Kepalaku pusing, napasku terasa berat, tubuhku lemah. Dandi membuatku merasakan hal yang sangat kubenci. Biasanya aku bisa lolos dari obat bius, tapi entah mengapa yang kucium tadi sangat kuat pengaruhnya. Aku sangat ingin membunuh orang yang membekapku. Ketika aku membuka mata, aku menyadari bahwa aku sedang berada di kamar kami seperti kemarin. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul tiga sore. Aku sudah pingsan sekitar lima jam mungkin. Kepalaku masih sakit, rasanya linglung, tapi aku tidak suka hanya berbaring, sementara ada seseorang yang duduk di sebelahku sambil mengelus dahiku. Dandi. Dia menyunggingkan senyuman kecil padaku sambil bertanya, "Syukurlah kamu sudah bangun, Sayang. Kita bisa bermain sebentar lagi." Aku membalikkan badan sebagai bentuk rasa tidak sukaku. Rasanya aku

