Darah Thea serasa membeku. Mungkin jika ia dicubit atau dipukul pun, tidak akan ada rasa sakit sama sekali. Rasa takut sudah menelannya. Tubuh mungilnya mematung di samping Ri Han. Dalam hati ia berdoa, agar suaminya tidak murka. Tapi sentakan lengan Ri Han yang melepaskan pelukannya menghancurkan harapan Thea. Tatapan tajam sang suami benar-benar membuat dadanya tercincang. Ri Han marah. Itu sudah pasti.
“Urus masalahmu terlebih dahulu, Thea,” desis Ri Han seraya berbalik, kembali masuk ke apartemen.
“Ri Han!”
Thea berusaha menghentikan Ri Han, tapi tangan sang pria asing terlebih dahulu mencengkeram tangannya.
“Althea!”
“Lepaskan aku!” jerit Thea seraya menyentakkan tangan, melepaskan cengkeraman sang pria. “Tolong pergilah dari sini. Jangan ganggu aku dan suamiku. Kita tidak mempunyai hubungan apa pun lagi, Sun Ho.”
“Aku tidak peduli!” Sun Ho mencengkeram erat lengan Thea. Pria itu bahkan tidak menggubris raut kesakitan di wajah pujaan hatinya.
“Aku tidak peduli jika kau sudah menikah sekali pun! Hanya kau yang aku cintai Thea ... hanya kau seorang.”
Thea tahu. Ia sangat tahu betapa besar cinta dan kasih sayang Sun Ho padanya. Pria itu mencintainya dengan tulus. Thea menyadarinya. Tapi cinta Sun Ho membuatnya takut. Cinta Sun Ho padanya ... sudah terlalu berlebihan.
Sun Ho sendiri tahu, ia terlalu mencintai Thea. Perasaanya sama persis seperti perasaan Thea pada Ri Han. Hanya saja, ia terlalu berani bertindak di luar akal sehat. Pria itu tidak peduli jika ia harus mengotori tangan sendiri untuk merebut gadis yang ia cinta. Karena ia mencintai Thea. karena hatinya hanya untuk Thea. Karena hanya dia yang pantas memiliki Thea. Hanya dia yang seharusnya memiliki Thea!
“Aku mencintai Ri Han,” ucap Thea dengan manik berkaca-kaca. “Sekarang, besok, besoknya, minggu depan, bulan depan, tahun depan, abad depan, selamanya ... hanya Ri Han seorang yang aku cintai.”
Bibirnya tidak berbohong. Hatinya bergetar saat ia mengucap nama Ri Han. Tubuhnya memanas saat ia bersentuhan dengan Ri Han. Dadanya berdebar, saat pria itu menatapnya. Thea merasa kesepian walau hanya sehari tidak melihat pria yang ia cinta. Saat sang suami ada di dekatnya, ia merasa sangat nyaman dan terlindungi. Perasaan Thea saat bersama Ri Han sangat berbeda dengan perasaannya saat bersama Sun Ho.
“Kau berjanji akan menikahiku, Thea,” bisik Sun Ho. “Jauh ... jauh sebelum kau bertemu pria itu, kau berjanji padaku!”
Seharusnya dirinya yang memiliki Thea.
Seharusnya dirinya yang mendekap Thea.
Seharusnya ia yang berada di samping Thea.
Bukan pria itu. Bukan pria laknat itu!
“Pria itu merebutmu dariku!”
“Sun Ho, kita memiliki kehidupan masing-masing. Aku sudah melupakan semuanya, kau pasti juga bisa melupakan semua kenangan itu. Kau pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dariku, kau pantas berbaha—”
“Tidak!” potong Sun Ho. “Hanya denganmu aku bahagia. Hanya denganmu Thea....”
Thea melebarkan mata saat Sun Ho menangkup pipinya mendekatkan wajah. Sedikit lagi, maka bibirnya akan ternoda. Beruntung, ia berhasil melepaskan diri dan menampar sang mantan sekeras mungkin. Untuk pertama kalinya, pria itu menerima tatapan penuh kebencian dari gadis yang ia cinta.
“Hentikan semua kegilaanmu, Sun Ho! Sadarlah! Aku sudah menikah! Aku tidak mau mengkhianati suamiku!” pekikan Thea berubah menjadi isakan pedih. “Aku mohon biarkan aku hidup damai dengan Ri Han.”
Mengapa? Mengapa pria itu yang mendapat kehormatan untuk menerima cinta Thea? Walau pria itu sama sekali tidak mencintai Thea ... tapi mengapa? Air mata turun di pipi Sun Ho. Tangan kokoh pria itu masih menangkup pipinya yang memerah.
“Dia sama sekali tidak mencintaimu.”
Tatapan Ri Han pada Thea bukanlah tatapan kasih seorang pria yang mencintai wanita. Tatapan pria itu sama seperti tatapan boneka. Tidak berekspresi. Tidak mempunyai perasaan. Sama sekali tidak mempunyai emosi. Lalu mengapa? Mengapa pria macam itu yang dipilih Thea?
“Dialah yang akan menghancurkanmu, bukan aku. Dia ... bukan laki-laki yang pantas dicintai,” ujar Sun Ho.
“Aku tidak peduli,” sangkal Thea. “Karena aku mencintainya. Karena dia adalah suamiku. Aku akan tetap berada di sisinya. Walau dunia ini runtuh sekali pun.”
Sun Ho menipiskan bibir, menatap iba pada Thea. “Suatu saat kau akan menyesalinya, Thea.”
Melenggang pergi, pria itu menyempatkan diri melirik Thea sebelum melangkah lebih jauh. Namun, yang bisa ia lihat hanya kristal bening yang mengguyur pipi wanita yang ia cintai. Ia yakin, Thea tahu semua itu. Tapi mengapa wanita itu masih tetap bertahan?
Sebuah percikan membakar d**a Sun Ho. Manik lembut yang semula menatap Thea, berubah menjadi begitu kejam. Mengutuk satu nama yang mengobarkan dendam.
An Ri Han.
Satu nama yang membuat dadanya memanas. Satu nama yang selalu membuat bulir bening dari mata Thea meluap. Sun Ho tidak akan mengampuninya. Tidak akan!
“Aku akan menghancurkanmu!”
***
Melangkah cepat, Ri Han membanting tubuh kokohnya di sofa. Suasana hatinya benar-benar runtuh kali ini. Menatap langit-langit, namun yang ada hanya kehampaan.
Mengapa ia merasa kesal?
Ri Han heran. Seharusnya apa pun yang istrinya lakukan, sama sekali tidak mempengaruhi dirinya. Tapi mengapa saat pria itu menatap Thea ... tangannya serasa ingin melayangkan tinju pada pria itu. Ia sama sekali tidak menyukai tatapan pria itu pada Thea. Mencengkeram erat d**a, rasa sesak menjalar di sana.
Dering ponsel Ri Han menginterupsi renungan. Meraih ponsel di saku, pria itu menatap layar ponsel yang menampakkan nama "Hyun Soo" dengan jelas.
“Ada apa?”
“Sunbae-nim, ini tentang rekaman CCTV yang kau kirim. Aku sudah menemukan semua informasi tentang pria itu,” ujar Hyun Soo.
“Hmm, lanjutkan.”
“Pria itu bernama Kwang Sun Ho. Dia satu universitas dengan istrimu. Mereka pernah menjalin hubungan beberapa tahun, namun akhirnya kandas. Sepertinya istrimu yang memutuskan hubungan mereka terlebih dahulu, melihat dari kondisi Kwang Sun Ho yang masih kacau sampai sekarang. Kau bisa cek di twitternya untuk keterangan lebih lanjut.”
“Tidak perlu, aku ingin kau mengirimkan detailnya padaku saja,” ujar Ri Han seraya kembali menyandarkan tubuh di sofa.
“Baiklah, Sunbae-nim.” Seketika, Hyun Soo memutuskan panggilan.
Ternyata kecurigaan Ri Han selama ini benar. Thea dan pria itu pernah menjalin hubungan dalam jangka waktu yang cukup lama. Tidak mungkin jika keduanya melupakan semua kenangan saat mereka bersama. Dan faktanya, Sun Ho masih memiliki rasa terhadap Thea.
Lalu, bagaimana dengan Thea?
Walau terlihat sangat dingin dan tidak peduli, tapi Ri Han adalah orang yang paling memikirkan cara agar masalah rumah tangganya cepat teratasi. Ia harus segera memastikan perasaan Thea pada Sun Ho. Satu e-mail masuk dari Hyun Soo diterima. Ri Han segera menggeser layar dan melihat apa yang Hyun Soo dapat tentang Thea dan pria bernama Kwang Sun Ho.
Lengkap, sesuai dugaan. Bahkan foto saat sejoli itu masih bersama pun ada. Hyun Soo memang bisa diandalkan. Sayangnya, semua itu memang tidak gratis, terbukti dari kata penutup Hyun Soo yang membuatnya langsung mendecih kesal.
