Labirin ini tampak sangat terawat, semua daun terpangkas rapi membentuk tembok-tembok hijau. Aku beberapa kali menyentuhnya, entah apa nama tanamannya. Awalnya kukira bisa merusak ranting-ranting ini, tapi ternyata ini beneran tembok yang diselimuti tanaman merambat. Pantas saja Dandi menyebutnya penjara. Mendadak Dandi menegurku, "Sayang, kamu ngapain? Memeriksa apa?" Aku berjalan mengikutinya lagi, "Tidak apa-apa, hanya penasaran." "Ayolah, kamu lama sekali kalau jalan. Bahaya loh, itu akan membuatmu cepat tertangkap." "Aku lebih suka tidur saja ketimbang berada disini." Dia malah tertawa melihatku. Bahkan menyempatkan diri untuk mencubit pipiku sedikit kasar, lalu mengatakan, "Sayang, aku sangat menyukai sifatmu yang seperti mayat ini. Oh~ kamu ini seperti tidak bernyawa loh.. lang

