Chapter 8

2761 Kata
Tubuh mungil Thea membeku. Ri Han bisa merasakan tangan sang istri yang mencengkeran erat bahunya. Namun, ia tidak berniat membatalkan pembicaraan. Pria itu menyadari, di antara keduanya memang terjadi sesuatu. Istrinya dan pria asing itu pasti memiliki hubungan khusus. Firasatnya tidak pernah meleset. "Aku melihatmu berciuman dengannya," desis Ri Han. "Jujur. Aku marah. Sangat marah." Menarik napas, bibirnya menipis. Mencoba mengendalikan api yang kini mulai melahap d**a. Walau ia menikah dengan Thea bukan karena cinta, tapi jika kejadian perselingkuhan sang istri memang benar adanya, semua itu bisa memberikan tamparan yang begitu keras untuk Ri Han. Marah, tentu. Pria itu tidak akan membiarkan kehidupannya bersama sang istri diusik oleh pihak ke tiga. Jika semua itu terjadi, akibat yang akan ia terima bukan hanya masalah sepele yang bisa dituntaskan dengan jentikan jari. Bisa jadi, nyawanya pun akan berada di ujung tanduk. Di sisi lain, tubuh Thea menegang. Pertanyaan sang suami bagaikan sambaran petir di siang bolong. Matanya kini memanas. Dadanya bergemuruh. Tubuhnya bergetar, menahan rasa takut yang kian menguar. Thea sama sekali tidak menyangka, sang suami mengetahui semuanya sejak awal. Ia tidak bermaksud untuk berbohong dan menutupi semua itu, ia hanya ingin menenangkan diri sebelum ia menghadapi Ri Han. Namun, jika pria itu sudah mengetahui dari awal, ia tidak akan bisa menghindar lagi. Thea bahkan tidak berani memikirkan kemungkinan yang akan terjadi. Jujur, ia takut. Sangat takut. Ia tidak akan sanggup mendengar sebuah kata perpisahan dari bibir suaminya. "Ka-kau ... melihat—" "Semuanya," potong Ri Han, kesal. "Apa kau berbuat seperti itu karena aku tidak memenuhi seleramu? Atau karena kau memang mencintai pria lain? Kalau kau memang tidak ingin menjadi istriku, katakan saja terus terang. Aku akan melepasmu. Jangan mencoba menikamku dari belakang." Thea bersumpah, itu kata-kata terpanjang dan terhoror yang pernah Ri Han berikan untuknya. Air matanya tidak terbendung lagi, isakkannya pun terdengar. Tanpa Thea sadari, tangannya telah merengkuh erat pria yang ia cinta. Bibirnya tidak mampu menjawab kata-kata suaminya. Ia tidak bisa menjelaskan semua itu. Tapi satu yang pasti, Thea tidak mau kehilangan cintanya. Disisi lain, Ri Han tidak menolak rengkuhan istrinya. Namun, Pria itu masih berusaha mengendalikan emosi. Berusaha untuk tidak mengambil pisau atau pistol untuk melampiaskan amarahnya. "Aku mencintaimu, Ri Han. Aku ... aku tidak memiliki hubungan apa pun dengan pria itu!" Thea terisak di bahu Ri Han. "Aku mohon, percayalah padaku...." Helaan napas terdengar. Tangan Ri Han melepas pelukan Thea. Saat pria itu menoleh, tatapannya terfokus pada wajah elok sang istri yang dibanjiri air mata. Manik yang biasanya memancarkan keceriaan, kini terlihat penuh kepedihan. Walau sulit untuk mengakuinya, tapi Ri Han tahu semua itu bukanlah sebuah ekspresi yang dibuat-buat. Sayangnya, amarah yang berkobar di hati, akan sangat sulit untuk dipadamkan. "Aku hanya mencintaimu, Ri Han," lirih Thea. "Hanya dirimu. Tolong percayalah padaku...." Haruskah Ri Han percaya? Ia memang marah, tapi sisi lain hatinya berteriak untuk mempercayai semua kata-kata Thea dan mempercayai manik sendu yang berusaha untuk membuatnya percaya. Terdiam, pria itu membeku untuk sesaat. Hingga akhirnya hati dan pikiran Ri Han menyimpulkan sebuah keputusan. Perlahan, jemarinya menyeka air mata yang jatuh di pipi sang istri. Tidak ada kata-kata. Sesaat kemudian, bibir mereka telah bertautan. Sudah berapa lama Ri Han tidak merasakan sensasi memabukkan? Saat ia kembali menyetuh Thea, seolah ia mendapatkan kembali kepingan yang hilang dari hidupnya: sebuah kehangatan. Namun tetap saja, amarahnya masih membara. Mengabaikan emosi di d**a, Ri Han tahu melampiaskan semua amarah bukanlah hal yang tepat untuk sekarang. Jikalau apa yang dikatakan istrinya bukanlah sebuah kebenaran, ia bisa menyingkirkan Thea maupun pria yang telah menginjak harga dirinya. Sekarang, ia hanya akan memberikan sebuah gertakan kecil yang mungkin cukup untuk membuat istrinya menyadari satu hal. Bahwa ia hanyalah milik seorang An Ri Han. Mengabaikan semua yang ada di kepala, kini manik mereka saling menatap. Selimut tebal membungkus kedua sejoli yang kini memadu kasih. Tangan mereka bertaut. Dan saat keduanya bersatu, setetes air mata mengalir dari pucuk manik Thea yang terpejam. "Bisakah kau memegang janjimu?" desis Ri Han. Anggukan dalam diam menjawab pertanyaan Ri Han. Thea tidak bisa menjawab. Ia sibuk dengan sensasi panas yang menjalar di seluruh tubuhnya. Kebahagiaan, kepedihan, kerinduan, semuanya bercampur menjadi satu Apakah Ri Han akan memaafkannya? Apakah Ri Han masih marah padanya? Semua pertanyaan yang tak terjawab memenuhi benak Thea. Menyesak dan hampir merobek kewarasannya. Di tengah-tengah pergulatan mereka, Thea membuka mata. Menatap Ri Han yang juga menatapnya. Walau sang suami memang sangat dingin padanya, tapi Thea tidak bisa membenci dan berpaling dari Ri Han. Ia telah memberikan seluruh hatinya, seluruh hidupnya pada Ri Han. Semua itu tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam. "Ri-Ri Han ... aku mencintaimu...." Karena hanya pria itu yang mampu menerimanya. Karena hanya pria itu yang ia punya. Karena hanya pria itu, yang mampu membuat hatinya berguncang. Bisikkannya menyela diantara kedua napas yang beradu. Ri Han masih menatap datar, tapi rahangnya kini mengeras. Cengkeraman Ri Han semakin erat. Sesaat sebelum mereka berdua mencapai surga dunia, tangan kokohnya merengkuh Thea. Namun, bibir tipisnya membisikkan sebuah kata yang begitu tajam. "Kau akan tahu akibatnya jika kau mengingkari janjimu," geram Ri Han. Bagi Ri Han, kata-kata manis Thea tidak ada artinya. Yang ia butuhkan bukan kata-kata ataupun janji yang menggebu, ia membutuhkan bukti yang nyata. Thea tidak mampu mencerna kata-kata suaminya. Benaknya tidak bisa memikirkan apa pun. Yang tersisa hanya sensasi panas di sekujur tubuh. Hingga akhirnya wanita itu hanya mampu terpejam dan menitikkan air mata sebelum kegelapan menyergap. Aku sangat ... sangat mencintaimu. Sayangnya, jeritan hati Thea tidak akan mampu menembus benteng kokoh Ri Han. Pria itu, masih saja membuat dinding es abadi yang sulit dihancurkan. Manik tajam Ri Han masih terfokus pada Thea. Menatap wajah polos yang dibanjiri air mata. Sejenak, ia menghela napas. Tubuhnya kini penuh dengan keringat. Rasa lelahnya pun bertambah hingga tiga kali lipat. Beranjak, pria itu pun menyambar baju tidur dan ponselnya. Duduk di sisi ranjang sembari memijat pangkal hidung. Segera, ia menghubungi satu-satunya orang yang ia percaya. "Hyun Soo, bisakah aku meminta bantuanmu?" Masih ada keraguan yang pekat di dalam benaknya. Bertanya pada Thea tidak akan membantu apa-apa. Ia akan menyelidikinya sendiri. Dan untuk sementara, ia akan berdamai dengan Thea. *** Maniknya menatap langit-langit kamar. Ia harus melakukan tugas rutin di pagi hari. Tapi rasa ngilu dan perih masih tersisa di sekujur tubuh. Thea hanya bisa terbaring lemah di atas ranjang, dengan selimut tebal yang melindungi tubuh polosnya. Semalam Ri Han benar-benar marah. Cara pria itu menyentuhnya, tidak ada kelembutan sama sekali. Namun Thea paham mengapa sang suami bisa berbuat seperti itu. Semua itu memang salahnya. Perlahan, Thea bangkit dan duduk bersandar di kepala ranjang. Maniknya menatap sayu ke depan. Rasa takut kembali menyergap, ia takut jika Ri Han membencinya. Ia takut ... jika Ri Han meninggalkannya. Setetes bening air mata tumpah. Thea menangkup wajah dan mulai terisak. Ia tidak ingin rumah tangganya hancur. Hanya Ri Han yang ia punya. Ke mana ia harus pulang jika suaminya juga memalingkan wajah darinya? Aku mohon.... Ia tidak mau. Jangan tinggalkan aku.... Ia tidak menginginkan semua itu. Jangan.... "Thea...." Saat Thea tersadar, Ri Han sudah ada di depannya. Cepat-cepat ia menghapus air mata dan tersenyum walau faktanya, hatinya masih porak-poranda. "Kau tidak perlu menyembunyikan air mata itu." Tapi Ri Han tahu. Pria itu tahu, walau Thea tidak mengatakannya sekali pun. Senyuman lembut berakhir dengan lelehan air mata di pipi. Wanita itu kembali terisak. Ia merasa bodoh. Ri Han, kau adalah hartaku satu-satunya. Aku mencintaimu ... tolong jangan buang aku.... Tapi semua kata-kata itu tercekik oleh isakan Thea. Ia hanya bisa menenggelamkan wajah di kedua telapak tangan. Menghindari tatapan tajam yang kini masih terfokus padanya. "Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu, kalau kau sudah puas menangis ... mandilah." Dan apa yang seharusnya Thea katakan menjadi sebuah gumaman lirih. Maafkan aku.... *** Kali ini, Thea memilih memakai baju yang lebih tertutup. Lebam dari pergulatan semalam masih sangat jelas. Sangat tidak pantas jika semua itu diperlihatkan walau pada Ri Han sekalipun. Matanya masih sembab, tapi isakannya telah mereda. Thea melangkah keluar kamar, dan pemandangan selanjutnya sukses membuat maniknya membulat seketika. Suaminya berdiri di dapur dan mencincang sayur dan daging. Jelas, itu adalah hal yang membuatnya sangat tidak nyaman. "Ri Han, kau tidak perlu—" "Apa?" potong Ri Han. Itu membuatnya merasa tidak berguna. Fakta bahwa Ri Han bisa melakukan apa pun tanpanya membuat Thea sangat frustrasi. Menipiskan bibir, ia merasa kecewa pada dirinya sendiri. "Maafkan aku. Karena terlambat bangun, kau jadi repot memasak." Thea menundukkan kepala, merasa bersalah. "Tidak masalah." Di sisi lain, Ri Han terlihat sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Baginya yang sejak dahulu hidup sendirian, memasak bukanlah hal spesial yang hanya dilakukan oleh seorang wanita. Namun, keahlian dasar untuk bertahan hidup. "Kotak hitam di meja itu untukmu," ujar Ri Han tanpa menoleh, masih sibuk dengan masakannya. "Aku lupa memberikannya semalam." Tatapan sayu teralih ke atas meja. Sebuah kotak hitam dengan pita merah segera menyita perhatian Thea. Tangan mungil itu pun meraih kotak pemberian sang suami tercinta. Berusaha untuk terlihat bahagia, tapi apa daya pikirannya yang kacau kini mengkhianatinya. "Kalau kau tidak suka, aku akan menggantiya dengan yang lain," ujar Ri Han, tanpa repot menoleh. “Katakan saja apa yang kau mau. Aku akan mendapatkannya untukmu.” Rasa penasaran yang menggelitik langsung menggerakkan tangan Thea untuk membuka kotak itu. Saat matanya melihat apa yang ada di dalam, alisnya langsung berkerut. "Pisau?" Sebuah pisau yang tampak tidak biasa dan masih terbungkus rapi. Sebenarnya Thea tidak mempermasalahkan benda apa yang Ri Han berikan. Baginya, semua pemberian Ri Han adalah harta yang harus dijaga. Namun, saat ia mengamati pisau itu lebih jeli, entah mengapa ada sebuah kebimbangan yang melintas dalam benaknya. Pisau itu terlihat berbeda dengan pisau pada umumnya. Bahkan sisi yang seharusnya tumpul dihias dengan gerigi tajam. Dengan ujung lancip dan terlalu banyak dekorasi yang berlebihan jika hanya untuk memotong sayur atau buah. Pisau yang begitu unik di mata Thea. Ia bahkan tak mengerti di golongan mana pisau itu berada. Pisau dapur? Pisau buah? Pisau daging? Atau malah bukan ketiganya? "Entah mengapa aku tertarik membelikanmu satu," ujar Ri Han seraya memperlihatkan pisau kesayangannya. Saat Thea mengamati pisau di tangan Ri Han, ia menyadari bahwa keduanya memiliki bentuk yang sama. Hanya saja, pisau Thea lebih kecil. "Harusnya hanya ada beberapa di dunia. Ini pisau khusus." Tentunya, yang memiliki pisau itu hanya maniak pertarungan atau kolektor pisau. Tapi Ri Han tidak akan memberitahu Thea yang sebenarnya. Akan sangat lucu jika pria itu membelikan pisau dapur atau pisau buah. Ia pun memutuskan untuk membeli barang yang jauh lebih berguna dan bagus di matanya. Tentu saja, ukuran berguna dan bagus Ri Han berbeda dengan Thea. Sayangnya, sang istri bukanlah Sylvester Stallone yang bisa menggunakan pisau dengan lihai. Pria itu bahkan tidak memikirkan jika pisau itu bisa saja memotong jemari sang istri. Di sisi lain, Thea sama sekali tidak merasakan kejanggalan dari sisi unik suaminya. Beberapa kali wanita itu mengerjap pelan. Walau terdengar aneh, tapi entah mengapa sekarang dadanya menghangat. Senyuman cerah pun mengembang. Pertikaian yang terjadi semalam pun terlupakan. "Terima kasih, aku akan menjaga pisau ini baik-baik," ucap Thea dengan pipi memerah. Sang suami sangat jarang membelikannya hadiah. Maka dari itu, mendapat satu atau dua buah hadiah dari Ri Han serasa seperti mendapat berkah dari Yang Maha Kuasa. Tak peduli apa pun barang itu, ia akan tetap menjaganya. Pemberian Ri Han adalah harta terindah. Bahkan jika benda itu berbahaya sekali pun. "Tapi, harus aku gunakan untuk apa pisau ini? Sepertinya ini bukan pisau dapur atau pisau daging...." Thea mengamati kembali pisau di tangannya. Ia baru tahu ada pisau sekeren itu. Jika Thea tahu fungsi sebenarnya dari pisau itu, mungkin ia akan langsung melemparnya jauh-jauh. Tentu, Ri Han tidak akan setega itu membeberkan fungsi utama pisau yang ada di tangan istrinya. Sayangnya, kadang mulutnya selalu berkhianat jika pikirannya sibuk memikirkan hal lainnya. "Pisau itu cukup tajam untuk menebas arteri karotis atau mungkin memotong tendon," ujar Ri Han, tanpa sadar. Tangannya sendiri masih sibuk mengaduk-aduk tteokkbokki di penggorengan. Tanpa disadari, ia mengatakan fungsi utama dari pisaunya sendiri. Thea hanya bisa terdiam dengan alis berkerut. Dan layaknya pria itu baru menyadari, mulutnya telah melebihi batas. Seketika, pria itu menoleh dan menatap Thea. Berharap sang istri tidak terlalu serius menanggapi ucapannya. "Maaf, aku hanya bercanda," ucap Ri Han, canggung. "Kau bisa menggunakannya untuk memotong apa pun yang kau mau. Sayur, buah, atau daging, semuanya bisa dipotong dengan pisau itu." Thea pun mengganti raut bingungnya dengan kekehan geli. Bersyukur, ia pikir Ri Han benar-benar bercanda. "Aku baru tahu Ri Han sangat suka pisau." Wanita yang peka tidak akan mungkin mengatakan semua itu sembari terkekeh. Bahkan sekali lirik pun seharusnya aura kelam Ri Han langsung bisa terdeteksi. Tapi Thea telah dibutakan oleh cinta, apa pun yang terlihat pada diri suaminya adalah sebuah kerlipan emas yang selalu ia puja. "Kau tahu lemari di ruang kerjaku?" Thea mengangguk. "Di sana adalah tumpukan koleksi pisauku," ucap Ri Han sembari memotong beberapa daun parsley untuk menghias masakannya. "Maka dari itu, aku melarangmu membukanya." Bibir Thea membentuk huruf "O" seraya mengangguk-angguk. Ia baru tahu, suaminya tercinta ternyata memiliki hobi yang unik. Dan entah mengapa ia sama sekali tidak menaruh curiga atau rasa takut. Tanpa disadari, mereka telah melupakan masalah semalam yang hampir menghebohkan rumah tangga mereka. Thea sendiri malah larut dengan obrolan hangatnya dengan suaminya tercinta. Sementara, Ri Han sibuk dengan masakannya. Untuk sementara, pria itu menganggap konflik orang ketiga rumah tangganya berakhir damai. Jika ia menemukan bukti kuat bahwa istrinya memang mengingkari kepercayaannya, maka ia akan langsung bertindak. "Makanlah. Khusus hari ini, biarkan aku yang mengurus dapur." Ri Han menyajikan makanan di meja. Mengambil gelas dan menuang air putih di sana. "Kau tidak kerja?" "Hari ini aku mengambil cuti." Keduanya kini duduk di meja makan. Keheningan menyelimuti saat keduanya menyantap sarapan. Hingga Thea selesai mengunyah suapan pertamanya, percakapan pun kembali dimulai. "Ini sangat enak," ucap Thea dengan manik berbinar. Tapi entah mengapa itu membuat dirinya semakin terlihat tidak berguna. "Aku terbiasa hidup sendiri. Bisa repot jika aku tidak bisa melakukan hal sekecil ini." Hal sekecil ini? Thea baru bisa memasak saat ia resmi menjadi istri Ri Han. Tentu, dengan berbulan-bulan belajar dan berkali-kali menghancurkan dapur. Mengingat hal itu saja Thea ingin mati rasanya. Entah apa yang Ri Han pikirkan tentangnya, tapi itu sangat memalukan baginya. Apalagi saat ia mengingat ekspresi sang suami saat pertama kali memakan masakannya. Ia sangat ingin bersujud meminta ampun. Berdeham canggung, Thea menundukkan kepala dengan raut bersalah. "Ri Han ... jika ... jika ada kekurangan pada diriku ... tolong tegur dan ajari aku, dengan begitu aku bisa memperbaiki diriku," bisik Thea sembari memainkan jemarinya. "Tapi kalau untuk yang semalam, aku berani bersumpah aku memang tidak melakukan—" "Aku sudah tahu," potong Ri Han. "Bisakah kita mengakhiri masalah yang semalam? Aku anggap semuanya sudah selesai." Mengangguk paham, Thea pun tersenyum. Dalam hati, ia bersyukur sang suami mau memaafkannya. "Apa hari ini kau mau pergi ke suatu tempat? Aku akan menemanimu." Tentu saja momen seperti ini jarang terjadi, dan Thea langsung melebarkan senyum. Seperti anak kecil yang diberi janji untuk bermain ke taman hiburan. Setidaknya, begitulah yang Ri Han lihat. "Benarkah??" Anggukan Ri Han membuat wanita itu semakim girang. "Kalau kau tidak lelah atau—" "Aku tidak lelah kok!" sahut Thea, penuh semangat. "Aku sangat sehat!" Ah, Thea melupakan nyeri dan perih yang masih melekat di tubuhnya. Apa pun itu, tidak akan ada yang bisa menghalangi kencannya dengan suaminya tercinta. Alis Ri Han bertaut. Padahal tadi pagi istrinya terlihat sangat pucat dan tidak bersemangat. Tapi sekarang terlihat begitu penuh energi. Sejujurnya, membuat Thea bahagia itu simpel. Hanya saja, pria itu terlalu malas untuk melakukannya. "Baiklah, kita akan berjalan-jalan hari ini." *** Baru saja Ri Han berniat membuka pintu kamar, Thea terlebih dahulu keluar. Dengan balutan mini dress hitam dan bolero putih, Thea melangkah anggun ke sisi Ri Han. "Sudah?" Anggukan semangat menjawab pertanyaannya. Walau begitu, Ri Han tetap saja tak menggubris pesona sang istri. Menatap datar, tanpa sepatah pujian. Thea pun tidak mempermasalahkan reaksi suaminya. Melangkah, ia menghambur dan memeluk lengan Ri Han. Tak peduli sedingin apa pun Ri Han, asal Thea bisa ada di samping pria itu ... ia sudah bahagia. Wanita itu selalu mendambakan momen saat ia berjalan bersama dengan pria yang ia cinta. Menikmati suasana kota, juga bercanda bersama. Semua itu sudah membuat Thea bahagia. Keduanya melenggang ke pintu apartemen. Tapi saat Ri Han membuka pintu, pemandangan yang ada di depan mereka membuat suasana bahagia berubah suram. Thea membeku, menatap sosok yang berdiri di depan pintu. Tubuhnya bergetar hebat, menahan rasa takut yang membuncah. Ia ... tidak mampu menatap Ri Han. Tapi sosok yang kini berdiri di depan pintu sama sekali tidak mengindahkan kegundahan Thea. Tersenyum, pria itu menatap tajam pada Ri Han. "Aku ada sedikit urusan dengan Althea Lee, bisa kau minggir sebentar?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN