perubahan sikap Deven sangat dramatis
atau kalau yang dirasa Marcha agak sedikit keterlaluan
Deven tidak pernah lagi bicara dengannya kalau bukan masalah kerjaan
Deven juga gak pernah benar-benar menatap wajah Marcha ketika berbicara dengan Marcha
Marcha berharap sikap Deven gak seperti ini
Mereka masih bisa berteman seperti Deven berteman dengan dokter wanita dan suster wanita disini
dan suatu malam ketika Marcha dan Ingvar sedang makan malam
"Var, Deven kenapa udah lama gak main ke rumah ya?" tanya mommy
"ehmmm..." Ingvar terdiam sejenak sembari melirik ke arah Marcha
"sibuk?" tanya daddy "rumah sakit nya rame banget?"
"gak juga sih dad" kata Ingvar "Deven kayak nya sibuk sama urusan pribadinya"
"oh, dia udah punya pacar?" tanya mommy
Marcha entah kenapa jadi kesal dan tidak sengaja membanting sendok garpu nya di piring
Daddy dan mommy nya tampaknya tidak menyadari
tapi Ingvar menyadarinya
Ingvar sempat melirik sebentar ke arah Marcha
"gak punya dad" kata Ingvar "Deven gak punya pacar tapi dia sibuk pindah apartemen"
"oh dia pindah, pindah kemana?" tanya Deven
"Deket sama tempat kerja jadi dia kalau ke rumah sakit gak naik mobil tapi jalan kaki" kata Ingvar "dia bilang lebih praktis karena kalau ada yang gawat, dia bisa langsung datang dan jam istirahat nya lebih lama"
kedua orang tua Marcha mengangguk
"lain kali ajak ke rumah Var" kata daddy "daddy mesti kontrol kesehatan khan"
"ya dad, nanti Ingvar bilang ke Deven" kata Ingvar
"oh ya Cha, mommy udah aturin Marcha buat blind date nanti sabtu" kata mommy
"blind date?" ulang Marcha kaget
"iya, anak om Derry itu delevoper perumahan di kota xxxxxxxxx" kata mommy "udah anak nya ganteng, pinter lagi"
"mom, Marcha bisa cari pacar sendiri" kata Marcha
"Marcha sibuk terus khan sama urusan kerjaan, mommy tau gak ada waktu kencan" kata mommy
"ya tapi gak blind date juga mom" kata Marcha
"kalau Marcha bisa bawa cowok ke rumah untuk serius dijadikan suami, mommy gak akan atur blind date" kata mommy
"mom..." Marcha hanya menggelengkan kepalanya
selesai makan...
Marcha sudah akan balik ke kamar tidurnya
tapi Ingvar menghalangi nya
"kak Marcha suka sama Deven ya?" tanya Ingvar langsung
"eng-enggak" kata Marcha "kenapa lo ngomong gitu?"
"kak Marcha gak mau ikut blind date yang diatur mommy" kata Ingvar
"iya, gue gak mau karena gue ngerasa bisa ngatur sendiri masalah pribadi gue tapi bukan berarti gue suka sama Deven" kata Marcha
"terus tadi gue lihat kak Marcha marah kita ngebahas pacar nya Deven" kata Ingvar
"gue gak marah, gue cuman gak suka aja ngebahas hal-hal gak penting waktu kita makan malam" kata Marcha "apalagi ngebahas karyawan"
"Deven itu bukan karyawan biasa kak" kata Ingvar "kalau kakak suka, gue gak masalah tapi kalau enggak... kakak memang butuh pendamping dan mommy atur blind date bukan hal yang salah khan?"
"iya gak ada salah nya memang ngikutin mau mommy, gak masalah juga gue kenal sama cowok lain" kata Marcha "dan asal lo tau gue gak suka sama Deven, gue gak tertarik sama karyawan sendiri meskipun itu bukan karyawan biasa"
Ingvar mengangguk "jadi kak Marcha ikut blind date mommy?" tanya Ingvar
"ya, gue ikut blind date nya" kata Marcha
"okay" kata Ingvar mengangguk
Marcha kemudian berjalan cepat ke arah kamar nya
di dalam kamar nya ia langsung merebahkan dirinya di tempat duduk
dan mulai berpikir
blind date... memang bukan hal buruk
tapi selama beberapa waktu ini sejak dari Bogor itu
Marcha tidak bisa melupakan Deven
tidak bisa
semua nya tentang lelaki itu
wajahnya
senyumannya
sentuhannya
semuanya...
Marcha bisa gila kalau begini terus
ia tidak ingin terlibat cinta lokasi seperti yang terjadi padanya dulu dengan sang mantan
terasa menyakitkan apalagi gossip nya
apalagi dia tidak akan tinggal di Indonesia pada akhirnya
apa yang bisa Marcha harapkan?
nothing
Marcha menghela nafas nya sembari berusaha mengalihkan pikirannya ke hal yang lain selain Deven
pekerjaan misalnya
dia butuh icon untuk rumah sakit nya
bagian dari marketing
mendongkrak popularitas rumah sakit ini penting sekali
dia harus memikirkan orang yang tepat
rapat besok, dia bisa bertanya dan meminta pendapat
lalu Marcha berganti baju, bersih-bersih dan tidur
ia berusaha untuk tidur meskipun bahkan dalam mimpi nya pun Deven selalu muncul.
esok pagi nya
di rapat
"ehmmm pak Deven mana ya?" tanya Marcha bingung
"pak Deven lagi ada operasi khusus bu jadi tidak bisa ikut rapat"
"ooohhh" kata Marcha sedikit kesal "ya udah, kita mulai rapat nya... sekarang kita bahas pemasaran rumah sakit ini, saya mau rumah sakit ini lebih terkenal dan kita butuh icon untuk mempresentasikan rumah sakit ini"
"icon?, semacam brand ambassador gitu?" tanya Ingvar
"ya, apakah kalian ada saran?, selebriti, model, YouTubers yang lagi terkenal dan naik daun" kata Marcha
"ehmmm banyak sih tapi apa kita gak pakai yang juga tidak ada gossip?" tanya salah seorang karyawan
"justru yang banyak gossip nya yang bisa di notice sama orang" kata karyawan yang lain "yang paling banyak sensasi nya"
"ya sensasi boleh tapi jangan yang narkoba dan semacamnya" kata Marcha
"Anneth gimana?, dia lagi dibicarakan banyak orang karena mau nikah sama Betrand" kata karyawan yang lain
"jangan Anneth" kata Ingvar langsung "dia mantan nya Deven, kalau..."
"profesional doang pak Ingvar" potong Marcha "kita gak ngomongin masalah pribadi, teruskan... kalau Anneth, apa prestasi nya?, dan kenapa?"
kemudian rapat berjalan meskipun nama Anneth menjadi voting paling banyak untuk jadi icon rumah sakit.