Senior, jangan lupa transfer separuh gajimu bulan ini ke rekeningku~
With love, Hyun Soo
“Dasar mata duitan,” cibir Ri Han.
Sedikit yang Ri Han tahu, setengah gajinya sama dengan satu kali gaji Hyun Soo. Tentu saja, Hyun Soo menerima dengan senang hati tawaran pekerjaan tambahan dari Ri Han.
Beralih, pria itu segera menyimpan semua dokumen yang ia dapatkan. Alamat rumah, alamat kantor, alamat rumah orang tua, alamat rumah saudara, semuanya tidak ada yang terlewat. Dengan begitu, jika mantan pacar istrinya itu berani macam-macam dengannya, Ri Han bisa mendatangi pria itu dan berbicara empat mata. Sayang sekali, ia tidak boleh menggunakan kekerasan di luar area pekerjaan. Jika diperbolehkan, mungkin sekarang kepala Sun Ho sudah berlubang. Untuk sementara, Ri Han bisa bernapas lega.
Beberapa kali Ri Han mendengar jeritan Thea, tapi pria itu masih diam di tempat. Sekali ini saja, ia akan membiarkan sang istri berbicara langsung dengan sang mantan pacar. Hingga beberapa saat kemudian, sosok mungil datang dengan mata yang sembab. Ri Han masih berpura-pura memainkan ponsel, seakan tidak peduli dengan istrinya.
“Ri Han....”
Diabaikan.
“Tolong, dengarkan penjelaskanku...”
Kata-kata mainstream di sebuah drama, juga diabaikan.
Sampai Thea berlutut di depan Ri Han, barulah pria itu meletakkan ponsel.
“Apa yang kau lakukan?”
“Meminta ... maaf.” Hanya itu yang bisa Thea katakan. Karena selanjutnya, isakan Thea mencekik semua kata-kata yang ingin ia ucap.
“Ma-maafkan aku!”
Berbagai macam pikiran negatif bergentayang di benak Thea. Ia takut. Sangat takut hingga ia tak mampu berbuat apa-apa. Hari-hari indahnya hancur seketika hanya karena satu orang pria.
“Angkat kepalamu, Thea.”
Suara Ri Han mampu menyadarkan Thea. Ia mendongak, dan yang ia dapati adalah secangkir cokelat panas. Karena terlalu fokus terisak, Thea sampai tidak tahu kapan sang suami beranjak dari hadapannya.
“Ambil, dan minumlah,” ujar Ri Han seraya menyesap kopi yang ada di tangan satunya. “Ini tidak beracun, jangan khawatir.”
Menggigit bibir, Thea hanya bisa menahan isakan dan menerima secangkir cokelat panas yang Ri Han buat. Pria berambut kelam itu masih memperlakukannya seolah tidak terjadi apa pun diantara mereka. Saat maniknya bertemu dengan manik kelam sang suami, pria itu menepuk tempat kosong di sebelahnya. Mengisyaratkan Thea untuk bergabung. Sekali lagi, ia hanya bisa menurut.
“Langsung saja, Thea,” ujar Ri Han seraya meletakkan cangkir di atas meja. “Aku tidak mau berbasa-basi lagi. Jawablah dengan jujur dan singkat, aku tidak akan marah.”
Waktu penghakiman. Thea mencengkeram erat cangkir yang ia pegang. Jantungnya berdegup kencang. Dalam hati ia berdoa agar sang suami mengampuninya.
“Siapa yang akan kau pilih? Aku? Atau pria itu?” Ri Han mengatakannya dengan tenang. Tapi semua itu lebih dari cukup untuk mengguncang d**a Thea.
Thea mencintai Ri Han. Ia sangat mencintai Ri Han. Tidak ada jawaban lain kecuali Ri Han.
“Aku memilihmu,” jawab Thea. Air mata pun menetes di pipinya yang masih memerah. “Yang aku cintai hanya dirimu. Tidak ada yang lain!”
Mendengar jawaban sang istri, bibirnya pun menipis. Entah mengapa, ia tidak bisa mempercayai kata-kata Thea begitu saja.
“Kau boleh mengatakan yang sejujurnya, Thea,” bisik Ri Han. “Empat tahun bersama, apa kau benar-benar tidak mempunyai rasa lagi dengan pria itu? Sedangkan umur pernikahan kita hanya empat bulan. Kau ... bahkan belum mengenalku....”
