Setelah pulang ke apartemen Dandi dengan menggunakan taksi, aku mengunci diri di dalam kamar, lalu merebahkan diri di atas ranjang sambil mendengarkan musik. Hanya diam sampai sore. Diam saja, belum ada rencana untuk membunuh orang. Lagipula aku ini tidak terlalu suka memikirkan hal berat. Aku tahu wanita itu kemungkinan besar akan mati— aku paham kinerja otak Dandi, tapi kenapa ya aneh sekali? Pacarku seperti menganggap wanita itu istimewa— Siska sang pemakai baju putih kesukaannya? Dia sengaja melepaskannya karena terpesona? Kalau diingat-ingat, romantis sekali pertemuan mereka. Dandi tidak berniat membunuhnya saat itu. Aku mendadak tidak tahu apa yang akan terjadi. Sialan. Kalau dia hanya berniat mempermainkannya bagaimana? bagaimana denganku? dia akan menghabiskan waktu dengan ora

