Euis Hilang

1360 Kata
Keesokan harinya. Ravindra terbangun tetapi masih malas membuka matanya. Presdir berambut gondrong itu meraba-raba area tempat tidur di sampingnya hingga tangan panjangnya terjulur semua, tetapi dia tidak bisa menggapai apapun karena kosong. "Eh?" Ravindra membuka matanya dan menoleh ke samping, dia terkejut karena gadis yang sudah menghabiskan malam bersamanya sudah tidak berada di sampingnya. Pria tampan itu langsung bangkit dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar tidurnya dengan panik. "Euis ... Ayang ...," panggil Ravindra, tetapi tidak ada jawaban. Ravindra bangkit dari tempat tidurnya dan memakai celana boxer bergambar Doraemon, tokoh kartun favoritnya, lalu membuka pintu kamar mandi, tetapi Euis tidak ada. "Ayang Euis," panggil Ravindra lagi sambil membuka pintu kamarnya dan melangkah keluar, tetap tidak ada jawaban. Dia menuruni tangga dan berkeliling kamar hotel royal suite yang dijadikan sebagai apartemen pribadinya, tetapi tidak ada seorangpun di sana. "Ke mana dia? Bukannya hari ini kami mau menikah," gumam Ravindra sambil membuka semua pintu yang ada di apartemennya. Pria itu istirahat sebentar dan duduk di depan meja makan. Dia mengambil botol air mineral yang ada di atas meja itu, lalu membuka segel dan meneguk isinya dengan cepat. Setelah dahaganya hilang, pria tampan itu melihat botol obat dan tulisan dari Matt, sekretarisnya. "Ini obat herbal penghilang efek obat yang Anda minum tadi, dari Dokter Kurniawan. Semoga lekas sembuh, ya, Presdir. Maaf, saya tidak sempat bertemu Anda karena buru-buru mau audit. Nanti saya telepon dari jalan. Semoga tidur dengan nyenyak, ya, Presdir. With love ... Matt." Ravindra langsung merinding saat membaca kalimat terakhir. "Matt Bodoh! Kenapa tidak ketuk pintu! Jadi ayang Euis tidak akan menderita seperti semalam ... eh, tunggu dulu!" Ravindra menjeda ucapannya dan tersenyum. "Syukurlah sekertaris bodoh itu tidak menggangguku. Andai Euis dan aku minum obat herbal ini semalam, aku tidak akan pernah merasakan indahnya menghabiskan malam bersama seorang kekasih?" Ravindra tertegun lalu tersenyum puas saat mengingat kejadian semalam. "Matt pintar, aku akan memberinya bonus yang besar nanti. Ah, aku jadi merindukan Ayang Euis! Aku harus menemukannya agar kita bisa segera menikah dan honeymoon lagi." Ravindra langsung tergelak sendiri. Setelah tawanya hilang, Satpam eksklusif itu berpikir keras. "Ayang Euis di mana, ya?" Ravindra bangkit dan kembali mencari keberadaan Euis di semua ruangan di apartemennya itu, tetapi hasilnya nihil. Pria Tampan itu duduk di meja makan dan kembali berpikir keras. "Apa yang semalam itu halusinasi? Apa aku menghabiskan malam dengan makhluk halus?" tanyanya sambil celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada siapapun di sana. Bulu kuduknya langsung berdiri dan tubuhnya bergetar. Pemilik perusahaan sprei dan bedcover itu bangkit dan kembali ke kamarnya untuk memastikan sesuatu. Saat Ravindra melihat ceceran bercak darah dan benihnya di sprei. Dia baru merasa lega dan yakin bahwa semalam dia memang menghabiskan malam yang indah dengan gadis yang bernama Euis Gadis yang berasal dari desa yang berjarak puluhan kilo meter dari pusat kota kecil antara Bogor dan Cianjur. "Syukurlah Euis itu manusia biasa bukan siluman, tapi ke mana, Ayang Euisku? Kenapa dia pergi? Bukannya dia yang mendesakku untuk bertanggung jawab dan menikahnya hari ini," ucap Ravindra yang mulai kebingungan. "Apa terjadi sesuatu padanya?" Tiba-tiba Ravindra merasa panik dan langsung menghubungi sekretarisnya. "Matt, Ayang Euis, hilang!" teriak Ravindra. "Ayam apa, Tuan Muda?" tanya Matt yang belum mengkoneksikan pikirannya dengan ucapan Presdirnya, karena masih melakukan audit keuangan sejak semalam. 'Sepertinya obat herbal semalam manjur, Tuan Muda terdengar bugar," pikir Matt sambil tersenyum puas. "Ayang Euis, hilang, Matt! Cari sekarang juga!" seru Ravindra lalu menutup teleponnya. "Eh, kok ditutup? Kebiasaan! Enaknya jadi konglomerat, jadi bisa semau-maunya sendiri. Telepon ya telepon, tutup ya tutup, tidak peduli dengan perasaan orang yang sudah dia ghosting!" Matt melihat ke arah ponselnya lalu menghela napas panjang Sekertaris Ravindra itu buru-buru membereskan dokumennya dan kembali mengingat-ingat tugas yang diberikan Ravi padanya. "Tadi aku disuruh cari ayam apa, ya? Em ... Ayam His kalau tidak salah? Apa itu ayam jenis baru? Tapi di mana aku mencari Ayam His-nya Tuan Muda? Lagipula sejak kapan Tuan Muda memelihara ayam?" Matt yang sudah stress dengan masalah audit karena ada beberapa data yang tidak sinkron, kini merasa level stresnya semakin meningkat karena perintah-perintah absurd dari Tuan Mudanya Padahal semalam setelah