Dandi menjemputku dari tempat kejadian perkara ini. Dia tidak bicara apapun. Awalnya kukira karena aku berbuat tidak sesuai dengan keinginannya. Namun ternyata dia marah karena aku keluar malam-malam dan berakhir penuh darah. Aku juga benci darah sebenarnya. Mau bagaimana lagi, aku tidak bisa menahannya lagi. Enak saja mereka berdua berencana menghabiskan waktu bersama. Aku tidak peduli sekalipun itu waktu penyiksaan dan pembunuhan, aku tidak peduli. Dandi itu milikku, jadi dia harus menghabiskan waktu denganku. Hari berganti... Hari ini penuh dengan berita kebakaran di kostan itu. Semua koran, saluran televisi kompak membahasnya berulang kali. Mereka bilang korbannya satu orang yaitu Veronica, mahasiswi universitasku. Oh, begitu cara orang Dandi menyelesaikan masalah. Mereka menghanc

