Ketahuan

1031 Kata
Menikmati siang hari dengan bercakap bersama anak kecil, tentu saja tidak pernah Andrew alami sebelumnya. Sebagai anak sulung dari dua bersaudara, Andrew merasa cukup nyaman bersama anak-anak. "Om Andrew mau ikut Anze jalan-jalan ke mall?" Tanya Anze dengan wajah bersemangat. Anze yang lugu tidak menyadari niat tersembunyi Andrew yang memang "ingin ikut" ke manapun Anze dan Zeya pergi. "Kamu mau jalan-jalan sama Mama Zeya?" Tanya Andrew berpura-pura tidak tahu apa pun. Akting Andrew yang menyakinkan serta kepolosan anak seusia Anze, membuat Anze tentu saja bersikap jujur. Anze yang tengah berdiri di samping Andrew, menceritakan secara jujur mengenai rencana Anze hari ini. Andrew berdiri diam di depan mobil, dengan tubuh bersandar pada bamper mobil, bersedekap, mendengar dengan tekun setiap patah kata yang diucapkan Anze. @)@)@ "Len, aku susulin Anze dulu ya di taman," Ucap Zeya, bangkit berdiri dari kursi makan. "Hush...udah sana cariin anak lelakimu. Kami mau bermesraan dulu," Kiki sengaja mendorong pinggul Zeya Lenna tersenyum kecil melihat wajah cemberut Zeya. "Udah Ki. Jangan digituin Zeya-nya," Ucap Lenna menegur tingkah kekanakan suaminya. Mereka bertiga sudah saling mengenal berpuluh tahun silam. Segala sifat tabiat dari mereka masing-masing tentu mereka sudah paham. Zeya yang selalu bersikap bijak, memilih untuk tidak menanggapi candaan Kiki dengan amarah. Zeya melangkah pergi keluar rumah. Ekor mata Zeya menangkap siluet tubuh anak lelakinya, Anze. Nampak Anze tengah bercakap dengan pria aneh di depan pagar rumah. Takut anaknya menjadi salah satu korban dari para penjahat, Zeya berlari menghampiri Anze. Setelah berada cukup dekat, Zeya menarik bahu Anze agar tubuh Anze berada didekatnya. Anze yang terkejut dengan tindakan Zeya, memekik ngeri, "Aw". Andrew yang ingin memarahi orang yang bersikap kasar pada anak kecil di depan matanya, urung melakukan niatnya. Andrew malah menundukkan wajah sambil menurunkan topi untuk menutupi wajahnya agar tidak dikenali Zeya. #Kenapa Zeya terlihat makin cantik dimataku# rutuk Andrew dalam hatinya. Walaupun dalam posisi menunduk, Andrew masih sempat mencuri lihat bentuk tubuh Zeya yang nyatanya masih terlihat sangat menarik. "Mama..." Anze menoleh ke arah si penarik bahunya. Zeya hanya memberikan tatapan tajam menegur atas tindakan putranya. Berharap Anze paham dengan rasa kesal Zeya. Anze mendongak dan matanya melihat mata dengan tatapan tajam dari Zeya yang mengisyaratkan teguran. Anze merasa harus menjelaskan pada mamanya bahwa dia tidak melakukan kesalahan. "Ini teman baru Anze, Ma." Anze menunjuk ke arah Andrew. Kening Zeya berkerut saat menyadari bahwa sosok pria asing yang tadi berbincang dengan anaknya masih berdiri diam tak bergeming di tempat. #Postur tubuh pria ini sepertinya tak asing. Jangan-jangan dia adalah Andrew Park# Pikir Zeya. "Andrew..." sapa Zeya dengan suara bergetar. Tubuh Andrew tersentak mundur merespons panggilan Zeya. "Ternyata ucapan Om Andrew benar. Mama dan Om Andrew memang teman," Anze bertepuk tangan dengan melompat riang. Merasa sudah kepalang basah, Andrew membuka penyamarannya. Dia mencopot topi hitam dari atas kepalanya lalu mencopot kacamata hitamnya juga. Dia mengangkat wajahnya dan tatapan matanya akhirnya melihat wajah Zeya secara lebih dekat dari sebelumnya. "Halo Zeya," Ucap Andrew dengan senyum lebar. Tidak berniat sama sekali membalas sapaan Andrew, Zeya malah mendelikkan mata sambil berdecak tanda tidak senang dengan keberadaan Andrew. #Sabar Ndrew, yang penting Zeya tidak mengusirmu secara langsung# Hibur Andrew pada dirinya sendiri. $)$)$ Anze menggoyang lengan Mama Zeya karena sang mama hanya diam tak membalas sapaan teman barunya. "Ma, Om Andrew boleh ikut kita jalan-jalan ke mall, bukan?" Tanya Anze yang tidak menyadari situasi tegang di sekitarnya. Zeya merutuki sikap polos Anze hingga ramah terhadap pria sejahat Andrew. "Hush push," Ucap Zeya dengan suara pelan. Telinga Andrew masih bisa menangkap ucapan pelan Zeya. Wanita-nya masih ingat kode rahasia mereka. Pikiran Andrew melayang ke masa lalu. $:@:$ Malam itu Andrew kembali pulang larut karena habis menghadiri party di salah satu rumah teman kuliahnya. Saat ini sudah hampir tengah malam, Anna, kekasihnya memilih menginap di rumah teman kuliahnya. Sedangkan Andrew memilih untuk tetap pulang ke apartemennya. Andrew tetap kembali ke apartemennya karena tidak ingin membiarkan teman baiknya menunggu lama di flat apartemennya. Andrew menempelkan kartu di pintu lalu terdengarlah bunyi bip pip sebanyak dua kali. Seketika ruangan apartemennya terlihat terang benderang. "Hush Push...." Ucap Andrew memanggil wanita teman baiknya. Wanita yang menjadi seniornya di kampus. Wanita yang ramah dan penyendiri. Wanita yang rajin dan menjadi temannya selama setahun terakhir. Wanita yang mungkin kelak akan menjadi kakak iparnya. Andrew menemukkan Zeya tengah tertidur pulas di atas sofa. Andrew menghampiri Zeya yang terbaring di atas sofa. Memandangi wajah cantik Zeya. Lalu mengulurkan jemari tangannya, mengelus rambut Zeya. #Kamu pasti sudah lelah menungguku pulang# Bisik Andrew di dekat telinga Zeya. Ingin rasanya Andrew menjadikan Zeya lebih dari sekadar teman baik, namun Anna bisa tersakiti oleh sikapnya. Anna yang mengutarakan perasaannya secara gamblang dan Andrew yang menyukai Anna yang ceria dan manis. #Andai aku bisa menyerahkan hatiku untukmu, Push# batin Andrew $)$)$ Zeya sudah memanggil nama Andrew sebanyak tiga kali tapi pria itu malah tidak fokus seperti pikiran mengawang entah memikirkan apa. Anze pun bingung dengan wajah bengong Om Andrew yang tidak membalas sapaan Mama Zeya. "Ma, apa Om Andrew kerasukan?" Bisik Anze berjinjit agar Zeya mendengar suaranya. Zeya pun bingung dengan sikap diam dan wajah bengong Andrew. "Coba kamu injak kakinya," Zeya menunduk untuk berbisik di salah satu telinga Anze. Menuruti ucapan Mama Zeya, Anze menginjak kaki Andrew yang siang hari ini hanya memakai sandal jepit. "Aduh," Andrew mengadu tapi pikirannya kembali fokus. Mendengar suara rintihan Andrew, Anze meminta maaf atas tingkah lakunya. "Maafin aku ya Om. Anze tidak ada maksud jahatin Om." Melihat wajah sendu Anze saat meminta maaf, membuat Andrew merasa iba. Dia tidak marah pada Anze hanya terkejut saja diinjak oleh kaki mungil Anze. "Om tidak marah sama Anze. Tadi memang Om nggak dengar panggilan kamu, Zeya. Maafkan Om ya." Sungguh Andrew tidak bermaksud mengabaikan kehadiran Zeya dan Anze. Cuma pikirannya sempat melalang kembali ke masa lalu. Dia tidak ingin Zeya salah paham dan merasa diabaikan jadi Andrew mengucapkan penyesalannya. "Kamu baik-baik saja?" suara Zeya terdengar khawatir di pendengaran Andrew. Atau hanya ilusi semata karena Andrew merindukan perhatian Zeya. Andrew menggeleng lalu mengangguk. Dahi Zeya berkerut heran tidak mengerti maksud yang hendak Andrew sampaikan. Belum sempat dia bertanya, Lenna memanggil namanya. Zeya berbalik dan berjalan pergi tanpa pamit pada Andrew. Ditariknya tangan Anze agar mengikutinya. Anze melambaikan tangan pada Andrew. Andrew membalas lambaian tangan Anze. -----
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN