hujan nya deras sekali
mirip sama hujan badai
Melihat itu Marcha gak mau pulang dulu
ia benci hujan apalagi kalau hujan itu ada suara petir nya
Marcha berdiri di sudut ruangan, melipat kedua tangan nya di depan d**a dan bersandar dekat tiang menatap ke arah hujan
"eh Cha, kita gak pulang?" tanya Deven sembari memberi Marcha gelas plastik isi kopi hangat
"nanti aja ya Dev kalau udah reda" kata Marcha sembari menyesap kopi nya
Deven menatap ke arah langit yang menggelap
"lo punya trauma sama hujan?" tanya Deven
"gue gak suka suara petir" kata Marcha
"it's just a sound" kata Deven
"scary sound" kata Marcha
"sebenernya Ingvar banyak banget cerita tentang elo dan gue paham kenapa lo gak mau gue berkendara waktu hujan" kata Deven
Marcha diam saja
"lo harus bisa mengatasi ketakutan itu Cha" kata Deven
"isn't that easy Dev" kata Marcha
"pak Deven, bu Marcha... udah sudah malam, kalau tidak keberatan kalian bisa tidur disini malam ini" kata pak Edwin
"apa gak merepotkan pak?" tanya Marcha
"sama sekali tidak tapi kamar kita cuman ada 1 saja" kata pak Edwin "jadi..."
"saya bisa tidur di ruang tamu pak" kata Deven
"saya jadi gak enak pak Deven, anda sudah membantu banyak sekali hari ini" kata pak Edwin
"dokter membantu orang itu memang sudah kewajiban pak Edwin, santai saja" kata Deven
"terima kasih pak Deven, bu Marcha mau ke kamar dulu?" tanya pak Edwin
"boleh, kamar nya dimana?" tanya Marcha
"biar saya suruh suster Irene yang anterin bu" kata pak Edwin "nanti saya suruh dia kesini"
"iya pak, terima kasih banyak" kata Marcha
"saya yang seharusnya berterimakasih" kata pak Edwin "nah kalau begitu saya permisi dulu ya pak Deven-bu Marcha"
Deven dan Marcha mengangguk lalu pak Edwin pun pergi
"lo kalau mau tidur sama gue di kamar sebenernya gak apa Dev, ini juga bukan pertama kali nya kita tidur bareng khan" kata Marcha
Deven tersenyum "gue gak pingin melebihi batas lagi" kata Deven
"pikiran lo kemana?, tidur doang Dev" kata Marcha dengan wajah memerah
Deven tertawa "sopan santun Cha" kata Deven
"ya udah terserah elo dah" kata Marcha
tak lama kemudian suster Irene datang dan ia mengantar Marcha ke kamar baru.
setelah mandi dan bersih-bersih
Marcha berbaring di tempat tidur
hari ini capek sekali tapi bagaimanapun Marcha mau memejamkan mata
ia tetap tidak bisa tidur
di luar masih hujan dan suara petir masih bergemuruh
Deven
cowok itu apa bisa tidur ya?, pikir Marcha bingung
harus nya bisa
tapi ia pasti kedinginan, angin nya khan kencang sekali diluar
Marcha menghela nafas nya
memukul bantal nya sampai ke bentuk yang membuat ia nyaman untuk tidur
tapi tetap saja Marcha tidak bisa tidur
mungkin karena ini tempat baru dan dia memang tidak biasa tidur cepat di tempat baru
Marcha menyerah
ia butuh minum
Marcha membuka selimutnya dan keluar dari kamar
diluar suasana sudah gelap gulita dan Marcha mencari Deven
"Dev" panggil Marcha
gak ada suara
"Dev..." panggil Marcha lebih kencang lagi
Marcha berjalan takut ke arah sofa yang seharusnya ada Deven tapi Deven gak ada
"hei Cha"
Marcha hampir berteriak karena kaget kalau bukan Deven membalik tubuh nya dan langsung mencium mulutnya
Kemudian Marcha memeluk nya erat
dan Marcha juga balas mencium Deven
Deven melepaskan ciuman nya dan menarik nafas nya dalam-dalam
Marcha masih dalam pelukannya yang kokoh
"apa itu tadi?" tanya Marcha memegang bibir nya
"sorry, gue tadi dari dapur buat minum terus... gue lihat elo dan karena gue tau lo mau teriak jadi..." kata Deven
"lo bisa nutup mulut gue aja, Dev" kata Marcha "gak perlu sampai kiss"
"I can't help it, you're so tempting me" kata Deven menatap wajah Marcha berbinar-binar
Marcha tersenyum lalu ia berkata "gue gak bisa tidur" kata Marcha
"gue bisa bantuin lo biar tidur" kata Deven
"bantuin" tantang Marcha
Deven langsung mencumbu bibir Marcha dengan penuh gairah
semua nya seperti terbang
Marcha seperti tidak menyentuh tanah apalagi ketika Deven membelai lengan nya
tiba-tiba
"ini... apa ini salah?" tanya Deven bernafas dengan irama cepat
"maksudnya?" tanya Marcha
"adik lo... Ingvar nyuruh gue gak nyentuh lo lagi tapi sekarang" kata Deven
Marcha melepaskan pelukan Deven "mungkin ini salah kalau lo bilang ini salah" kata Marcha kesal
Marcha sudah akan berjalan balik ke arah kamar tapi lengan nya dicengkeram Deven
"kalau ini salah... gue rela jatuh dalam kesalahan itu asal bisa sama lo" kata Deven kembali mencumbu Marcha
Marcha membalasnya dan Deven menggiring nya ke dalam kamar
mereka menghabiskan malam yang sangat hangat dan intim
Marcha berharap kalau saja waktu bisa berhenti di saat ini.