mengirimkan obat ke apartemennya Ravi. Matt benar-benar tidak bisa tidur sekejap pun karena masalah audit dan takut obat herbal yang diberikan Dokter Kurniawan tidak manjur serta takut dipecat karena tidak bisa menemukan calon pengantin dengan syarat yang diinginkan Tuan Mudanya. Sementara itu di tempat lain.Euis mulai tersadar. Bau menyengat yang memenuhi Indra penciumannya membuat gadis itu membuka kedua matanya dengan cepat. "Mmm ... di mana ini dan bau apa ini?" tanyanya sambil celingak-celinguk ke sekelilingnya dan melihat beberapa tong sampah di sampingnya. "Ya ampun, kok aku bisa ada di samping tempat sampah, sih? Perasaan semalam ada di hotel." Euis melihat tubuhnya yang sudah terbalut kemeja warna hitam yang kedodoran hingga sampai ke lututnya. "Syukurlah aku pakai baju!" Dia ingat tidak memakai sehelai benang pun saat kehilangan kesadaran dan Ravindra masih saja berpacu dalam melodi cintanya. Gadis itu berusaha bangkit tetapi rasa sakit mendera seluruh tubuhnya terutama di bagian intinya. Hal itu membuat gadis itu kembali pasrah terlentang di dekat tong sampah. "Adududuh ... sakit banget! Ini gara-gara Mas Ravi, nih! Menyebalkan, awas aja kalau nanti ingkar janji dan nggak mau beliin es conelo!" gerutu Euis. Semalam setiap Ravindra meminta jatah lebih. Pria tampan itu berjanji menikahi Euis dan membelikan setruk es conelo bahkan pabriknya. Euis yang menyangka Ravindra itu satpam betulan, hanya tertawa dan meminta sepuluh buah saja. Walaupun setelah itu dia menangis jerit-jerit meminta Ravindra melepaskannya tetapi tentu saja Ravindra tidak mau melepaskan Euis karena dia merasa seperti anak yang ketagihan dengan mainan baru. "Eh, mana Mas Ravi?" Euis baru tersadar, calon suami yang sudah merenggut kesuciannya itu, kini tidak berada di sampingnya. Gadis itu celingak-celinguk dan mengedarkan pandangannya, tetapi tentu saja Ravindra tidak ada di sana. Euis hanya melihat hamparan danau yang sangat indah di balik pepohonan. Tidak ada penampakan siapapun di sana karena hari masih gelap. Hanya terdengar suara orang-orang yang bergantian melantunkan shalawat pagi di Masjid. "Apa sekarang sudah subuh?" tanyanya pada diri sendiri. Dia teringat sebelum tertidur, jam di dinding Ravindra menunjukan pukul tiga dini hari. Tidak berapa lama terdengar lantunan adzan subuh dari masjid terdekat. "Ya benar, sekarang sudah subuh. Tapi kenapa aku ada di sini, bukan di hotel bersama Mas Ravi? Apa dia membuangku ke sini saat aku pingsan? Janji-janjinya palsu?" tanyanya pada rumput yang bergoyang. Rerumputan itu tidak mengangguk ataupun menggeleng untuk menjawab pertanyaan Euis. Mereka hanya sibuk bergoyang mengikuti arah angin yang berembus di pagi hari itu. Menyadari sebuah kenyataan pahit yang menyakitkan relung hatinya dan menjatuhkan mentalnya hingga ke titik paling dasar itu. Euis langsung menangis sesenggukan. "Mas Ravi tega! Mas Ravi pembohong! Aku doain nggak fungsi lagi senjatanya dan nggak bisa punya istri?" kutuk Euis sambil mengusap air matanya dengan punggung tangannya dan mengusap Apolo sebelas yang mengalir dari hidungnya dengan ujung kemeja Ravi yang sangat mahal itu. Menyadari kemeja mahal milik Ravindra itu sudah basah dan meninggalkan noda, Euis kembali berbicara sendiri. "Kemeja mahal kayaknya, tapi mau bagaimana lagi, orang nggak ada ada tisu, masa iya dilap pakai rumput yang bergoyang, hiks!" Tiba-tiba dia teringat ucapan kedua orang tuanya yang selalu mewanti-wanti untuk menjaga kesuciannya sebelum menikah. "Emak, Bapak, maafkan Euis yang nggak bisa jaga diri. Euis terpaksa karena dijebak Bi Lina. Euis bisa kabur dari Bos Roni, eh malah dikerjain sama Mas Ravi!" tangis Gadis itu semakin menjadi-jadi, diiringi lantunan adzan subuh. Euis menyadari sebagai seorang gadis, dia sudah melakukan hal yang paling tercela. Walaupun dalam pengaruh racikan setan itu. Setelah tangisnya mulai mereda, gadis itu memaksakan diri untuk bangun dan berjalan mengikuti arah suara adzan subuh. Dia ingin membersihkan dirinya dan bertobat pada Tuhannya, Allah SWT. "Moga, Allah SWT ... masih menerima tobat hamba-nya yang hina ini," lirih Euis yang melangkah tertatih-tatih mendekati mesjid terdekat. Air matanya masih terus mengalir dengan deras hingga mulai mengaburkan pandangannya. Begitu sampai di masjid. Orang-orang yang sudah melaksanakan solat subuh membubarkan diri. Euis sudah berada di sekitar toilet wanita untuk mandi besar. Saat akan melangkahkan kakinya ke lantai depan toilet. Tiba-tiba gadis itu ambruk begitu saja karena tidak tahan dengan rasa sakit yang terus mendera di sekujur tubuhnya dan dia kembali tidak sadarkan diri. "Astaghfirullah, Neng!" Terdengar teriakan seseorang. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN