"Bagianku hanya satu tembakan," protes Hyun Soo.
Ri Han tidak peduli, pria itu memilih untuk fokus pada makanan di depannya. Menganggap ocehan Hyub Soo seperti embusan angin belaka.
"Pokoknya lain kali aku yang akan mengambil peran!" kata Hyun Soo, lagi-lagi tak pernah dianggap Ri Han. "Sunbae-nim kan sudah tua, aku khawatir nanti kau terkena sakit pinggang jika bergerak terlalu—"
Pisau di meja langsung melayang ke leher Hyun Soo. Hampir saja, nadi Hyun Soo berhasil ditebas oleh senior tercinta. Tapi layaknya pria itu masih berbelas kasih. Tepat sebelum pisau menyentuh kulit leher Hyun Soo, Ri Han mengurungkan niat. Membiarkan nyali pria cerewet itu menciut.
"Su-Sunbae-nim, aku hanya bercanda." Hyun Soo tersenyum kecut. Tak menyangka bahwa seniornya sangat sensitif dengan kata "tua".
Sang senior menarik pisaunya. Kembali terfokus pada makanan, tanpa repot mengatakan sesuatu pada rekan kerjanya. Ri Han tipe orang yang hemat bicara. Tidak pernah mengatakan sesuatu jika memang tidak penting. Tentu, hal ini pula yang membuatnya disegani dan tak banyak orang yang berani mendekatinya seenak jidat.
"Kau terlalu berisik," desis Ri Han. Pria itu kembali memasukkan potongan daging ke mulutnya.
"Maafkan aku, Sunbae-nim."
Beberapa menit berikutnya, hanya suara garpu dan pisau yang terdengar. Keduanya sibuk menghabiskan makanan sebelum kembali melanjutkan perjalanan pulang. Sesekali Hyun Soo melirik seniornya, berharap pria itu mematahkan keheningan. Tapi setelah sekian lama menunggu, kode dari Hyun Soo tidak pernah tersampaikan. Seniornya memang benar-benar tidak peka. Pria itu akhirnya menyerah dan melontarkan pembukaan percakapan.
"Sunbae-nim, bagaimana kabar istrimu?"
Hyun Soo sengaja mengambil tema yang sensitif. Sebenarnya, ia pun penasaran dengan keadaan rumah tangga Ri Han. Ia bahkan sangat terkejut ada wanita yang betah tinggal serumah dengan pria bak patung bernyawa macam sang senior. Itu luar biasa.
"Masih hidup."
"Tega sekali." Cengiran Hyun Soo terlihat. "Aku heran mengapa istrimu tidak berselingkuh saja dengan pria lain."
Seketika, Ri Han melirik tajam. "Jaga mulutmu, Hyun Soo."
Hyun Soo mengedikkan bahu. Kesetiaan istri Ri Han benar-benar perlu diacungi jempol. "Kalau kau tidak memberinya kasih sayang bisa jadi kesetiaannya itu luntur seiring berjalannya waktu."
Ri Han terdiam. Pria itu mengalihkan pandangan, seolah tak menginginkan tema pembicaraan yang Hyun Soo pilih. Mau dibahas berapa kali pun, pada akhirnya rekan kerjanya memang hanya berniat memojokkannya. Dan ia tidak menyukai hal itu.
"Kalau begitu, aku hanya harus membunuhnya," Ri Han menjawab datar.
Ia berharap partnernya tercinta bungkam dan tak meneruskan pembicaraan. Tapi dugaannya malah melenceng, karena Hyun Soo malah memperparah pembicaraan. Pria itu tidak setuju dengan cara Ri Han menganggap sang istri sebagai barang yang mudah diambil dan dibuang begitu saja.
"Kau tega? Membunuh istrimu yang setiap hari menunggumu dengan senyum di wajahnya, berharap kau memberinya sedikit kasih sayang, dia bahkan tidak memiliki dosa padamu. Dia berbeda dengan kita maupun orang yang kita bunuh." Hyun Soo menipiskan bibir.
Ri Han terdiam. Tapi dalam hati, ia memikirkan semua kata-kata Hyun Soo. Benar, Thea memang berbeda dengannya juga dengan para sampah yang ia bunuh. Tapi itulah yang membuatnya untuk tidak bertindak lebih jauh. Thea terlalu terang utuknya. Ia tidak ingin menyeret Thea dalam dunianya yang begitu pekat.
"Bukan urusanmu."
"Sunbae-nim," tekan Hyun Soo. "Kau hanya akan menghancurkannya. Apa itu maumu?"
Pria itu memilih bangkit dan berlalu, meninggalkan Hyun Soo yang masih merasa kesal. Walau terlihat santai, tapi kali ini Ri Han memikirkan semua kemungkinan yang bisa saja terjadi. Saat ia menjalin ikatan dengan istrinya, saat itu pula ia bertanggung jawab atas semua yang berkaitan dengan Thea. Ia tidak bercanda saat bibirnya mengatakan akan membunuh Thea. Tapi ia hanya akan melakukan itu saat kondisi memaksa. Jika istrinya tahu identitas aslinya, secara otomatis wanita itu akan terseret dalam lembah kelam yang ia arungi.
Atau paling buruknya, Thea dijadikan target buruan seluruh pembunuh bayaran. Tidak diragukan, sang istri akan menderita jika semua itu terjadi. Maka dari itu, Ri Han lebih memilih untuk membunuhnya agar penderitaan yang istrinya alami mereda. Walau terlihat kejam, tapi pria itu memang tidak mempunyai pilihan lain.
Ri Han juga tidak berani mengambil langkah untuk mendekati wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya. Walau Thea adalah istrinya, ia memilih untuk tetap membekukan hati. Pria itu sadar, cepat atau lambat wanita itu akan menghilang dari hidupnya. Atau mungkin ia yang akan menghilang dari kehidupan Thea. Akan lebih baik jika mereka tetap bertindak seperti tidak mengenal satu sama lain.
Jika sudah ada benih cinta dan kasih sayang, semuanya akan terasa menyakitkan. Jika saat itu tiba, baik Thea atau dirinya, semuanya akan sangat menderita. Karena ia tahu, bagaimana rasanya kehilangan orang yang ia sayangi. Dan ia tidak ingin merasakan itu lagi, ia juga tidak ingin Thea merasakan hal yang sama.
Menipiskan bibir, kakinya kini membimbing masuk ke dalam mobil. Menatap ke depan, seolah mengenang hari lalu yang terlupakan. Sebenarnya, bukan hanya itu yang membuat Ri Han enggan mendekati Thea. Karena sebenarnya, ia adalah orang yang bertanggung jawab atas keadaan Thea sekarang. Tidak banyak yang mengetahuinya. Tapi ia tahu dengan pasti, detik-detik terakhir orangtua Thea.
Ia yang membunuh orangtua Thea.
Ya, ia yang menyebabkan Thea terlunta-lunta dan ditendang dari kediamannya. Ialah orang yang paling berdosa.
Menghela napas, Ri Han memijat pelipisnya. Ia menyesal. Ia menyesal telah membunuh orangtua Thea. Dan ia ingin membalas semua dosanya. Saat melihat Thea menangis di pemakaman orangtuanya, Ri Han seolah melihat dirinya di masa lalu. Ia yang dulu kehilangan orangtuanya, kini merenggut nyawa orangtua Thea.
Ia akan membunuh Thea? Apakah ia pantas mengucapkan semua itu?
Seharusnya yang dibunuh itu dirinya. Bukan orang lain. Seharusnya ia menyerahkan diri pada Thea. Membiarkan sang istri menusuknya hingga tewas, sama seperti apa yang ia lakukan pada mendiang mertuanya. Tapi ia tidak memiliki keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya pada Thea. Ia tidak ingin mengatakannya. Dan ia akan menyimpan semua rahasia itu sampai kapan pun. Ia tidak akan membiarkan wanita itu mengetahuinya.
***
Berdiri di depan cermin, Thea menatap pantulan dirinya sendiri dengan wajah memerah. Tubuh sintalnya berbalut dress mini dengan belahan d**a rendah, membuat lekuk tubuhnya terlihat sempurna. Rambut Thea yang terurai di sisi kiri menambah kesan anggun dan feminim. Tapi entah mengapa Thea tidak nyaman dengan penampilan barunya. Pakaian yang ia kenakan terlalu minim. Dilihat dari sisi mana pun, ia memang terlihat seperti memamerkan tubuhnya.
"Aku yakin suamimu pasti langsung bertekuk lutut! Pokoknya kau harus mencoba! Kau harus optimis!"
Kata-kata Nana mengiang di telinga. Ia sendiri tidak yakin suaminya tertarik dengan hal semacam itu. Tapi Nana mengatakan bahwa ia tidak akan tahu sebelum mencoba. Dan akhirnya ia malah menuruti kata-kata sahabatnya. Menghela napas, Thea menoleh pada jam dinding. Seharusnya Ri Han sudah tiba di rumah, tapi sampai sekarang pria itu belum juga menampakkan batang hidungnya.
"Ri Han lama sekali," bisik Thea.
Ia menyandarkan kepala di sofa. Menunggu adalah hal yang paling membosankan. Membutuhkan kesabaran yang begitu besar untuk melakukannya. Dan layaknya, penantiannya tak berakhir sia-sia. Suara pintu apartemen membuatnya bangkit dengan raut berbinar. Ri Han datang!
Segera, ia bergegas menuju pintu untuk membukanya.
"Selamat datang Ri—"
Wanita itu membeku saat melihat sosok di depannya. Seringai puas seolah merajam keberanian Thea. Ia sangat mengenal pria itu.
Dia ... pria yang membuat mimpi buruknya menjadi nyata!
"Akhirnya aku menemukanmu, Althea."
Saat mendengar desisan itu, kakinya melemas. Mengapa pria itu bisa ada di sini?!
***
Menatap ke depan, kini konsentrasi Ri Han terbelah menjadi dua. Mengemudi sembari mengangkat telepon bukanlah hal yang pantas dilakukan. Tapi ia terpaksa melakukannya hanya karena sang direktur yang cemas dengan keadaannya. Atau lebih tepatnya, menerornya karena ia belum memberi kabar apa pun.
"Maafkan kami, lain kali kami akan memberi informasi status yang lebih jelas."
Sesekali, Ri Han melirik rekan kerjanya yang sibuk mendengarkan musik sembari menggoyangkan tubuh. Dalam hati, ia sangat ingin mengoyak anak buahnya itu sampai tak tersisa.
"Baik. Maafkan kami."
Sambungan terputus, dan sang pria berambut kelam itu pun menghela napas lega. Selanjutnya, mengomel pada Hyun Soo adalah pelepasan amarah yang begitu sempurna. Ri Han menarik kasar headphone di telinga sang partner. Dalam sekali tatap, Hyun Soo pasti mengerti apa yang Ri Han pikirkan. Tentu, bukan hal yang bagus.
"Kau pikir kau siapa bisa bersantai seperti itu?" desis Ri Han. "Kenapa kau tidak bilang kau belum memberi informasi status pada sajang-nim?!"
Ah, dan Hyun Soo baru mengingatnya....
"Ah, iya! Aku belum—"
"Kau sudah telat seribu tahun dan baru menyadarinya?" desisan Ri Han kembali mencekam.
Tarikan Ri Han pada kerah Hyun Soo pun semakin kuat. Hyun Soo yakin, dirinya berada di depan iblis yang siap memangsa. Untuk pertama kalinya, ia berdoa pada Tuhan agar dosanya diampuni. Tapi apa yang kepalanya pikirkan, sangat melenceng dari kenyataan. Ia bernapas lega saat Ri Han melepaskannya.
"Kalau saja aku tidak membutuhkanmu, aku pasti akan mencekikmu sampai mati."
Bibirnya pun merekahkan senyum kecut. Sudah berkali-kali seniornya mengatakan hal seperti itu. Tapi syukurlah, pria berambut kelam itu masih memiliki belas kasih. Sampai saat mereka berbelok di tempat yang tidak semestinya mereka kunjungi. Hyun Soo pun mengernyit.
"Sunbae-nim, apa yang—"
"Aku ingin mampir sebentar," ujar Ri Han sembari melepas sabuk pengaman. "Ada sesuatu yang ingin aku beli."
Hyun Soo hanya mengangguk sebelum mengikuti Ri Han. Sejujurnya, Ri Han tidak terbiasa berada di tempat ramai seperti pusat perbelanjaan. Tapi entah mengapa hatinya menggerakkannya untuk masuk ke sana. Ia ingin membeli sesuatu untuk istrinya. Baju? Perhiasan? Apa lagi yang cocok untuk para wanita?
Pria itu menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi belum menemukan sesuatu yang menarik. Hyun Soo yang terlalu peka, mengerti gelagat Rin Han. ia pun tersenyum penuh makna.
"Sunbae, kalau kau bingung ingin memberikan oleh-oleh apa untuk istrimu, aku punya rekomendasi yang sangat bagus." Hyun Soo mengedipkan sebelah mata.
Tentu saja, Ri Han tahu apa yang ada dalam otak Hyun Soo. Pasti hanya akal-akalan untuk menjahilinya.
"Aku sedang tidak mau bercanda." Ri Han menepis tawaran anak buahnya dan kembali melangkah. Tapi Hyun Soo kembali menariknya.
"Ayolah, Sunbae-nim. Aku hanya ingin membantumu," sahut Hyun Soo sembari merangkul Ri Han. "Bukankah kau tidak mengerti apa pun tentang wanita?"
Ri Han menyipitkan mata, menelisik Hyun Soo. Terkutuklah partner kerjanya yang terlalu peka. Jauh dalam hati Ri Han, ia sangat ingin mencincang mulut kurang ajar Hyun Soo. Sialnya lagi, yang dikatakan Hyun Soo itu memang sangat benar. Ia tidak tahu apa pun tentang wanita. Bahkan walau wanita itu adalah istrinya sendiri, Althea.
Helaan napas terdengar. "Aku akan menerimanya jika kau memang serius membantuku."
Hyun Soo terkekeh sebelum menepuk bahu Ri Han. "Serahkan saja padaku, Sunbae-nim! Walau begini-begini, aku sangat berpengalaman dengan wanita."
Tentu saja. Ri Han juga tahu Hyun Soo sering mengencani lebih dari satu gadis sekaligus. Dan menurutnya, itu sangat menjijikkan. Berbeda dengan dirinya, walau ia memang tidak mencintai Thea, tapi ia tidak pernah sekali pun melirik wanita lain.
Tak mau menyia-nyiakan waktu, mereka akhirnya beranjak dari tempat asal. Melihat-lihat beberapa toko pakaian dan perhiasan yang mereka jumpa. Tapi tak ada satu pun yang bisa menarik perhatian Ri Han.
"Bagaimana kalau gaun?"
Ri Han terdiam sejenak, memikirkan apakah itu cocok untuk Thea. Tapi pada akhirnya pria itu tetap menggeleng.
"Thea tidak pernah menghadiri acara apa pun, percuma membelikannya gaun. Aku ingin sesuatu yang lebih berguna." Ri Han kembali beranjak.
"Perhiasan? Sepatu? Tas? Bukankah itu juga disukai wanita?"
Memang kebanyakan wanita menyukai hal semacam itu. Tapi yang mereka bicarakan sekarang adalah Thea. Dan Ri Han tahu persis Thea bukan tipe perempuan yang suka dengan barang-barang yang tidak terlalu wah semacam tas atau perhiasan. Walaupun ia membelikan semua itu, sepertinya barang-barang itu hanya akan berakhir menjadi sarang laba-laba di lemari.
"Sudah aku bilang Thea tidak suka keluar rumah," tegas Ri Han. "Yang dia lakukan hanya mengurus rumah. Bersih-bersih, merapikan rumah, memasak, dan—"
Sang senior tiba-tiba terdiam, tak meneruskan kata-kata. Helaan napas terdengar sebelum manik tajamnya menatap Hyun Soo. Sepertinya, pria itu sudah memiliki jawaban atas kegundahannya.
"Aku rasa, aku tahu sesuatu yang cocok untuknya."
***
Akhirnya Ri Han bisa menghela napas lega. Hyun Soo telah menyingkir dari pandangannya. Selama perjalanan, sang rekan kerja selalu memprotesnya hanya karena tidak cocok dengan hadiah yang dibeli Ri Han untuk Thea. Sepanjang jalan, pria itu mengoceh hingga telinga Ri Han memanas.
Kesabaran Ri Han habis dan menendang Hyun Soo di tengah jalan. Persetan ia bisa kembali lagi atau tidak. Ia sudah terlalu kesal dengan ocehan Hyun Soo yang sangat tidak berguna.
Tidak memerlukan waktu yang lama, mobilnya kini sudah terparkir di depan apartemen. Ia terlambat dua jam karena perselisihannya dengan Hyun Soo. Ri Han berharap istrinya tidak terlalu memusingkan semua itu. Selama Ri Han bertugas, Thea selalu saja mengirim pesan singkat atau menelponnya. Mengingatkan sang suami tercinta untuk makan tepat waktu dan istirahat dengan cukup. Walau kadang ia risih karena perhatian sang istri yang berlebihan, tapi Ri Han juga tidak bisa mengabaikan Thea begitu saja. Mungkin kali ini ia harus mencoba membalas kebaikan istrinya.
Lebih cepat ia sampai lebih baik. Ri Han mempercepat langkahnya menuju ke apartemen. Tapi saat ia hampir sampai, ia menghentikan langkah. Ia melihat istrinya ada di depan apartemen mereka bersama seorang pria. Menautkan bibir, dan b******u ria. Ri Han masih ada di ujung koridor. Menatap kedua insan yang kini bermesraan. Walau Ri Han tidak melihatnya dari dekat, Ri Han yakin bahwa wanita itu adalah istrinya, Thea.
"Aku heran mengapa istrimu tidak berselingkuh saja dengan pria lain."
Tiba-tiba kata-kata Hyun Soo mengiang. Seketika itu, Ri Han mencuramkan alis.
"Althea...."