jantungnya langsung berdebar dengan kencang saat tubuh mereka saling menempel. 'Waduh ada apa dengan jantungku dan kenapa gadis ini berpakaian seperti ini?' tanda tanya besar hadir di pikiran Ravi. Dia berusaha menjauhkan tubuh Euis, tetapi tanpa sengaja kedua tangannya memegang sesuatu. "Aargh ... apa itu?" Ravindra terkejut dan berteriak, lalu mendorong tubuh Euis lebih kencang. Di usianya yang menginjak ke dua puluh tujuh tahun. Dia belum pernah bersentuhan dengan wanita dewasa ataupun berpacaran. Gadis-gadis yang mengaguminya sangat banyak karena terpesona dengan ketampanan, tubuh proporsionalnya, dan tentu saja tergiur dengan kekayaan yang dimilikinya, tetapi Ravindra memiliki alergi khusus pada lawan jenis yang membuatnya harus menghindari semua wanita kecuali neneknya. Euis yang sudah hampir mencapai limit tenaganya langsung ambruk begitu saja di lantai lift. "Pak Satpam tolong," gumam gadis itu secara terus menerus. "Eh, dia kenapa?" Ravi penasaran dan mendekati Euis. Dia melihat gadis itu bernapas dengan kencang dan berat. Wajahnya merah, dan tubuhnya menggigil. Ravindra berjongkok dan memegang dahi Euis. "Tubuhnya panas, ada dia meminum sesuatu sepertiku? Apa ada seseorang yang menjebaknya? Kasihan sekali, padahal dia masih polos dan sekarang dia terlihat begitu menderita." Pria Tampan itu terus memperhatikan Euis, dia merasa prihatin pada gadis muda di hadapannya. "Pak Satpam." Euis terus menggigil sambil memanggil-manggil Ravindra dengan lemah. "Sepertinya kadar obat dalam darahnya lebih banyak dariku. Apa yang harus aku lakukan?" Ravindra mulai berpikir bagaimana cara terbaik untuk menolong gadis itu. Pintu lift terbuka dan mau tidak mau, Ravi mengangkat tubuh Euis dan menggendongnya masuk ke kamarnya di hotel itu dan membaringkan Euis di tempat tidurnya serta memakaikan selimut. Pria itu menatap Euis yang masih menggigil walaupun sudah memakai selimut. "Gadis ini terlihat cantik walaupun sedang menggigil." Ravindra mengagumi Euis dan tiba-tiba perasaannya menjadi tidak karuan "Aku harus minum air dingin!" Pria berambut gondrong itu meninggalkan Euis sendirian. Setelah menghabiskan dua botol air dingin. Ravindra kembali ke kamar karena penasaran dan ada dorongan aneh di tubuhnya yang ingin berdekatan dengan gadis cantik tadi. "Pak Satpam tolong!" Saat Ravindra masuk kamar, Euis terus memanggil-manggilnya. "Aku tidak boleh mendekatinya, nanti alergiku bisa kambuh. Aku tunggu kabar dari sekretaris bodohku saja," ucap Ravindra, tetapi pandangannya tidak bisa lepas dari gadis cantik itu dan jantungnya semakin menggila. Tiba-tiba Pria tampan itu menyadari sesuatu. "Eh, bukannya tadi kami bersentuhan? Tapi kenapa tubuhku baik-baik saja? Tadi waktu di dekat ballroom juga sama, kami bersentuhan tapi tidak gatal-gatal." Ravindra tercengang dengan fakta yang ada di hadapannya. Dengan rasa penasaran yang tinggi, satpam jadi-jadian itu mendekati Euis di tempat tidur dan mencoba menyentuh pipi kanan Euis dengan telunjuknya untuk membuktikan kebenarannya. "Eh, kok, kayak squishy?" CEO Tampan itu, dia sedikit terkejut dan mundur selangkah. Dia melanjutkan tingkah konyolnya dengan menyentuh pipi kiri Euis, hidung, alis dan kening. Ravindra tersenyum puas saat mengetahui tidak ada reaksi apapun pada kulitnya. Tiba-tiba, Ravindra menelan salivanya dan jantungnya berdebar semakin kencang saat matanya memandang sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat. Seluruh hati dan pikirannya menginginkan telunjuknya menyentuh sesuatu yang seperti gummy bear itu. Satpam jadi-jadian itu seperti menemukan mainan baru yang membuatnya semakin penasaran Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN