Pria bertopeng kelinci ini masih berjalan di belakangku. Entah mengapa satu detik dengannya terasa sangat berbahaya. Bukan maksudku dia lebih bahaya ketimbang Dandi. Hanya saja bahaya yang kumaksud adalah orang merepotkan. Dia sebentar lagi akan merepotkanku. Aku tidak suka dibius, dipukul, disekap dan hal-hal yang membuat tubuhku sakit sekalipun hanya kulit yang tergores. Jika dia berpikir aku sedang merelakan diriku untuk ditusuk dari belakang, maka dia salah. Walaupun pandanganku lurus ke koridor, namun aku bisa merasakan kalau bulu tengkukkh berdiri. Maka artinya aku harus segera mempercepat langkahku. Aku mulai berlari. Ternyata dugaan kuat benar dia mengejarku dengan membawa pisau juga. "Nona, tolong jangan kelabui pengawal Tuan sekali lagi," ucapnya dengan nada suara dingin. Dia

