Deven memeluk Marcha dalam diam
malam yang dingin itu tertutup oleh hangatnya tubuh Marcha dalam dekapannya
dan Marcha tidur dengan sangat nyenyak
sedangkan Deven
dia tidak bisa tidur
banyak sekali hal yang bermunculan di pikiran nya hanya karena ia memeluk Marcha seperti ini
apa yang sedang ia lakukan?
ia tadi di dapur
minum s**u hangat karena ia tidak bisa tidur
lalu ketika ia mau kembali ke ruang tamu
ia melihat Marcha berdiri disana
rambutnya yang panjang itu tergerai
wajah cantiknya yang lebih dari indah itu terlihat hanya dari remang cahaya
Deven tak sanggup menahan diri nya untuk sekedar memeluk nya
yaaaa...
hasrat nya muncul begitu saja dan semua terjadi begitu saja
harum tubuh Marcha ini membuat diri nya lupa diri
sekarang apa yang harus ia lakukan?
bagaimana dengan Ingvar?
Deven sebenarnya tidak ingin terlibat hubungan asmara atau intim dengan rekan sepekerjaan nya apalagi boss nya
tapi apa daya dia tidak sanggup menolak daya tarik Marcha
ia hanya tidak tau bagaimana menghadapi hari esok
hanya itu
Marcha bergerak pelan di pelukan Deven dan memeluk Deven lebih erat
Deven balas memeluknya seraya berusaha memejamkan mata nya.
esok pagi nya
Deven keluar duluan dari kamar Marcha
tidur di sofa seperti seharusnya
setelah bangun dari tidur nya
Marcha yang bertemu dengan Deven tampak biasa saja seperti tidak terjadi apapun kemarin malam
dan siang nya setelah cuaca terlihat cerah dan bersinar
Marcha dan Deven pulang ke Jakarta
di dalam mobil
di perjalanan menuju Jakarta
"tentang kemarin malam, kita jangan bahas ya Dev kalau sudah di Jakarta" kata Marcha "gue gak mau ada gossip di kantor dan lo bermasalah sama Ingvar atau bokap-nyokap gue"
Deven diam saja tidak berkata apapun
dia memikirkan hubungan nya dengan Marcha sampai tidak bisa tidur nyenyak
dan Marcha berkata seperti ini
seperti sebelumnya
dan entah mengapa Deven merasa hanya dimanfaatkan saja
"Dev" panggil Marcha
"jadi kemarin malem itu gak berarti apa-apa ya?" tanya Deven "gue cuman gigolo?"
"lo ngomong apa sih?, gue gak bilang gitu... gue cuman gak mau ada masalah di kerjaan dan..." kata Marcha
"okay, ya udah kalau lo mau gitu" kata Deven "lo boss nya"
Marcha mengerutkan keningnya "kita ini rekan kerja, lo juga sahabatnya adik gue..."
"gue udah bilang as you said, case closed" kata Deven dingin "boleh kita gak bahas masalah ini lagi?"
Marcha terdiam
dan sepanjang perjalanan itu mereka sama-sama terdiam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing
sampai akhirnya mereka sampai di rumah sakit
Deven keluar dari mobil Marcha tidak berkata apapun
bahkan ketika Ingvar sudah menunggu mereka dan bermaksud menyapa mereka
Deven tau Ingvar ingin memperbaiki persahabatan mereka
tapi Deven sudah kehilangan mood nya untuk sekedar tersenyum dengan Ingvar
"Dev, ada operasi pasien UGD tadi ada kecelakaan terus" kata Ingvar
"gue urus sekarang" kata Deven berjalan ke arah ruang UGD setengah berlari.
beberapa jam kemudian operasi nya selesai
Deven bersandar di kursi di kantor nya
terdengar ketukan pintu
"masuk" kata Deven
Ingvar yang masuk
"sibuk gak Dev?" tanya Ingvar
"gak, gue capek Var" jawab Deven
Ingvar terkekeh pelan "lo pulang aja gak apa, biar shift ini... gue yang gantiin" kata Ingvar "besok juga lo off aja gak apa Dev"
"yakin?" tanya Deven
"iya, kak Marcha yang nyuruh katanya lo pasti capek banget habis kunjungan kerja langsung operasi" kata Ingvar
Deven menarik nafasnya dengan perasaan dongkol "okay, gue pulang sekarang kalau gitu" kata Deven
"eh Dev, gue minta maaf masalah kemaren... gue gak bermaksud mukul elo apalagi tadi kak Marcha cerita lo jagain dia selama di Bogor" kata Ingvar "gue jadi gak enak"
Deven diam saja tidak berkata-kata
"Dev" panggil Ingvar
"ya, gue udah gak ada masalah tentang hal itu" kata Deven "tapi... lo bener, sebaiknya gue gak deket sama kakak lo"
"maksud lo?" tanya Ingvar
"gue gak mau nanti ada masalah sama elo" kata Deven
"ehmmm kalau misal lo mau deket sama kakak gue atau kalian sampai ada hubungan atau jadian juga, gue gak masalah kok Dev" kata Ingvar
alis Deven terangkat bingung "kenapa?" tanya Deven
"Aza ingetin gue kalau lo temen baik gue dan gue mestinya lebih percaya sama lo bisa jagain kakak gue daripada cowok yang lain yg mungkin dikenal sama kakak gue" kata Ingvar "jadi... ya gue malu sih malah gak percaya sama lo kemaren"
"gue udah gak tertarik buat bisa deket atau punya hubungan sama kakak lo sih, Var" kata Deven dingin "rekan kerja aja cukup"
Ingvar agak kaget dengar pernyataan sinis dari Deven
tapi Ingvar tidak berkata-kata dan Deven keluar dari kantor nya
meninggalkan Ingvar sendirian memikirkan apa yang baru saja Deven katakan.
Deven terlalu kesal untuk memikirkan hubungan nya dengan Marcha apalagi lanjutan nya nanti dengan Ingvar.