Ayam His

1444 Kata
"Dimanakah gerangan Kau berada wahai Ayam His atau apapun namamu!" Matt menghabiskan waktu paginya untuk melacak CCTV hotel dan mencari keberadaan Ayam milik Ravindra yang hilang sambil menyantap makan malam mode sarapannya, mengingat saat itu baru pukul jam lima pagi waktu setempat. "Apa ini? Siapa yang melakukannya! Wah, pelanggaran berat ini!" Setelah satu jam berlalu, bukan rekaman keberadaan ayam milik Ravindra yang dia temukan, tetapi sebuah fakta bahwa ada orang yang sengaja menyabotase CCTV hotel. Matt mengangkat gagang telepon di ruang kantornya untuk menghubungi seseorang dan beberapa saat kemudian, telepon tersambung. "Matt, ada apa? Tumben mau menyapa fakir miskin seperti diriku?" sindir James. Mereka berdua memiliki sedikit kesalahpahaman di masa lalu sehingga selalu berdebat. "James, kamu yakin kamu itu fakir miskin? Bukankah kamu itu duda terlantar?" Matt memberikan jawaban mulus membuat kekesalan James semakin membulat dan ingin mencubit ginjal Matt. "Dasar Tomket!" seru James. "Kaki Gajah!" Matt tetap tidak mau kalah. "Cepat katakan ada apa sampai Yang Mulia sudi menghubungi seorang fakir sepertiku?" tanya James, dia tahu kalau tidak terlalu penting, Matt tidak akan sudi menghubunginya. Mereka itu musuh bebuyutan dan tidak akan bisa berbaikkan walaupun langit menurunkan hujan coklat ke seluruh ladang gandum. "Sudah aku katakan kamu itu lebih cocok jadi duda, James! Dengarkan aku, seseorang menyabotase CCTV hotel dan sepertinya ini berhubungan dengan hilangnya ayam milik presdir! Coba cari cara apa ada jalan untuk mengembalikan rekaman CCTV itu secara lengkap agar aku bisa melacak keberadaan ayam berharga itu." Matt memberikan instruksi pada James, salah satu staf IT berbaik di hotel tersebut dan di Jakarta "Ayam? Kenapa ayam bisa masuk hotel secara hidup-hidup?" James kebingungan. "Iya, ayam His milik Presdir hilang dan aku sama sekali tidak menemukan jejak rekaman CCTV-nya. Aku berpikir ini adalah upaya penculikan!" seru Matt dengan berapi-api. "Penculikan ayam?" James semakin kebingungan kemudian tertawa serenyah rengginang dalam toples kongguan lebaran kemarin. "Iya, cepatlah cari pelakunya! Ayam itu sangat penting bagi Presdir!" seru Matt. "Benarkah? Sepenting itukah seekor ayam bagi Presdir? Apa beliau akan membuka perusahaan baru bertema ke-ayam-an?" James masih saja tertawa. "Mungkin dan setelah itu siapa tahu beliau membuka perusahaan bertema Hello Kitty seperti boxer milikmu, ahaha ...." Matt tergelak mengingat pernah melihat James menjemur boxer bergambar tokoh kartun itu di balkon apartemennya. "Ya, nanti akan aku usulkan saat bertemu dengan beliau, sekalian dengan tema bunga sakura, iyes? Ahaha ...." Tawa James tidak kalah kencang dengan Matt. "Sudahlah, kita lanjut battle nanti malam bagaimana? Aku tantang kamu main cacing! yang pertama game over, harus traktir makan malam selama satu bulan, bagaimana?" tantang Matt. "Deal! Tunggu kabar dariku dalam sepuluh menit. Kalau lewat dari itu, kamu bisa mulai memproses surat berita kehilangan" seru James. "Siap! Aku pastikan kamu jadi tersangkanya, ahaha ...." Matt kembali tertawa. "Kucing garong!" James langsung menutup teleponnya. Matt hanya bisa tertawa, kemudian langsung terdiam saat melihat wajah garang Ravindra di layar ponselnya. "Bos galak enaknya diapakan, ya? Kira-kira kalau aku santet, berdosa apa