"Dev"
"Dev"
"Dev"
"Deven"
"apa???" teriak Deven bener-bener kesel banget
ia kira yang manggil itu Anneth
karena beberapa hari ini yang selalu manggil dia itu Anneth
karena Anneth sudah mulai sering ke rumah sakit untuk bekerja
tapi...
Ternyata yang manggil Marcha
"ada apa lo teriak-teriak?" tanya Marcha
"sorry, gue pikir lo Anneth" kata Deven
"emang sama Anneth ngomongnya harus teriak juga?" tanya Marcha
"ya, gue kesel aja sama dia gangguin gue melulu" kata Deven
Marcha mengangguk "dia udah pulang, dia gak akan kerja selama seminggu ke depan karena ada kerjaan lain keluar kota" kata Marcha
Deven nyengir senang
"iya, bokap gue bulan depan mau ke Amerika ada acara sama pak Bowen Lee, lo ikut nanti sama gue juga" kata Marcha
"lo ikut juga?" tanya Deven
"iya, gue ada perlu bisnis di Amrik juga" kata Marcha
Deven mengangguk
"ya udah kalau gitu, gue balik ke kantor gue dulu" kata Marcha tersenyum samar
Marcha sudah akan berjalan melewati Deven
dan sebenernya Deven gak mau terlihat terlalu perhatian sama Marcha
tapi wajah Marcha memang tidak ada warna nya
kelihatan kalau wanita ini sedang sakit atau semacam itu
jadi
"tunggu Cha" kata Deven "wajah lo kenapa pucat banget?"
Marcha tersenyum samar "ya, gue memang agak gak enak badan Dev tapi gue gak apa-apa kok" kata Marcha
"lo mau gue anterin ke dokter, lo bukan pucat biasa aja loh" kata Deven
"gue gak apa-apa kok" kata Marcha keras kepala
"ya udah kalau gitu, kalau lo ada apa-apa" kata Deven "lo bisa ngomong ke gue atau langsung ke klinik, apa guna nya punya rumah sakit kalau dewan direkturnya sakit aja, staff dokternya gak ada yang tau"
Marcha tersenyum mengangguk "iya, gue ta..." kata Marcha yang tiba-tiba saja terhuyung-huyung
Deven langsung berlari dan menangkap tubuh Marcha
"eh Cha, Cha..." panggil Deven
tapi mata Marcha masih terpejam dan tidak merespon apapun.
tak lama kemudian di UGD
Deven duduk di samping Marcha seraya memegang tangan nya
Deven menghela nafasnya tampak cemas menatap ke arah Marcha yang tampak masih pucat
Deven sudah tau kenapa Marcha pingsan
ia bingung apakah harus memberitahu keluarga Marcha atau tidak
bahkan Marcha sendiri apakah sudah tau atau tidak
Deven juga tidak tau
lalu
Deven merasa tangan nya digerakkan
Deven mendongak dan melihat ke arah Marcha
mata Marcha terbuka dan ia menoleh sembari mengedipkan mata nya beberapa kali ke arah Deven
"gue dimana?" tanya Marcha bingung
"lo lagi di UGD" jawab Deven "tadi lo pingsan"
Marcha menarik nafas nya dalam-dalam lalu ia menggerakkan tubuhnya untuk duduk
"lo jangan banyak gerak dulu Cha" kata Deven membantu Marcha "lo butuh istirahat"
"gue gak apa-apa Dev, gue paling kecapekan doang" kata Marcha
"lo yakin cuma kecapekan?" tanya Deven
"ya, gue banyak pikiran beberapa hari ini" kata Marcha
"kepikiran apa?, kerjaan?" tanya Deven
Marcha melirik sebentar ke arah Deven lalu berkata "menurut lo kalau bukan kerjaan terus apa?"
"sesuatu yang harusnya lo omongin ke gue tapi gak lo omongin" kata Deven
Marcha sudah akan beranjak pergi tapi tangannya ditahan oleh Deven
"sakit Dev" kata Marcha
"lo gak boleh gerak-gerak dulu, demi anak kita berdua" kata Deven
"apa maksud lo anak?, gue..." kata Marcha
"lo lagi hamil Cha" kata Deven "gue tau itu anak gue"
Marcha menghela nafasnya "gue mau gugurin ini anak" kata Marcha
"kenapa?" tanya Deven kaget
"gue gak yakin lo mau tanggung jawab sama anak ini" kata Marcha
"apa lo bilang?" tanya Deven
"kita itu cuman seneng-seneng Dev trus anak ini kecelakaan" kata Marcha "gue gak berharap apapun sama lo apalagi bokap-nyokap gue gak bakalan setuju, mereka bakalan marah"
"gue gak tau maksud lo bilang gak berharap apapun ama gue itu apa" kata Deven "tapi gue jelas akan tanggung jawab apalagi itu anak gue di dalam perut lo"
"bokap-nyokap gue..." kata Marcha
"suka gak suka gue mesti ngomong sama mereka, itu anak gue" kata Deven marah "lo gak bisa mutusin sendiri kalau yang ada di perut lo itu hasil dari apa yang kita kerjakan berdua"
"ya ampun, lo ngomong nya gak perlu keras-keras" kata Marcha "kalau sampai ada yang denger..."
"dokter disini ada yang tau waktu periksa lo tadi" kata Deven
"dia..." kata Marcha
"udah gue kasih tau buat gak bilang siapa-siapa, udah gue kasih duit tutup mulut" kata Deven
Marcha menghela nafas nya terlihat lega tapi Deven butuh kejelasan
"kapan lo ajak gue ketemu bokap-nyokap lo?" tanya Deven
"Dev, sudahlah... bokap-nyokap gue gak akan setuju" kata Marcha
"setidaknya mereka harus tau lo hamil" kata Deven "mau mereka setuju kita menikah atau tidak, mereka harus tau lo hamil"
"Dev... nikah" kata Marcha terdengar putus asa