Malam itu terasa sangat dingin dan sunyi. Ri Han pun menyadarinya. Perasaannya sangat berbeda dibanding saat ia berada di rumah bersama Thea. Setelah melihat adegan yang membuat ubun-ubunnya memanas, pria itu memilih mengurungkan niat untuk pulang.
Alasannya simpel; ia tidak ingin melampiaskan kemarahan pada Thea.
Sudah pasti, Thea berselingkuh dengan pria lain. Ri Han melihat dengan mata kepalanya sendiri dan ia merasa sangat kecewa. Namun, di sisi lain ia berpikir, mengapa ia harus kecewa? Pantaskah ia kecewa? Dibanding perasaan kecewanya sekarang, yang telah ia berikan pada Thea justru lebih menyakitkan. Perasaan itu tak seharusnya ada dalam dirinya. Ia tidak pantas merasakan hal itu.
"Jadi, mengapa kau malah ke kantor? Kau tidak pulang?"
Daniel yang masih bertahan di kantor, menjamu Ri Han dengan secangkir kopi. Pria itu mengamati keponakannya yang tampak lesu.
"Aku ... hanya ingin kemari," bisik Ri Han.
Saat melihat Ri Han menatap dengan manik sayu dan juga jemari yang menyusup di rambut, Daniel tahu keponakannya mempunyai masalah. Tapi walau semua terlihat jelas, Ri Han tak akan mau mengatakan yang sejujurnya. Menyesap rokok, Daniel melihat langit kelam dari balik kaca jendela. Ia tidak mempunyai niat untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, karena ia tahu Ri Han akan mengatakan semuanya jika pria itu sudah buntu. Pelarian Ri Han hanya satu: dirinya.
Kepulan asap rokok perlahan memudar, Daniel masih membiarkan sang pria berambut kelam menangkup wajah dan duduk di kursi empuk. Sampai akhirnya Ri Han menyerah dan menyandarkan tubuhnya, menanggalkan dasi dan membuka dua kancing atas kemeja yang ia pakai. Walau malam itu sangat dingin, tapi entah mengapa dadanya terasa panas.
"Ada masalah?"
Anggukan pelan menjawab pertanyaan Daniel. Helaan napas pun terdengar. "Aku memergoki istriku berselingkuh."
Sang pria paruh baya menoleh dan menatap tak percaya. Althea Lee? Melakukan hal sehina itu? Senyum kecut pun mengembang. Daniel menggaruk pipinya yang sama sekali tidak terasa gatal.
"Kau sudah memastikannya?" Tanya Daniel.
Ri Han mengangguk. "Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri."
Kepulan asap rokok kembali terlihat. Tatapan Daniel masih terpaku pada Ri Han. Melihat keponakannya frustrasi adalah hal yang langka. Ia tidak menyangka Ri Han terlihat sangat kecewa saat mengetahui sisi gelap istrinya. Daniel pikir pria itu sama sekali tidak menganggap pernikahannya adalah hal yang serius. Tapi kali ini, anggapan itu sepertinya telah berubah.
"Apa kau ingin mempertahankannya?"
Ri Han menatap pamannya. Pria itu menipiskan bibir. Menyadari hal aneh yang menyusup dalam dirinya, pada hatinya. Bukankah ia tidak pernah menganggap keberadaan Thea? Lalu mengapa saat istrinya berpaling pada pria lain, dadanya merasa sangat panas? Bukankah jika Thea melepaskan diri dari genggaman tangannya, hidupnya akan semakin mudah? Tapi mengapa ia tidak rela jika semua itu terjadi?
"Apa aku harus mempertahankannya?" Ri Han bertanya balik.
Seketika, suara tawa Daniel menggelegar. Pria paruh baya itu malah membuat Ri Han semakin kebingungan. Apakah ia melontarkan pertanyaan yang salah?
"Dengar, Nak. Hanya kau yang bisa menjawab semua pertanyaan itu," jawab Daniel tepat setelah ia menghentikan tawa. "Tanyakan pada dirimu sendiri, apa yang kau inginkan?"
Pria paruh baya itu kembali melanjutkan, "Tanyakan pada dirimu sendiri, apa tujuanmu menikahi Althea Lee?"
Ri Han mencuramkan alis. Tujuannya menikahi Thea? Sejak awal ia sudah menjawab dari lubuk hatinya. Ia hanya ingin membuat penderitaan Thea berkurang. Hanya itu saja. Tapi mengapa semua keraguan muncul dalam hatinya? Seolah ... semua itu tidak cukup. Tangannya mengepal erat. Kini, ia pun mulai bertanya pada dirinya sendiri. Apa yang ia inginkan? Apa yang ia harapkan dari sang istri?
Daniel tersenyum dan menepuk bahu Ri Han. "Untuk sekali ini, pikirkanlah dirimu sendiri. Jangan pikirkan orang lain. Hanya dirimu sendiri. Lalu bertanyalah dengan tulus, apa yang sebenarnya kau inginkan dari Althea?"
Ia tahu, Ri Han bersikap dingin pada Thea hanya karena rantai yang membelenggu mereka. Ya, sang keponakan telah terikat dengan kegelapan dari takdirnya. Pria itu takut jika suatu saat Thea tertelan oleh kegelapan yang sama. Akhirnya, Ri Han memilih untuk menjaga jarak dari Thea. Tapi jika semua itu terus-menerus dibiarkan, keduanya akan hancur di masa depan.
Sangat mustahil bagi Ri Han untuk hidup layaknya pria biasa. Jalan mana pun yang ia ambil, di akhir nanti yang ada hanya pahitnya kehidupan. Jika ia memilih untuk hidup bersama Thea, maka hidup mereka berdua akan berakhir saat itu juga. Daniel tahu, sang dalang dari semua kekacauan tidak akan tinggal diam jika suatu saat Ri Han berkhianat.
Daniel ingin tahu sampai di mana batas Ri Han. Ia ingin tahu, apakah Ri Han mampu merebut kembali kebebasannya sebagai manusia dan meraih kebahagiaan? Ia hanya bertaruh pada dua jawaban. Ri Han berhasil dan hidup bahagia dengan sang istri, atau keduanya akan pergi ke neraka bersama-sama. Hanya waktu dan keputusan Ri Han yang menentukan.
Suara langkah kaki menyelinap diantara keheningan. Sang pria paruh baya menoleh, menatap punggung keponakannya yang semakin menjauh. Senyumnya pun terbentuk bersamaan dengan embusan asap rokok yang ia hisap. Layaknya Ri Han telah menentukan jawaban.
"Sedikit saran untukmu. Jika kau ingin mempertahankan Althea, kau harus menjadi suami yang baik untuknya," ujar sang paman.
Ri Han menghentikan langkah. "Terima kasih atas saranmu, Samchon."
Suara pintu yang ditutup mengawali keheningan. Kini hanya kepulan asap rokok yang menemani Daniel dalam kelamnya malam. Entah mengapa, pria itu teringat saat pertama kali bertemu dengan Ri Han. Panggilan yang selama ini hilang, kini kembali terdengar.
"Semoga beruntung, Nak."
***
Saat manik mereka bertemu, yang Ri Han rasakan hanya sebuah kekhawatiran yang tersirat dari tetes air mata istrinya. Entah mengapa, pikirannya malah sibuk mencerna berbagai macam kemungkinan. Sebuah rengkuhan hangat menyadarkannya. Tangan mungil Thea mendekap erat tubuhnya. Wajah istrinya tenggelam di d**a, terisak hingga tubuh mungil itu bergetar.
"Aku mengkhawatirkanmu!"
Bibirnya menipis. Mengkhawatirkan? Apakah b******u dengan pria asing juga bagian dari kekhawatiran sang istri?
"Aku kira terjadi sesuatu padamu," isak Thea. "Aku takut jika aku kehilangan dirimu!"
Pria berambut kelam itu mencoba untuk bersabar. Menarik napas, lalu membuangnya. Lagi dan lagi. Hingga ia bisa mengendalikan dirinya sendiri. Pikirannya harus jernih. Tanpa emosi atau aura kelam yang menguar. Ia tidak boleh mengambil kesimpulan begitu saja, walau matanya memang melihat kenyataan yang membuatnya terbakar seketika. Yang harus Ri Han lakukan sekarang hanya mencari tahu dan mengorek insformasi tentang semua kecurigaannya.
Jika Thea memang benar-benar berpaling darinya, maka yang pantas menjadi hadiah hanyalah cumbuan mesra dari pisau tercinta. Walau pria itu memang tidak menaruh hati pada Thea, tapi ia tidak suka jika apa yang sudah dimiliki olehnya disentuh oleh orang lain.
"Bisakah kau siapkan air panas untukku?" Ri Han mendorong pelan tubuh Thea, memberikan sedikit jarak. "Aku ingin mandi."
Thea menyeka air mata dan mengangguk. Senyumnya terukir sempurna. "Tentu."
Ri Han mengangguk dan berlalu, melepas jas dan melonggarkan dasi di lehernya. Sampai di sini, ia tidak melihat sebuah kejanggalan dari tingkah sang istri. Kecuali raut yang penuh kekhawatiran dan bekas air mata. Mencuramkan alis, Ri Han tahu Thea menyembunyikan sesuatu darinya. Dan istrinya itu mencoba untuk bersikap senormal mungkin di depannya.
Kau harus menjadi suami yang baik untuknya.
Menghela napas, langkahnya pun terhenti. "Setelah itu, tunggu aku di kamar."
Pipi Thea kini bersemu merah. Anggukan pelan menjawab perintahnya suaminya tercinta.
***
Thea menggigit bibir, cemas. Berkali-kali ia menoleh ke arah pintu kamar mandi, dan berkali-kali ia menghela napas saat ia tidak melihat sosok suaminya muncul dari sana. Jantungnya berdebar kencang. Di sisi lain, ia pun bahagia. Hatinya kini berbunga. Tapi di sisi lainnya lagi, perasaan gugup menyergapnya. Memang keduanya telah menikah, tapi mereka sangat jarang melakukan aktivitas malam layaknya pasangan normal lainnya. Wajar jika Thea masih malu-malu untuk memenuhi kebutuhan Ri Han. Ia belum terbiasa dengan semua itu.
Namun tiba-tiba, ia menyentuh lembut bibirnya. Bibir yang selama ini hanya boleh dijamah oleh suaminya tercinta, hampir saja ternoda. Kedatangan sosok yang telah lama Thea kubur dalam kehidupannya seolah menjadi tombak yang bisa menghancurkan rumah tangganya. Semua itu bukanlah hal yang baik, dan Thea menyadarinya. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menjaga rumah tangganya. Pria itu tiba-tiba muncul dan meminangnya. Sedangkan sekarang, posisi Thea sudah bersanding dengan Ri Han.
Memberi tahu Ri Han sama halnya dengan bunuh diri. Ia tidak ingin terjadi kesalahpahaman diantara dirinya dan sang suami. Namun, membiarkan semua itu berlarut-larut juga bukan hal yang baik. Menggigit bibir bawah, Thea tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia tidak ingin rumah tangganya kacau.
"Thea!"
Tersentak, lamunannya pun buyar. Menoleh, sosok pria berambut kelam sudah ada di sampingnya. Manik tajam menatap heran dari balik helai rambut basah yang menutupi kening pria itu. Thea pun tersenyum canggung saat manik mereka bertemu.
"Ada apa denganmu?" Ri Han mengerutkan kening. Berkali-kali ia memanggil Thea, tapi istrinya sama sekali tidak menanggapi.
Wanita itu menggeleng cepat, menutupi kegelisahannya. "Ti-tidak, a-aku tidak apa-apa."
Manik Ri Han menyipit, dan Thea yakin itu bukan pertanda baik.
"Kalau kau ada masalah, ceritakan saja," ujar Ri Han.
Sedikit yang Thea tahu, sang suami sudah mengetahui semuanya. Sayangnya, pria itu menaruh curiga pada Thea. Ri Han mengira istrinya memang menyelewengkan kepercayaan yang ia berikan.
"Aku benar-benar baik-baik saja," sahut Thea. "Mungkin ... aku terlalu lelah."
Tidak ada balasan lagi dari Ri Han. Pria itu memilih beranjak dan mengeringkan rambutnya. Diam-diam, ia menatap Thea dari pantulan kaca. Maniknya menyipit, menyadari kejanggalan yang ada diantara mereka. Apa kecurigaannya memang benar? Apakah Thea memang berpaling darinya?
Ri Han tidak tahu mengapa tangannya tiba-tiba mengepal erat. Seolah ia memang geram dan sakit hati. Tapi jika dipikir-pikir, ia pun memiliki peran kuat dalam masalah kali ini. Bisa jadi, semua itu memang mutlak kesalahannya.
Ia tidak pernah menganggap Thea. Tidak pernah memikirkan perasaan istrinya. Bahkan memberi kasih sayang dan cinta pun tidak pernah. Jika dilihat dari sudut pandang Thea, berselingkuh bukanlah hal yang bisa disalahkan. Semua itu karena ketidakmampuan sang suami memenuhi kebutuhannya. Tapi apakah kesimpulan seperti itu pantas untuk dibenarkan?
Pria itu juga memiliki alasan khusus untuk tidak menyentuh Thea. Menipiskan bibir, Ri Han tidak bisa melimpahkan kesalahan itu pada istrinya. Faktanya, ia pun salah. Ia tidak bisa melampiaskan amarah begitu saja. Yang ia inginkan hanya satu, yaitu sebuah kejelasan.
"Ri Han, apa kau lelah? Aku bisa memijat bahumu jika kau mau." Thea kembali mengawali percakapan.
Manik tajamnya melirik sekilas. Yang ia lihat hanya senyum lembut istrinya. Senyum yang selama ini mewarnai hari-harinya. Dan Ri Han menyadari, semua kasih yang diberikan Thea padanya memang tulus. Mungkinkah seseorang macam Thea mampu melakukan hal sehina itu?
Berbalik, pria itu menghampiri Thea dan duduk di sampingnya. Beberapa saat kemudian, ia merasakan sentuhan lembut di bahunya.
"Bagaimana pekerjaan di kantor?"
"Baik. Tidak ada hal spesial." Ri Han menjawab datar. Walau begitu, hatinya masih ditelan kegundahan.
"Kau tahu? Aku sangat kesepian. Walau kau memang jarang di rumah, tapi saat tidak ada dirimu ... entah mengapa semua terasa hampa." Perlahan, suara Thea bergetar.
Melirik, manik tajam itu menatap raut Thea yang begitu sendu. Istrinya tidak berandiwara. Pria itu kembali menipiskan bibir. Ia tidak tahan jika harus memendam rasa penasarannya. Ia harus mendapat semua kejelasan dari Thea.
"Thea," tekan Ri Han. "Siapa pria yang mengunjungimu tadi pagi?"
Seketika, Thea membeku. Dari mana Ri Han tahu semua itu?