tidak, ya?" gumam Matt, tetapi tentu saja itu hanya niatan yang tidak akan pernah dia lakukan pada Ravindra. Dia sadar walaupun Bosnya galak, tetapi transferan gajinya tidak pernah telat dan itu adalah nilai plus-plus Matt pada Ravindra. Sepuluh menit kemudian. Telepon di ruangan Matt berdering. "Hallo!" "Matt, sorry sepertinya aku tidak bisa memulihkan rekaman CCTV tadi, hacker yang menyabotasenya sudah memusnahkan rekaman aslinya." James terdengar begitu menyesal. Sebagai seorang ahli IT terbaik, hal ini bagai sebuah tragedi baginya, karena biasanya dia bisa menyelesaikan semua tugas yang diberikan atasannya dengan baik dan cepat. "Begitukah? Apakah kemampuan IT-mu sudah usang?" ejek Matt. "Entahlah, aku akan mencobanya lagi nanti." Kali ini James tidak ingin berdebat, dia cukup down dengan kenyataan tidak bisa memecahkan kasus CCTV tadi. "Baiklah, kalau begitu, nanti akan aku laporkan pada Presdir. Terima kasih, ya," ucap Matt. "Ok," sahut James dengan lemah. Mereka menutup sambungan telepon masing-masing. "Sekarang apa yang harus aku lakukan?" Matt termenung dengan pandangan kosong ke arah taman di luar kantornya. Dia tahu apabila datang menemui Ravindra dengan tangan kosong, bisa-bisa dia mendapatkan omelan sepanjang jalan kenangan. Lima belas menit berlalu, akhirnya setelah menimbang, menatap, meraba dan menerawang melalui aplikasi pencarian. Matt menemukan sebuah ide. "Aha, I have an idea!" seru Matt dengan ekspresi wajah cerahnya. Satu jam kemudian. Bel di depan apartemen alias kamar royal suite milik Ravindra berbunyi. "Presdir, ini aku, Matt!" seru Sekertaris Ravindra itu melalui kamera intercom yang terpasang di depan pintu apartemen Ravindra. Matt tahu Bosnya sedang berada di apartemennya jadi demi menjaga kesopanan dia tidak bisa langsung masuk, kecuali saat keadaan darurat dan Ravindra tidak ada di apartemennya, seperti kasus pemberian obat herbal semalam. "Masuklah!" titah Ravi. "Ok!" Matt menekan kata sandi dan apartemen itu terbuka, terlihat Ravindra sedang duduk melamun di sofa dengan tatapan kosong ke arah aquarium besar yang menempel pada dinding. "Selamat pagi menuju siang, Presdir," sapa Matt. "Hm, aku harap kamu membawa kabar baik tentang kesayanganku itu ... terus terang sejak dia menghilang, aku hanya mampu mandi tanpa busa dan belum sarapan. Lihatlah, aku hanya bisa menghabiskan sepiring nasi goreng, menyedihkan, bukan," sahut Ravindra dengan wajah sendunya. 'Heh? Seriously? Sepiring nasi goreng disebut hanya!' Matt merasa ingin menampar pipi Ravindra bolak-balik dengan bantal kursi yang ada di sana, karena merasa jengah dengan sikap lebay Bosnya itu, tetapi sekali lagi tentu saja itu hanya khayalan Matt saja karena nyali sekretarisnya Ravindra itu secetek buih di lautan. Matt juga tahu kalau Bos-nya belum makan sereal plus s**u atau kentang tumbuk dan steak, itu artinya Ravindra merasa masih belum makan. Walaupun dia mungkin makan nasi tiga piring dengan sate, bakso semangkuk, atau mie ayam satu gerobak. "Em, sebenarnya seseorang sudah menyabotase CCTV di hotel kita, Presdir! Jadi, dengan berat hati dan penyesalan terdalam, saya menyatakan belum menemukan kesayangan Anda itu, tetapi sebagai seorang sekertaris yang baik hati dan tidak sombong. Saya sudah membawa pelipur lara untuk Anda," jelas Matt. "Apa maksudmu, Matt? Dia tidak tergantikan!" seru Ravindra. "Aku tahu Presdir, ini hanya pengganti sementara. Ayo man-teman tolong bawa masuk!" Matt bersikukuh, dia yakin Presdirnya akan memujinya karena sudah mengganti ayam Ravindra yang entah seperti apa dengan ayam kualitas nomor satu. Satu persatu pelayan hotel membawa Ayam hias ke dalam apartemen Ravindra. Jumlahnya ada dua belas ekor dengan jenis yang berbeda. Setelah para pelayan pergi. Ravindra langsung mempertanyakan tingkah absurd sekretarisnya itu yang membawa ayam hias bukannya Ayang Euis-nya. "Apa-apaan ini Matt!" Ravindra sangat terkejut melihat kumpulan ayam hias yang memasuki apartemennya. "Ini semua ayam hias yang bisa saya temukan, yang hitam itu ayam cemani, karena semuanya serba hitam, konon darahnya juga hitam, wow, sekali, kan, Presdir? Kemudian ayam kedua itu namanya ayam kapas karena bulunya seperti kapas. Ayam ketiga adalah ayam pelung asli dengan ciri kakinya yang hitam, ayam ini bisa berkokok sangat indah dan panjang, sepanjang jalan kenangan kita berdua, Presdir, hehe ...." Matt terkekeh. "Matt, apa maksudmu membawa ayam-ayam itu?" Ravindra kebingungan. "Tunggu sebentar, Presdir, saya jelaskan dulu, yang keempat adalah ayam batik, karena motifnya yang seperti batik dan berhubung Anda suka pasta, jadi saya membawa ayam batik putih yang berasal dari Italia," jelas Matt. "Hah?" Ravindra semakin bingung dengan maksud sekretarisnya membawa ayam-ayam hias itu, tetapi saat akan protes, Matt kembali bercuap-cuap tanpa henti. "Ayam kelima adalah ayam pollad yang aslinya dari Belanda, ciri khasnya adalah mahkota gondrongnya itu, Presdir. Mengingatkan Anda pada seseorang, kan? Hehe ...." Matt mencoba menggoda Ravindra, tetapi yang diajak bercanda wajahnya sangat suram. Matt tidak perduli dan melanjutkan acara karpet merah untuk para ayam hiasnya. "Ayam keenam adalah ayam onagadori, coba tebak asalnya dari mana?" Matt kembali mengajak Ravindra bercanda tetapi Bosnya itu hanya terdiam. Ravindra menunggu waktu yang tepat untuk mementung kepala sekertaris bodohnya itu. "Ayam ketujuh adalah Ayam Phoenix, masih sepupu jauh dari ayam onagadori, cantik, kan bulunya? Ayam kedelapan adalah Ayam Serama dari Malaysia, dengan badan imut-imut yang pasti akan membuat Anda gemas. Ayam kesembilan adalah ayam kalkun, kita bisa memeliharanya untuk acara Thanksgiving nanti, Presdir, pasti lezat, hehe ...!" Matt terkekeh, Ravi melipat tangannya dengan sorot mata setajam pisau belati. 'Tatapan Presdir sangat menakutkan,' pikir Matt. Belum sempat memperkenalkan tiga ayam lagi yang merupakan ayam ketawa, ayam Brahma dan ayam mutiara. Sebuah bantal kursi melayang ke arah wajah Matt dengan akurat. "Ouch! Sakit, Presdir! Saya tahu penderitaan Anda saat kehilangan Ayam His kesayangan Anda itu, makanya saya membawa ayam pengganti terbaik yang sudah saya seleksi dengan ketat dan semuanya memiliki sertifikat kejuaraan tingkat nasional," jelas Matt, dengan mata berapi-api, berharap mendapatkan pujian. "Matt, apa Kamu sudah gila! Bagaimana bisa kamu membiarkan ayam-ayam kotor ini masuk ke dalam apartemenku, hah! Dan apa itu ayam His? Siapa yang kehilangan ayam?" Ravindra langsung menyembur sekretarisnya dengan omelan yang menghujam kedua ginjal Matt. "Bukankah tadi pagi Anda bilang kehilangan Ayam His?" Kali ini Matt yang terlihat kebingungan dengan amarah yang ditunjukkan oleh Ravindra. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN