Abai

875 Kata
Memegang jabatan sebagai manager pemasaran di bawah kepemimpinan Alin, seringkali membuat Zeya frustrasi. Alin seolah ingin menjadi mak comblang hubungan Zeya dan Andrew. Seperti saat meeting siang ini..... "Kita makan siang di luar yuk," Ujar Alin berdiri di depan meja kerja Zeya. Di perusahaan Maxima, hanya petinggi perusahaan yang mempunyai ruang kerja terpisah dengan pekerja lain. Sementara jabatan manager tidak membuat Zeya berbeda perihal ruangan. Zeya setara dengan staf biasa. Perbedaan mereka hanya bisa terlihat dari fasilitas dan gaji yang didapat antara manager dengan staf. Beberapa pasang telinga tengah menguping pembicaraan Alin dan Zeya. "Saya belum lapar, Bu." Tentu saja Zeya menolak ajakan Alin. Mungkin gosip akan semakin berhembus bila Zeya terlihat makin akrab dengan Alin. Bila menghindari Andrew masih cukup mudah untuk Zeya, menghindari Alin tidaklah mudah. Andrew jarang berada di kantor Maxima sedangkan Alin selalu berada di kantor. Membuat Zeya tidak bisa bersikap abai seperti yang Zeya perbuat sepekan terakhir pada Andrew. "Ayolah. Temani Alin makan siang bersama. Kak Zeya masa tega melihat Alin makan siang sendirian di kantin," Rengek Alin. Umur Alin sudah cukup dewasa di usia dua puluh dua tahun. Namun terkadang sikap Alin masih seperti bocah yang dikenal Zeya sepuluh tahun silam. Kekanakan. "Saya sungkan ditraktir makan setiap makan siang bersama Ibu Alin," Zeya masih mencari alasan logis menolak permintaan Alin. Beberapa orang yang bekerja di ruangan yang sama dengan Zeya tahu bahwa Zeya masuk ke perusahaan atas koneksi keluarga Park. Jadi mereka memaklumi sikap akrab yang diperlihatkan Zeya dan Alin. "Habis makan siang nanti kita akan berkumpul untuk meeting bersama dengan para petinggi perusahaan," Ucap Alin membocorkan agenda dadakan yang dibuat Andrew. Bahkan Andrew tega menyeret Dirga dan Koscky ikut meeting dadakan siang ini. Dan lucunya, baik Dirga dan Koscky menyetujui begitu saja keinginan Andrew, adik sepupu mereka. Alin sempat heran dengan isi pesan singkat yang dikirimkan Andrew ke nomor ponselnya. "Pastikan Zeya-ku ikut makan siang denganmu di kantin hari ini. Aku akan memberikanmu tas branded keluaran terbaru jika kamu sukses mengajak Zeya. Setelah makan siang, kumpulkan semua staf pemasaran untuk rapat." Begitu saja isi pesan yang Alin terima. "Baiklah. Tunggu sebentar," Zeya mengambil kartu tanda pengenal pekerja lalu memasukkan kartu dan dompet mini ke saku rok hitam sepanjang lutut yang siang ini Zeya kenakan. "Tidak perlu merias diri ?" Canda Alin. Zeya mengibaskan rambut sepunggungnya ke arah belakang lalu menggeleng. "Kita hanya akan makan siang bersama kan? Kecuali kalau saya hendak menemui kekasih saya. Mungkin saya akan merias diri saat ini," ujar Zeya dengan tersenyum manis. #Masuk akal juga ucapan Kak Zeya# Pikir Alin. Alin mengamit lengan Zeya dan menghela Zeya untuk berjalan pergi. Setelah tubuh Zeya dan Alin menghilang di dalam kotak besi, para karyawan mulai bergosip ria. "Tuh kan, Zeya pasti simpanan Pak Andrew," Ujar Tantri pada rekan kerja yang menempati meja sebelah. "Hush... jangan asal tuduh kamu. Kamu kira semua wanita yang hamil diluar nikah itu wanita nakal," Tegur Lina. Tantri berdecak tak suka dengan bantahan Lina. "Kamu lihat saja kalau tidak percaya. Pak Andrew itu terlihat sekali tergila-gila pada Zeya," Ujar Tantri terlihat yakin. "Itu namanya BUCIN. Bukan berarti Zeya itu simpanan Pak Andrew. Lagipula Pak Andrew itu masih single. Tidak ada masalah jika mereka berkencan sekalipun. Kamu pasti iri kan?" Ledek Lina. Tantri mengerucutkan bibirnya terlihat kesal. Akhirnya Lina pun berhenti mengejek Tantri. "Zefanya memang cocok bersanding dengan Pak Andrew. Terlihat berkelas," Celutuk Bima. Tantri yang naksir Bima pun semakin kesal mendengar kalimat pujian yang Bima berikan untuk Zeya. "Eh, cowok kok ikut ngegosip," Ucap Lina. Bima jadi salah tingkah ketika Lina menegurnya. Bima pun kembali menekuni pekerjaannya walaupun kini mereka semua seharusnya sudah berada di kantin. Sayang sekali mereka tidak berada di kantin saat ini karena di kantin sedang ada pertunjukkan menarik. &√&√& Mana Zeya sangka bila dia akan dijebak oleh Alin. Alin mempertemukan Zeya dengan para petinggi perusahaan. Entah apa maksud dan tujuan Alin melakukan hal konyol ini. "Bersikap wajar saja Kak Zeya. Kak Andrew tidak akan menerkam di tempat seterbuka ini. Tapi melihat tatapan mata penuh cinta dari bola matanya, Alin yakin bahwa Kak Andrew sudah tidak sabar menunggu kehadiran kita," Ucap Alin berjalan di sisi Zeya. Zeya mengabaikan ucapan Alin karena Zeya sedang memikirkan cara untuk kabur dari pertemuan siang ini. "Eits...jangan kabur ya. Dirga dan Koscky bukan pria yang sabar bila diabaikan oleh Kak Zeya. Ayo kita temui para pria itu," Ucap Alin mengamit lengan Zeya lebih erat. Mau tak mau, suka tak suka, Zeya harus ikut kemauan Alin. Bagaimanapun, Zeya hanyalah pekerja yang menerima upah. Andrew bangkit berdiri dari kursi plastik yang sedari tadi dia duduki saat melihat kedatangan Alin dan Zeya dalam beberapa langkah lagi tiba di meja makan mereka. Dirga dan Koscky menahan tawa saat Andrew menarik kursi untuk Zeya. "Selamat siang Zeya, duduk di sini," Ucap Andrew menunjuk kursi yang dia sudah tarik sebelum Zeya tiba di meja makan. Zeya mengangguk sopan pada Dirga dan Koscky. Zeya pun menjawab singkat sapaan Andrew, "Siang Pak". Namun sangat disayangkan, Zeya malah menarik sendiri kursi untuk dia duduki. Kursi kosong di sebelah Dirga. Wajah Andrew terlihat kaget bercampur terkejut, membuat Alin menahan diri untuk tidak meluapkan tawa membahana di muka umum. Demikian juga yang Dicky dan Koscky lakukan. Mereka berusaha bersikap normal melihat penolakan yang diterima oleh Andrew. "So amazing," Bisik Dirga di dekat telinga Koscky. &√&√&
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN