Keheningan menyergap. Semilir angin menyapa, mengibarkan tirai beledu di ranjang mereka. Tatapan mereka masih terkunci satu sama lain. Hingga keduanya tak menyadari berapa lama waktu yang mereka habiskan untuk saling menatap satu sama lain. Terdiam, faktanya kini Ri Han sibuk dengan benaknya yang berputar. Bibir tipisnya terkunci, tak mampu menjawab satu keinginan Thea. Apa yang harus ia katakan? Ia tidak bisa menolak dan tidak bisa mengiakan begitu saja. Ri Han masih terikat oleh takdir kejam yang bisa melumatnya kapan saja. Memiliki seorang anak bukanlah tujuan utamanya. Justru itulah hal yang paling ia hindari. Belum masalah ancaman Arthur dan juga masa depannya yang tak menentu. Bagaimana bisa ia menyeret darah dagingnya dalam jurang kehancuran? Ia bukan tipe suami dan ayah yang idea