Ri Han mengalihkan pandangannya. Rasa sesak di dadanya semakin erat. Mengapa? Mengapa perasaan itu semakin menekannya?
“Jika kau memilih pria itu, aku akan merelakan—”
Sebelum Ri Han menyelesaikan kata-katanya, Thea terlebih dahulu menghambur sampai pria itu jatuh di sofa. Mengabaikan fakta bahwa kenyataannya sang suami tercinta telah mengupas tuntas tentang dirinya dan juga Sun Ho di masa silam.
Rengkuhan Thea begitu erat dan hangat. Ri Han tidak mengatakan apa pun. Pria itu masih memakukan pandangan di langit-langit. Sampai sang istri menangkup pipinya dan menatap dengan air mata yang meluap, barulah pria itu sadar.
“Lihat aku, Ri Han,” setetes air mata Thea, jatuh di wajah Ri Han.
”Apakah mata ini pernah menatap pria lain selain dirimu?”
Ri Han menyadarinya....
“Apakah di mata ini ada cinta kasih yang terbagi?”
Ia menganggap Thea—
“Aku hanya ingin menghabiskan sisa hidupku denganmu. Hanya dirimu yang aku cintai, bukan yang lain. Hanya dirimu suamiku. Hanya namamu yang terukir di hati ini, Ri Han. Hanya dirimu. Kau adalah duniaku....”
—sebagai harta yang paling berharga dalam hidupnya.
Tangan kokoh mendekap erat Thea. Bibir pria itu menyapu pucuk rambut yang tergerai diantara mereka. Aroma yang sangat ia sukai, masih tetap sama seperti pertama kali bertemu. Di sisi lain, Thea pun tersenyum haru. Tangan mungilnya balas merengkuh Ri Han. Menyandarkan kepala, menikmati irama detak jantung yang membuatnya tenang.
“Maafkan aku, karena aku meragukanmu.”
Thea menggeleng, “Ini salahku. Seharusnya dulu, aku lebih tegas pada Sun Ho agar kejadian seperti ini tidak terjadi.”
Bangkit, tatapan mereka pun bertemu. Jemari kokoh melayang dan hinggap di pipi sang istri, membersihkan sisa air mata di sana. Thea sendiri tersenyum malu-malu. Saat jemari Ri Han menjauh, tangannya segera melarang. Tidak rela jika jemari itu beranjak dari pipinya.
“Aku ingin selalu menggenggam erat tanganmu,” ujar Thea seraya membawa jemari Ri Han kembali ke pipinya. Bibir tipisnya menyunggingkan senyuman.
Ri Han baru menyadari, senyuman Thea terlihat lebih indah dari kilau cahaya mentari. Perasaan baru, menyeruak di d**a. Hangat. Kali ini hanya hangat yang menenangkan jiwa.
“Aku....” Ri Han tidak mengerti, apa yang harus ia ucap. “Aku ingin....”
Ri Han tidak pernah memikirkan semua itu sebelumnya. Ia bukanlah pria yang pandai mengungkapkan perasaan dengan untaian kata. Tapi kali ini, semua kata itu terlontar begitu saja dari bibirnya.
“Aku ingin ... selalu melindungimu.”
Hanya melindungi, bukan mencintai.
Manik bulat Thea terpaku pada Ri Han. Hingga akhirnya wanita itu menundukkan kepala dengan pipi yang memerah. Sampai pada akhirnya, ia kembali mendekap pria yang ia cinta.
“Terima kasih,” ujar Thea sembari menenggelamkan wajah di d**a Ri Han.
Semua itu cukup untuknya. Memeluk Ri Han, mendekap tangan Ri Han, mengungkapkan perasaannya pada Ri Han, semua itu lebih dari cukup bagi Thea. Ia bahkan mengabaikan perasaan sang suami yang sama sekali tak bertaut dengannya. Karena bagi Thea, hanya Ri Han yang ada di dunianya.
“Untuk hari ini saja,” ujar Thea seraya mendongak, menatap manik kelam Ri Han. “Bisakah aku memelukmu sepuasku?”
Tangan Ri Han merayap ke belakang kepala Thea, kembali menenggelamkannya dalam pelukan. Pria itu tidak menolak. Malah sebaliknya, ia menginginkan hal yang sama. Ia hanya ingin melihat senyum Thea.
“Tentu,” jawab Ri Han. “Karena aku tidak mau kau memeluk pria lain, selain diriku.”
Dan saat itulah awal mula seorang pembunuh berdarah dingin, menjadi manusia seutuhnya.