akhirnya sampai juga
Marcha dan Deven langsung di sambut oleh pengurus panti dan orang PMI
Deven langsung membantu anggota PMI sementara Marcha berbicara dengan pengurus panti tentang fasilitas, keadaan dan kegiatan panti
Marcha bahkan berkenalan dengan beberapa orang tua yang tinggal di panti itu
Marcha pikir anak-anak mereka yang durhaka yang menitipkan orang tua mereka di panti
tapi ternyata orang tua itu sendiri yang ingin tinggal di panti dan tidak ingin merepotkan anak nya
Marcha melihat hampir semua orang tua itu tampak bahagia
tak lama kemudian semua orang penting datang mulai dari gubernur jawa barat sampai walikota Bogor dan Marcha sibuk ngobrol dengan mereka karena ada wartawan juga
Marcha sampai tidak memperhatikan dimana Deven
sampai...
"Cha" panggil Deven dengan wajah pucat "pinjem kunci mobil lo"
"kenapa Dev?" tanya Marcha bingung
"cepet Cha" kata Deven mengulurkan tangan nya
Marcha memberikan kunci nya ke Deven dan Deven langsung berlarian ke tempat parkir
"ada apa Marcha?" tanya pak Edwin pengurus panti
"ehmmm... sebentar pak, saya tan..."
sebelum Marcha menyelesaikan kalimatnya
Marcha melihat Deven berlarian sambil membawa kotak besar ke arah panti
Marcha yang melihat wajah pucat dan panik Deven
mengikuti Deven
di dalam panti itu semua orang memanggil nama "bu Vivi, bu Vivi..."
Marcha melihat seorang wanita tua terbaring di tempat tidur
Deven duduk di samping nya sembari mengeluarkan semua alat medis
"suster, suster... tolong pegang tangan nya, beri infus" kata Deven dengan nada cepat lalu Deven memberi instruksi kepada suster yang ada disana
Deven seperti memacu jantung wanita tua itu
"Dev" panggil Marcha
"please... nafas, nafas" gumam Deven dengan keringat yang berjatuhan di pelipis dahi nya
Marcha melihat wanita itu sepertinya sudah tidak tertolong
Deven mengeluarkan suntikan dari dalam tas nya lalu mengeluarkan botol berisi cairan
ia mengisi suntikan itu dengan cairan
menatap suntikan itu selama beberapa detik lalu ia menoleh ke arah wanita tua itu lalu menyuntik wanita itu
dan... wanita itu kembali bernafas
semua orang yang berada di sekitar mereka bertepuk tangan
ada yang menepuk-nepuk pundak Deven sementara Marcha melihat Deven menghela nafas nya tampak luar biasa lega
dan Marcha melihat senyuman itu
senyuman yang membuat wajah Deven terlihat luar biasa tampan
"sudah tidak ada apa-apa" kata Deven lembut masih mempertahankan senyuman nya
"bu Vivi tertolong?" tanya salah satu penghuni panti jompo
Deven mengangguk "tenang saja, dia tidak berada dalam masalah lagi" kata Deven "tapi dia harus cukup istirahat dan minum obat, saya akan resepkan obatnya"
"dokter kasih resep obat tapi kalau tidak ada uang untuk beli sama saja dok" kata suster yang sedang membetulkan bantal ibu yang terbaring itu
"tidak ada asuransi?" tanya Marcha bingung
"asuransi kesehatan tidak ada, hanya asuransi jiwa saja" kata Edwin (pengurus panti) "itu yang diberikan anak nya kepada saya"
"ya sudah, saya sumbang nanti obat untuk bu Vivi pak" kata Deven
"Dev" mata Marcha melebar kaget
"nyawa manusia itu penting Cha apalagi untuk umur seusia ibu ini memang rawan" kata Deven "harus ada obat, butuh obat"
"tapi kita gak bisa ngasih obat" kata Marcha bergumam di telinga Deven
"gue ngasih pribadi bukan atas nama rumah sakit" kata Deven
"tapi..."
"gak apa, bu Vivi ini orang tua nya temen gue" kata Deven
"temen lo ngirim orang tua nya ke panti jompo?" tanya Marcha kaget
"gue gak menghakimi dia" kata Deven singkat
Marcha langsung terdiam sementara Deven melanjutkan melakukan pemeriksaan kepada semua orang tua disana
Deven memeriksa siapa saja orang tua ini yang boleh menyumbangkan darah dan siapa yang berhak mendapatkan tambahan darah
Deven melakukan pekerjaannya dengan sangat baik
gubernur jawa barat dan walikota Bogor sangat berterimakasih pada Marcha dan Deven
mereka mengijinkan Marcha membuka cabang rumah sakit di kota Bogor
acara itu dilanjutkan dengan makan bersama dan bermain game
setelah selesai acara itu
Marcha dan Deven sudah bersiap untuk pulang
tapi...
"langit nya gelap banget Dev" komentar Marcha
"ya... Bogor khan memang sering hujan Cha" kata Deven
"apa gak bahaya?" tanya Marcha
Deven menghentikan aktivitas nya membereskan barang-barang nya lalu ia menatap langit diluar mengikuti Marcha
"ya, nanti gue nyetir nya pelan-pelan" kata Deven nyengir "lo tenang aja"
Marcha diam saja...
ia benci hujan apalagi kalau ada suara petir
tapi hujan kali ini apakah hujan yang akan Marcha benci?