1001 blood donation

684 Kata
akhirnya sampai juga Marcha dan Deven langsung di sambut oleh pengurus panti dan orang PMI Deven langsung membantu anggota PMI sementara Marcha berbicara dengan pengurus panti tentang fasilitas, keadaan dan kegiatan panti Marcha bahkan berkenalan dengan beberapa orang tua yang tinggal di panti itu Marcha pikir anak-anak mereka yang durhaka yang menitipkan orang tua mereka di panti tapi ternyata orang tua itu sendiri yang ingin tinggal di panti dan tidak ingin merepotkan anak nya Marcha melihat hampir semua orang tua itu tampak bahagia tak lama kemudian semua orang penting datang mulai dari gubernur jawa barat sampai walikota Bogor dan Marcha sibuk ngobrol dengan mereka karena ada wartawan juga Marcha sampai tidak memperhatikan dimana Deven sampai... "Cha" panggil Deven dengan wajah pucat "pinjem kunci mobil lo" "kenapa Dev?" tanya Marcha bingung "cepet Cha" kata Deven mengulurkan tangan nya Marcha memberikan kunci nya ke Deven dan Deven langsung berlarian ke tempat parkir "ada apa Marcha?" tanya pak Edwin pengurus panti "ehmmm... sebentar pak, saya tan..." sebelum Marcha menyelesaikan kalimatnya Marcha melihat Deven berlarian sambil membawa kotak besar ke arah panti Marcha yang melihat wajah pucat dan panik Deven mengikuti Deven di dalam panti itu semua orang memanggil nama "bu Vivi, bu Vivi..." Marcha melihat seorang wanita tua terbaring di tempat tidur Deven duduk di samping nya sembari mengeluarkan semua alat medis "suster, suster... tolong pegang tangan nya, beri infus" kata Deven dengan nada cepat lalu Deven memberi instruksi kepada suster yang ada disana Deven seperti memacu jantung wanita tua itu "Dev" panggil Marcha "please... nafas, nafas" gumam Deven dengan keringat yang berjatuhan di pelipis dahi nya Marcha melihat wanita itu sepertinya sudah tidak tertolong Deven mengeluarkan suntikan dari dalam tas nya lalu mengeluarkan botol berisi cairan ia mengisi suntikan itu dengan cairan menatap suntikan itu selama beberapa detik lalu ia menoleh ke arah wanita tua itu lalu menyuntik wanita itu dan... wanita itu kembali bernafas semua orang yang berada di sekitar mereka bertepuk tangan ada yang menepuk-nepuk pundak Deven sementara Marcha melihat Deven menghela nafas nya tampak luar biasa lega dan Marcha melihat senyuman itu senyuman yang membuat wajah Deven terlihat luar biasa tampan "sudah tidak ada apa-apa" kata Deven lembut masih mempertahankan senyuman nya "bu Vivi tertolong?" tanya salah satu penghuni panti jompo Deven mengangguk "tenang saja, dia tidak berada dalam masalah lagi" kata Deven "tapi dia harus cukup istirahat dan minum obat, saya akan resepkan obatnya" "dokter kasih resep obat tapi kalau tidak ada uang untuk beli sama saja dok" kata suster yang sedang membetulkan bantal ibu yang terbaring itu "tidak ada asuransi?" tanya Marcha bingung "asuransi kesehatan tidak ada, hanya asuransi jiwa saja" kata Edwin (pengurus panti) "itu yang diberikan anak nya kepada saya" "ya sudah, saya sumbang nanti obat untuk bu Vivi pak" kata Deven "Dev" mata Marcha melebar kaget "nyawa manusia itu penting Cha apalagi untuk umur seusia ibu ini memang rawan" kata Deven "harus ada obat, butuh obat" "tapi kita gak bisa ngasih obat" kata Marcha bergumam di telinga Deven "gue ngasih pribadi bukan atas nama rumah sakit" kata Deven "tapi..." "gak apa, bu Vivi ini orang tua nya temen gue" kata Deven "temen lo ngirim orang tua nya ke panti jompo?" tanya Marcha kaget "gue gak menghakimi dia" kata Deven singkat Marcha langsung terdiam sementara Deven melanjutkan melakukan pemeriksaan kepada semua orang tua disana Deven memeriksa siapa saja orang tua ini yang boleh menyumbangkan darah dan siapa yang berhak mendapatkan tambahan darah Deven melakukan pekerjaannya dengan sangat baik gubernur jawa barat dan walikota Bogor sangat berterimakasih pada Marcha dan Deven mereka mengijinkan Marcha membuka cabang rumah sakit di kota Bogor acara itu dilanjutkan dengan makan bersama dan bermain game setelah selesai acara itu Marcha dan Deven sudah bersiap untuk pulang tapi... "langit nya gelap banget Dev" komentar Marcha "ya... Bogor khan memang sering hujan Cha" kata Deven "apa gak bahaya?" tanya Marcha Deven menghentikan aktivitas nya membereskan barang-barang nya lalu ia menatap langit diluar mengikuti Marcha "ya, nanti gue nyetir nya pelan-pelan" kata Deven nyengir "lo tenang aja" Marcha diam saja... ia benci hujan apalagi kalau ada suara petir tapi hujan kali ini apakah hujan yang akan Marcha benci?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN