Sudah larut malam Dandi masih betah di ruang penyiksaan itu. Mungkin dia ingin mengintrogasinya habis-habisan. Aku tidak mau tahu, aku tidur di kamar. Tahu-tahu esok harinya kulihat Dandi sudah ada diranjang bersamaku. Balik selimut, dalam keadaan telanjang. Begitu aku hendak turun ranjang, dia membuka mata. “Sayang, pagi. Mimpi indah?” Aku tersenyum menggodanya. “Tidak. Bentuk kapakmu yang menancap di perut orang masih terngiang di kepalaku.” Mendadak dia menarik rambutku dengan kasar, mendekatkan jarak antara wajah kami. Meskipun dalam keadaan setengah terpejam, dia bisa menunjukkan kesadisannya. Lalu berbisik padaku, “dia bilang sangat mengenalmu, dia sangat merindukanmu, Sayang.” Marah? Masih cemburu? Sekalipun Fino sudah pasti mati? Aku menindih tubuh Dandi, lalu kuraba wajahnya

