Beberapa hari aku menikmati waktu berdua dengan Dandi. Tidak ada kendala apapun, tidak permainan lagi atau kegiatan gore lain. Dia bekerja dan phlang tepat waktu, aku pun kuliah rutin tanpa gangguan, kecuali dari salah satu dosenku, Pak Doni, pria lajang itu— yang pernah berkata 'ingin mengobrol denganku'. Aku tidak salah paham, waktu itu dia serius mengatakannya, sedang menyembunyikan sesuatu. Saat aku berjalan pulang, orang ini menghampiriku lagi, lalu menyapaku lagi, pasti kali ini serius. “Kamu ada waktu sore ini?” tanyanya terdengar pelan, tentu saja, kami harus menjaga sikap di area kampus. “Aku ingin membahas kekasihmu.” Aku tidak tahu maksudnya. Dandi di kampus tidak pernah dikenali sebagai anggota keluarga Hardana. Aku jadi bertanya balik, “untuk apa? Mengapa?” “Kalau ada wak

