elama beberapa hari aku dilatih berdansa romantis oleh Dandi di ruang tengah. Sebuah tarian konyol yang biasa dilakukan di pesta pernikahan. Gerakannya sangat sederhana tapi mengikuti iramanya cukup sulit. Seperti yang sering kulihat di televisi, ternyata lebih sulit dari yang kuperkirankan. Berkali-kali kakiku menginjak kakinya. Semuanya terus terjadi sampai pacarku itu heran dengan kemampuan belajarku yang lambat. Dia bercerita kalau dulu sering diadakan pesta dansa di rumah. Alasannya karena kebanyakan kenalan orangtuanya berasal dari luar negeri. Lagipula aku baru tahu kalau neneknya itu berasal dari Inggris. Jadi budaya barat lebih dia kenal. "Bisakah kita pelan-pelan saja, Om Dandi?" aku menggodanya agar kami beristirahat sejenak. Kakiku lelah dan ini sangat membosankan. Dia malah

